Page

12 Juli 2011

Sidang Skripsi dan Curahan Hati

Hari ini seharusnya menjadi hari yang menegangkan bagi saya. Tetapi, sayangnya malah saya harus duduk manis di depan komputer dan blogging. *lho, apa coba ya... Namun, emang benar kok. Hari ini adalah hari yang menentukan bagi sejumlah mahasiswa S1 Psikologi untuk lulus menjadi seorang Sarjana Psikologi. Yah, bisa Anda tebak sendiri. Hari ini, dan sampai minggu depan, adalah sidang skripsi. Sayangnya, saya tidak menjadi bagian dalam persidangan tersebut. Berarti, saya mesti melanjutkan kehidupan perkuliahan di semester esok.

Sidang, selalu menjadi kata-kata yang tidak mengenakkan. Semua orang tidak mau disidang, sama halnya Prita Mulyasari yang kalah di persidangan dan harus menerima hukuman penjara 6 bulan, akibat kasus pencemaran nama baik. *kenapa jadi ngomongin Prita Mulyasari? Tetapi, khusus untuk sidang skripsi, suka atau pun tidak, bagi seorang mahasiswa adalah tuntutan yang mesti dilewati. Jika kalah dalam persidangan, emang tidak sampai masuk penjara, palingan sakit hati karena mesti mengangsur biaya kuliah lagi, dan kembali memelototi tumpukan jurnal...

Mengapa saya sampai tidak bisa ikut sidang skripsi bulan ini? Jawabannya, karena saya orang yang perfeksionis, mengerjakan sesuatu teramat perfek, supaya hasil skripsi saya perfek, saya melanjutkan kembali mengerjakan skripsi di semester berikut. Haha. Tentu saja, ini hanya sebuah rasionalisasi. Alasannya, lebih rumit dari itu. Saya pun masih suka bertanya-tanya, "Kenapa saya bisa sampai terlambat menyelesaikan skripsi?" Kenapa begini, kenapa begitu... Banyak kata kenapa muncul, dan saya bingung pula menjawabnya.

Saya jadi teringat dengan ucapan Fabio Capello, pelatih timnas Inggris di Piala Dunia 2010. Ketika itu, timnas Inggris agak terseok-seok di babak penyisihan, nyaris tidak dapat lolos ke putaran berikutnya. Ketika lolos ke putaran berikutnya, Inggris kalah telak melawan timnas Jerman. Don Fabio lalu mengomentari permainan timnas Inggris, "Saya tidak mengharapkan hasil yang terbaik, tetapi juga tidak mengharapkan hasilnya akan menjadi seburuk ini." Jika disangkut-pautkan dengan skripsi , maka saya pun juga ingin mengatakan hal yang sama dengan Anda, Don... "Saya tidak mengharapkan skripsi saya akan mendapatkan nilai A, tetapi saya juga tidak berharap skripsi saya harus tertunda untuk disidangkan."

Meskipun saya sudah mencoba mengikhlaskan (masalah itu), saya juga masih suka bertanya-tanya, kenapa masa depan (skripsi) saya harus mengecewakan seperti ini? Jujur, saya tidak sedih, karena saya tahu apa yang saya alami bukan serta-merta adalah kesalahan saya secara pribadi. Tetapi, sebagai orang biasa, saya merasa sedikit kecewa akan hal ini.

Well, saya memang tidak pernah menyangka jika saya akan mengalami hal seperti ini. Saya biasanya (meskipun tidak selalu) mengerjakan tugas kuliah dengan tepat waktu, tetapi kali ini saja, saya tidak berhasil. Masa depan saya... mengapa harus begini? Lalu, saya membuat sebuah simpulan tersendiri, mungkin masa depan itu adalah urusan Tuhan, sedangkan urusan manusia adalah di masa kini.

Kemarin, ketika Debbie, teman saya, bertanya "Sidang (hari) kapan? Pengujinya siapa?" Lalu, saya menjawab, "Gue gak sidang Juli ini. Haha" Dan Debbie membalas lagi, "Ooo. Jangan putus asa, Fren. Semua indah pada waktunya... Semoga sukses ya."

Indah pada waktunya? Ya, saya percaya bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya, meskipun saya tidak tahu pasti, kapan keindahan itu terjadi? Seperti yang saya sudah tuliskan sebelumnya, masa depan mungkin bukan urusan saya, itu urusan Tuhan; urusan saya adalah urusan masa kini, mengerjakan apa yang saya nikmati.

Terima kasih untuk virus optimisnya Debbie, dan selamat menjalani persidangan untuk teman-teman saya. Semoga lancar dan berjalan dengan sukses.

30 Mei 2011

Politik dan Kekuasaan

Berita olahraga sekarang santer memberitakan kisruh di tubuh PSSI, badan sepakbola tertinggi di negara kita. Kisruh bermula dari ketidakpuasan pencinta sepakbola terhadap era kepemimpinan Nurdin Halid (NH). Delapan tahun NH menjabat sebagai ketua PSSI (2003-2011) tidak menghasilkan sebiji prestasi untuk sepakbola kita. Hebatnya, NH pernah memimpin PSSI dibalik terali besi akibat kasus dugaan korupsi. Lebih hebatnya lagi, NH masih getol mencalonkan diri sebagai ketua PSSI berikutnya. Entah di mana rasa malunya? Tak ayal, para pecinta sepakbola tanah air berdemo menyuarakan reformasi PSSI, dengan mengusung nama George Toisutta (GT) dan Arifin Panigoro (AP) sebagai calon ketua dan wakil ketua. Belakangan, kisruh semakin memanas, meski FIFA sudah mengintervensi PSSI. Kisruh yang terjadi sekarang dikarenakan GT dan AP tidak diperbolehkan oleh FIFA menjadi calon ketua dan wakil ketua PSSI. Pada awalnya, kelompok simpatisan GT dan AP sangat mendambakan intervensi FIFA untuk menyelesaikan carut-marut sepakbola kita, tetapi sekarang malah berbalik menggugat FIFA. Pada awalnya juga, banyak kalangan memuja-muji GT dan AP, namun kini mulai banyak juga yang menghujat mereka, menilai mereka sebagai sosok ambisius, tak jauh beda dengan NH dan kroninya.

Saya hanya sebagai spectator dalam kasus PSSI. Saya tak punya pengetahuan memadai untuk menilai siapa yang salah dan siapa yang benar. Tetapi, satu hal yang saya ketahui adalah manusia memiliki motif untuk berkuasa. GT, AP, atau pun NH adalah cerminan dari motif manusia untuk berkuasa. David McClelland, seorang psikolog Amerika sudah memasukkan kekuasaan sebagai salah satu dari tiga kebutuhan manusia, yang dikenal sebagai need to power, selain kebutuhan berprestasi (need of achievement) dan kebutuhan berafiliasi (need of affiliation).

Untuk mencapai kekuasaan, tidak jarang manusia menghalalkan segala cara. Maka, istilah omnivora yang melekat pada manusia, adalah benar adanya. Manusia memang omnivora, pemakan segalanya, termasuk ”makan” sesamanya. Thomas Hobbes mengatakan bahwa manusia itu seperti serigala yang menyerang sesamanya. Istilah ini dikenal sebagai homo homini lupus est.

Serang-menyerang, perang-berperang terlihat sudah jadi hakikat manusia. Ketika manusia masih hidup di dalam kesukuan, perang antarmanusia sudah bukan sesuatu yang asing. Tak heran Freud memasukkan agresi sebagai salah satu dorongan primitif manusia, selain seks.

Ketika terjadi perang, minimal akan ada dua kelompok yang saling bertempur memperebutkan kekuasaan. Kelompok pertama, adalah kelompok rezim, yaitu kelompok yang sedang berkuasa saat itu. Kelompok kedua, adalah kelompok yang menentang rezim. Saya menyebut kelompok kedua ini dengan istilah saya sendiri, yaitu kelompok reformis. Di dalam kasus PSSI, NH dan kroninya dianggap sebagai rezim. Masyarakat pencinta sepakbola sudah muak dengan rezim NH, yang selain sudah terlalu lama, tidak menuai hasil memuaskan sama sekali. Kemudian, masyarakat ini hendak melancarkan perubahan. GT dan AP adalah bagian dari kelompok reformis tersebut. Tiga belas tahun yang lalu di negara kita, pernah juga terjadi hal yang sama, rezim Soeharto dilengserkan oleh kelompok mahasiswa yang menuntut reformasi.

Ketika kelompok rezim digulingkan, dan kekuasaan diduduki oleh kelompok reformis, kelompok reformis akan beralih menjadi kelompok rezim. Kelompok rezim nantinya akan menjadi kelompok reformis, atau akan muncul kelompok-kelompok reformis yang baru. Begitulah, saling ribut dan saling rebut kekuasaan akan terus-menerus berulang.

Bagaimana kelompok-kelompok tersebut dapat tercipta? Timbulnya kelompok-kelompok dalam kehidupan manusia dikarenakan adanya persamaan pandangan dan tujuan, selain terkadang juga dikarenakan ada unsur persamaan nasib. Manusia-manusia yang merasa memiliki kesamaan selalu membentuk kelompok, karena sudah menjadi hakikatnya juga bahwa manusia adalah makhluk sosial, atau makhluk berafiliasi. Afiliasi ialah salah satu kebutuhan manusia, seperti yang sudah disebutkan oleh McClleland. Makanya, ada kelompok pecinta sepeda, kelompok pecinta fotografi, dan sebagainya. Negara pun adalah suatu kelompok, dan berdiri dengan cara yang sama pula, yaitu dikarenakan adanya persamaan-persamaan.

Di dalam teori sosiologi, W. G. Sumner menjelaskan adanya klasifikasi kelompok yang dinamakan in-group (kelompok dalam) dan out-group (kelompok luar). Saya pribadi menerjemahkannya dengan istilah kelompok ”kita” (in-group) dan kelompok ”mereka” (out-group). Klasifikasi Sumner inilah yang dapat menjelaskan mengapa seringkali terjadi pertentangan dan permusuhan antarkelompok, contoh sederhananya tawuran antarpelajar SMA. Ketika kita merasa ”satu” dan merasa ”sama” dalam kelompok (in-group), kita cenderung menjalin solidaritas dengan rekan-rekan sekelompok kita. Sebaliknya, kita cenderung menaruh perasaan bermusuhan dengan orang-orang yang di luar atau berbeda dengan kelompok kita (out-group), apalagi yang berbeda pandangan dan tujuan. Pada permusuhan di level kronis, tak jarang permusuahan itu diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, kaderisasi dilakukan untuk mempertahankan eksistensi kelompok.

Persaingan antardua kelompok atau lebih yang hendak memperebutkan kekuasaan, tak bisa lepas dari yang namanya politik. Politik adalah seni meraih kekuasaan. Salah satu teknik politik yang biasa digunakan adalah lobi, yaitu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk mempengaruhi orang lain, biasanya terkait dengan pemungutan suara menjelang pemilihan ketua organisasi.

Politik sebenarnya sudah menjadi bagian dalam kehidupan manusia. Disadari atau tidak, saat kita mau mencari pasangan hidup, kita juga melakukan politik. Pedekate itu sebenarnya tak beda dengan kampanye atau ”menjual” diri. Contoh lain yang biasa dilakukan adalah lobi kepada calon mertua. Hanya saja, di politik pasangan hidup, adalah hati pasangan kita yang ingin kita menangkan dan kuasai. Tetapi, ada juga orang yang mencari pasangan hidup untuk menguasai harta keluarganya. Hal ini kembali ke individu masing-masing.

Di kampus juga ada politik, yang kita kenal sebagai politik kampus. Di Tarumanagara sendiri, saya mendengar ada isu mengenai beberapa kelompok mahasiswa underground yang ingin menguasai organisasi mahasiswa. Underground yang dimaksud di sini karena sifatnya yang memang rahasia, diam-diam, dan tidak terlegitimasi. Saya sempat menemukan nama-nama kelompok underground ini dari blog seorang mahasiswi Untar (bukan mahasiswi Psikologi). Tak perlu saya kasih link-nya, karena ketika saya telusuri kembali, posting-annya sudah dihapus. Mungkin dihapus karena komentar-komentar di posting tersebut. Ya, komentar-komentarnya sangat menyudutkan sang penulis blog tersebut. Mahasiswi ini dibilang ”sok tahu”, ”gak eksis ya”, ”kasian deh gak punya teman”, dan banyak lontaran caci-maki lainnya. Demi alasan keamanan diri saya, saya juga tidak mau menyebut nama-nama kelompok itu di sini. Hehehe.

Politik bukan sesuatu yang buruk. Politik ada di mana-mana. Ibarat pisau dapur, dia bisa digunakan untuk hal yang baik, maupun untuk hal yang buruk. Saya sempat menyinggung perlunya kita memiliki kecerdasan politik dalam tulisan di sini.

Politik erat kaitannya dengan kekuasaan. By the way, dari tadi saya membicarakan kekuasaan, atau bahasa Inggrisnya adalah power, mohon tidak menerjemahkan kekuasaan seperti raja yang ingin menguasai sawah petani, atau lintah darah yang ingin menguras harta seseorang. Saya tidak sedang membicarakan kekuasaan pada zaman pertengahan, tetapi kekuasaan pada zaman modern. Di zaman modern, orang-orang yang berkuasa bukanlah orang yang memiliki power dalam hal fisik atau finansial. Tapi, mereka adalah mereka yang punya pengetahuan, atau mereka yang pintar. Itu bahasa halusnya. Bahasa kasarnya, mereka yang punya kelicikan.

Saat kita bicara kekuasaan, kita tak bisa lagi mengenal kawan atau lawan, semuanya akan menjadi abu-abu. Itu karena power atau kuasa adalah bagian dari eksistensi manusia. Makanya tak salah jika urusan kekuasaan itu urusan eksistensi. Manusia kebanyakan ingin ”terlihat”. Dan, untuk ”terlihat”, manusia harus menunjukkan power-nya ke hadapan orang lain. Dan, siapa yang rela terus-menerus tunduk di bawah power seseorang? Untuk meraih eksistensi tersebut, menyingkirkan orang-orang yang menghambat kita untuk berkuasa, dan merekrut orang-orang yang mendukung kita untuk berkuasa adalah kewajaran.

Yang namanya persahabatan pun menjadi ilusi saat disandingkan dengan kata ”kekuasaan”. Sangat sulit untuk meraba ketulusan saat kita membicarakan kekuasaan, karena semua mengarah pada kepentingan-kepentingan tertentu. Tak heran, selain urusan eksistensi, kekuasaan juga dekat dengan urusan kepentingan. Kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok? Kepentingan positif atau negatif? Biar semua jawaban tersebut dikembalikan ke hati nurani orang-orang yang sedang berkuasa...

17 Mei 2011

Waisak

Hari ini 17 Mei 2011, adalah hari raya Waisak. Salah satu dari 4 hari besar Umat Buddha, dan satu-satunya pula hari yang menjadi hari libur nasional. Oleh karena itu, tidaklah salah, hari Waisak selalu dirayakan gegap gempita oleh umat Buddha di Indonesia, mungkin di seluruh dunia, meskipun kegempitaannya tidak menggema seperti agama lain.

Sejak TK saya sudah merayakan Waisak. Bisa dibilang saya merayakan Waisak hampir setiap tahun, meskipun saya sebenarnya sudah tidak lagi rutin ke vihara sejak SMA. Walaupun saya beragama Buddha, sebenarnya keluarga saya bukanlah keluarga Buddhis. Papa dan Mama saya tidak pernah mengunjungi ke tempat ibadah baik itu gereja atau vihara di hari Minggu. Apa orangtua saya atheis? Saya tidak pernah menanyakan hal itu ke mereka, dan sepertinya saya tidak perlu mempertanyakan keyakinan seseorang, sekalipun orangtua saya.

Meskipun demikian, adalah Papa dan Mama saya yang membuat saya menjadi beragama Buddha. Itu karena mereka memasukkan saya ke salah satu sekolah Buddhis di bilangan Jembatan Tiga. Kalau mau tahu nama sekolahnya, silakan saja melintasi tol Tomang, karena sekolah tersebut selalu dapat terlihat ketika melewati tol Tomang.. hehehe. Saya bersekolah di situ dari TK sampai dengan SMP.

Ketika naik ke SMA, saya pindah sekolah. Tetapi, tetap beragama Buddha karena sekolah itu memberlakukan 3 agama, yaitu Kristen Katolik, Kristen Protestan, dan Buddha. Ketika naik tingkat menjadi mahasiswa, lagi-lagi saya mengambil matakuliah agama Buddha. Meski sudah menjadi mahasiswa, saya tetap merayakan Waisak yang diadakan di Dharmayana (nama dari organisasi mahasiswa Buddhis di Universitas saya). Untuk tahun 2011 ini, saya merayakan pertama kalinya Waisak di Vihara Pluit Dharma Sukha (vihara yang tidak terlalu jauh dari rumah saya), dan pertama kalinya saya merayakan Waisak dengan menyaksikan prosesi dan ceramah via layar kaca... haha.. rame bener tempatnya bo..

Itu artinya sedari TK sampai dengan sekarang saya tetap beragama Buddha. Maka dari itu, tidak heran sampai sekarang saya tidak pernah menginjakkan kaki di gereja atau masjid, dan tidak heran konsep Tuhan dari agama lain tidak ada di kepala saya.

Saya tetap bangga beragama Buddha, meskipun umat lain mungkin bingung, kenapa umat Buddha menyembah patung. Saya katakan agama Buddha tidak menyembah patung, tetapi menghormati sifat luhur Buddha yang dicitrakan dalam patung, seperti halnya kita menghormati bendera Merah Putih. Aah, sudah dijelaskan berkali-kali, tudingan itu tetap datang bertubi-tubi. Ya, sudahlah. Lebih baik disebut menyembah patung, daripada menyembah setan, alkohol, dan obat-obatan terlarang.

Saya tetap bangga beragama Buddha, meskipun umat lain mungkin bingung, kenapa agama Buddha tidak mengenal kata Tuhan. Saya katakan agama Buddha memang tidak mengenal kata Tuhan. Sang pencipta alam semesta adalah semesta itu sendiri. Sang pemberi keajaiban dan keselamatan kepada manusia adalah manusia itu sendiri. Tanpa ada Tuhan, agama Buddha tetap berdiri kokoh, dipuja, dan disanjung. Terlebih lagi, tiada peperangan yang beratasnamakan agama Buddha sampai sekarang.

Itulah agama Buddha, meskipun bungkusnya bermacam-macam (terdiri dari bermacam-macam aliran) dan terkadang sulit dipahami (baik itu teori. ataupun ritualnya), tetapi intinya adalah satu, yaitu cinta kasih dan kebahagiaan untuk semua makhluk.

Di hari raya Waisak ini, saya ingin mendoakan:

Semoga kebahagiaan menyertaiku

Semoga kebahagiaan menyertai Anda


Semoga semua makhluk hidup berbahagia


Selamat hari raya Waisak 2555 B. E./2011






16 April 2011

Fenomena Game Online

Perkembangan teknologi komunikasi tidak hanya berkutat pada daerah nyata atau realita saja, tetapi juga menjangkau dunia virtual atau maya. Dewasa ini, saya sudah akrab melihat beberapa anak berusia sekitar 7-15 tahun duduk berjajar di depan komputer di suatu ruangan ber-AC dengan tempat duduk yang sangat nyaman. Sesekali mereka berteriak senang, kaget, ataupun kecewa. Mereka sangat menikmati apa yang disajikan dari layar komputer tersebut. Sebenarnya apa yang mereka teriakkan? Bukannya jika seseorang yang browsing di internet, tidak perlu sampai berteriak, apalagi mengumpat tidak jelas? Yach... karena mereka memang tidak sedang melakukan browsing. Namun, mereka sedang bermain game online. Mereka bermain tidak hanya dengan beberapa orang yang duduk di sekitar mereka, tetapi mereka bisa juga bermain dengan orang-orang yang berada di daerah yang mungkin belum pernah mereka singgahi secara langsung. Sebenarnya game online tidak hanya dimainkan oleh anak-anak, tetapi juga kini sebagian orang dewasa gandrung bermain game online.

Game online merupakan suatu fenomena yang mampu mengalahkan keberadaan situs-situs popular bertema jaringan sosial seperti Friendster, Multiply, MySpace, Facebook, serta keberadaan video online seperti YouTube. Paling tidak, begitulah kenyataan yang dikemukakan Parks Association dalam risetnya berjudul “The Casual Gaming Market Update” yang dilakukan pada tahun 2007. Penelitian tersebut menemukan bahwa dua pertiga pengguna internet dewasa di Amerika Serikat selalu bermain game online, sedangkan 29 persen dan 19 persen masing-masing mengaku rutin menonton video online dan mengunjungi situs jaringan sosial. Di Indonesia sendiri, jumlah pemain game online sudah mencapai 6 juta orang, menurut berita yang terlansir dalam situs Detikinet pada tahun 2009. Persentasenya adalah 24 persen dari 25 juta pengguna internet di Indonesia adalah pemain game online.

Pada awalnya, orang lebih dulu mengenal game jaringan di mana beberapa Personal Computer (PC) dihubungkan satu sama lain, dan kita pun dapat mulai bermain game sepuasnya. Pada game jaringan, permainan yang sering dimainkan kala itu adalah Counter Strike. Game jaringan cukup membuat beberapa anak, bahkan orang dewasa betah duduk berjam-jam di Game Center atau Warnet untuk mendapatkan suatu kepuasan batin. Hanya seiring dengan semakin berkembangnya teknologi game, maka game jaringan pun mulai tersingkir dengan keberadaan game online. Pada dasarnya, antara game jaringan dan game online hampir sama, yaitu bermain game dengan menggunakan PC sebagai media bermain dengan sejumlah orang. Yang membedakan adalah dengan bermain game online, kita tidak saja dapat bermain dengan orang-orang yang ada di sebelah kita, tetapi juga dapat bermain dengan beberapa orang di lokasi lain, bahkan hingga orang di belahan bumi lain.

Game online menjadi menarik karena game online umumnya menyediakan fitur yang bernama ”komunitas online”, sehingga menjadikan game online sebagai suatu aktivitas sosial. Terciptanya komunitas-komunitas online dapat memfasilitasi para gamer untuk menuangkan segala pengalaman mereka seputar bermain game tersebut. Tidak hanya itu, komunitas-komunitas tersebut kemudian dapat dijadikan ajang komunikasi multikultural yang dapat menjelma menjadi gaya hidup dan penyambung tali silaturahmi antarsesama manusia. Hal ini menjelaskan mengapa game online lebih diminati daripada single player games.

Game online yang memiliki komunitas online seringkali dikenal dengan sebutan Massively Multiplayer Online Games (MMOG). MMOG memungkinkan ratusan bahkan ribuan pemain untuk bermain di waktu yang bersamaan (tentunya setelah terkoneksi dengan internet). MMOG juga terbagi atas beberapa jenis, antara lain, MMORPG (Massively Multiplayer Online Role Playing Game). Contohnya, Ragnarok dan Seal. Lalu ada pula yang bernama MMORTS (Massively Multiplayer Online Real Time Strategy). Contohnya, WarCraft dan DotA. Lalu, ada lagi MMOFPS (Massively Multiplayer Online First Person Shooter). Contohnya ini adalah CounterStrike.

Game online pun berubah menjadi suatu jaringan sosial untuk para gamers yang kemudian dapat mengalahkan beberapa situs popular lainnya, seperti situs jaringan sosial pertemanan. Namun, perkembangan game online bukannya tanpa dampak negatif yang membayangi. Rasanya kita patut prihatin karena game online telah menjelma menjadi gaya hidup yang kurang baik, yaitu pemanfaatan waktu (bermain) yang berlebihan. Kita semua tahu bahwa segala sesuatu yang berlebihan tidaklah menguntungkan. Game online pun mulai dianggap sejumlah kalangan sebagai sesuatu yang addict (candu). Para gamers mampu duduk berlama-lama di depan komputer demi sebuah game dan bertahan di sana tanpa menginginkan suatu gangguan yang mampu memecah konsentrasinya dalam bermain game online tersebut. Pada beberapa kasus yang tercatat, beberapa gamers yang addicted dengan game online dapat rela bersedia untuk tidak mandi, makan, apalagi untuk bekerja, serta melaksanakan tugas-tugas yang merupakan kewajibannya.

Yang ada di otak para gamers yang addict tersebut hanyalah main, main, dan main, serta bagaimana mendapatkan suatu strategi untuk menang. Oleh karena itu, sebagian orangtua pun mulai resah jika anaknya mulai mengetahui tentang game online, walaupun memang masih ada dampak positif yang dapat diambil dari game online, seperti mengajarkan anak untuk mengatur strategi. Hanya saja, sebaiknya terdapat pengawasan dari orang tua agar anak tidak terlalu kecanduan dengan game online dan dapat membagi waktunya dengan belajar.

Menurut Margaretha Soleman, M. Si., Psi., game online dirancang sedemikian rupa agar para pemain selalu ingin terus-menerus memainkan permainan mereka. Untuk melakukan hal ini, para perancang game memanfaatkan efek yang ditimbulkan dari pemberian penguatan (reinforcement) yang dilakukan secara acak dan juga tak terprediksi. Di satu sisi, game online menjanjikan hasil akhir yang dapat diprediksi, misalnya permainan pasti suatu saat akan berakhir dengan kemenangan. Hasil akhir yang pasti ini membuat para pemain game online tetap betah duduk berjam-jam, bahkan berhari-hari untuk terus bermain karena mereka tahu mereka pasti akan menyelesaikan game itu.

Namun, di sisi lain pemain tidak tahu kapan mereka akan bisa menyelesaikan game tersebut. Para pembuat game, menurut Margaretha, membuat pemain ketagihan dengan cara membuat mereka mencapai suatu level, atau posisi baru, atau pun memiliki kekuatan baru secara acak. Maksudnya, para pemain tidak selalu menang setiap kali bermain. Mereka juga tidak selalu mendapatkan ganjaran (reward) setiap kali bermain. Mereka tidak pernah tahu kapan akan menang lagi atau kapan tokoh yang mereka mainkan akan mendapat ganjaran.

“Mungkin saja apabila mereka bermain 10 menit lagi, atau 1 jam lagi, atau 2 jam lagi, mereka akan menang atau naik ke level berikutnya, atau tokoh yang mereka mainkan akan mendapat ganjaran. Dan, jika mereka tidak terus-menerus bermain, maka mereka takut akan kehilangan kesempatan untuk menang atau mendapat ganjaran,” jelas konselor di Pusat Konseling & Pelatihan IPEKA Jakarta itu. Ditambah lagi, kata Margaretha, setiap orang membutuhkan penghargaan dan pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Apabila seseorang tidak mendapatkan hal itu dari lingkungan, maka ia akan mencarinya di tempat lain. Salah satunya, yaitu... dengan melalui game online.

Di dalam game online, ketika pemain berhasil mencapai suatu level tertentu, muncul perasaan senang, bangga, dan puas terhadap prestasi yang mereka raih dan terhadap kemampuan yang mereka miliki. Apalagi, jika diberi semacam hadiah, misalnya berupa nilai bonus, kekuatan tambahan, atau senjata yang makin canggih. Ada pembuktian diri bahwa mereka bisa melakukan sesuatu hingga berhasil. “Perasaan senang dan bangga ini turut memberikan sumbangsih terhadap kecanduan seseorang akan game online,” kata Margaretha.


Dikutip dan diolah dari berbagai macam sumber artikel.

Tulisan ini dimuat juga di BUPSI edisi 12

1 April 2011

My Self

Tanggal 21 Maret 2011, saya mencoba mencari tahu seperti apa sih diri saya di mata teman-teman saya. Saya melemparkan pertanyaan itu lewat Facebook.

"Sufren itu sosok seperti apa di mata kalian? Minta pendapatnya dunk buat evaluasi diri. Boleh hal yang baik, juga boleh hal yang buruk. Kalau terlalu sensitif, ungkapin via message aja. hehe. Thx"

Seketika, saya mendapat sejumlah jawaban yang sudah saya duga, dan ada yang tidak terduga...

"orang yang diam-diam lugu tapi perhatian.. hahahahahhaha"


"orang yang baik.. care.. sedikit kepo, kritis.. terkadang mesum di beberapa status atau copast yang di ambil dari berbagai sumber di beberapa website.. wakakaka"



"Menurut sye. .sufren, anak yang pinteeer bangeeet.. :D pengetahuannya luas.. trus terkadang uniknya tetap tersenyum di kondisi yang munkin org lain gak tersenyum (apa maksudnya?! Hahaha..) Termasuk pribadi yang asertif walau terkadang ada beberapa hal yang 'langsung diutarakan' (hahaha..) Masukannya, lebih semangatz aja utk tetap positif dan yakin sama penelitiannya ya..:) I'm sure you will, brotha..:)"


"ENCER OTAKNYA DAN NGOMONGYA AGAK CEPET GITU HEHE"



"cerdas, baik, mau mendengarkan dan mau mengajari yang tidak gue tahu."


"setuju sama asti... hahahahah pinter n suka memberi info.... n nasehat... dan kata2 bijak... hahahaa"


"Pakar Psikologi masa depan"



"self-evaluation utk lo (hampir 4 thn temenan): (+) Good personality+attitude, Pintar (pintar dLm akademik *Teori n praktek, berkomunikasi n berkarya), dan self-regulatory strategies lo bagus. Yg (-) lo org'nya klo uda becanda ga mau d'kalah n "dalem" ngomongnya + selalu "tersenyum" itu bs berbahaya fren, hahahaa."


"dahsyattt deh! :P"


"pemikir yg baik, sayang jadinya agak kurang berani ambil resiko.. kayaknya sih gt yg gw tangkep.. hahahaha"


"diam2 menghanyutkan.. gw pikir pendiam eh ternyata luar biasa semua dia tau dr bahan kuliah, gosip sampe yang tidak terkuak di media manapun... sst...menghanyutkan..XD bae sih, tp klo lagi sebel itu lho pedes bo~ ahaha.."


"Nurut gw she, sufren cerdas, baik, wawasan na luas, murah senyum, tpi kl lyt org aneh gt (apa pengaruh kacamata na y)ĦåªЂάħªĦåªЂάħ"


"sufren itu baik, suka senyum,okey kl ksh saran dan semangat,terima kasih sufren..buruknya apa yah?blm terdekteksi..."


"sufren hmm.. pertama kali liat, gw mikirny u cupu bgt dah ky si cecep (maap2) yg kerjaannya belajar, belajar, belajar n sehabis kuliah lsg plg wakaka. tp stlh mendalami karakter seorang sufren di kelompok kuali, dia lbh unik dr yg gw kira. eh blm kelar, dia anteng tp kalo udh ngobrol bs lama krn bs ngobrolin apa aje. trs nih seru kalo liat dia lg jengkel krn pasti "dalem".. hwhw.. sk ngasih info buat org2 gaptek kyk gw, buku berjalan, n romantis.... pd kenyataannya memang sufren blm praktekkin keromantisannya, tp puisinya bs bkin klepek2. ya seorg sufren hrs ttp jd apa adanya, cm pesan gw klo ngomong rada pelanin yah biar gk terkesan galak! :D "


Begitulah komentar-komentar yang saya dapat dari teman-teman saya di Facebook. Ada sejumlah penilaian yang udah saya duga, pasti itu yang akan saya dapatkan, di antaranya, pintar, cerdas, baik, suka tersenyum... Eeh, bukan merasa ge-er, tetapi saya sudah menyadari bahwa saya ini orangnya seperti itu... hehehe... Tetapi, ada beberapa penilaian dari teman-teman yang tidak saya duga sebelumnya kok..

Saya mendadak jadi teringat tentang Johari Window... Mungkin teman-teman juga pernah mendengar ini..

Johari Window atau Jendela Johari merupakan salah satu cara untuk melihat dinamika dari self-awareness, yang berkaitan dengan perilaku, perasaan, dan motif kita. Model yang diciptakan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham di tahun 1955 ini berguna untuk mengamati cara kita memahami diri kita sendiri sebagai bagian dari proses komunikasi (dikutip dari sini). Nama Johari tampaknya diambil dari nama Joseph dan Harry, yang kemudian disingkat menjadi Johari.

Jendela Johari berupa persegi panjang yang terbagi menjadi 4 kuadran Open, Blind, Hidden, Unknown. Secara singkat, penjelasannya adalah:

1. Kuadran 1 (Open): kita tahu siapa diri kita dan orang lain pun tahu siapa diri kita
2. Kuadaran 2 (Blind): kita tidak tahu siapa diri kita, tetapi orang lain tahu siapa diri kita
3. Kuadran 3 (Hidden): kita tahu siapa diri kita, tetapi orang lain tidak tahu siapa diri kita
4. Kuadran 4 (Unknown): kita tidak tahu siapa diri kita dan orang lain pun tidak tahu siapa diri kita

Hal-hal yang sudah saya ketahui, dan teman-teman ketahui tentang saya itulah yang disebut Open Self. Seringkali kita memiliki sisi di mana orang lain tahu banyak tentang kita, tetapi kita sendiri tidak sadar akan hal itu. Itulah yang dinamakan Blind Self. Apa yang teman-teman beri komentar tentang siapa diri saya, ada sebagian besar yang merupakan Blind Self lho. Saya tak menduga ada komentar seperti: saya dikatakan pendiam, tetapi perhatian dan menghanyutkan (emangnya saya air bah ya.. hehe), ngomongnya cepet dan "pedes" (padahal gak suka cabe.. hehe), suka memberikan saran dan masukan (wah, cocok dong saya kuliah di psikologi), dan romantis (!???).

Terkadang itulah gunanya punya teman. Mereka bisa melihat siapa diri kita, yang mungkin kita tidak ketahui. So, berterima kasihlah untuk orang-orang yang mengkritik atau memuji Anda. Mereka itu telah menyingkap sebagian dari diri Anda.

Akan tetapi, ada hal-hal yang mungkin agak sulit saya ceritakan tentang siapa saya.. atau bahasanya, saya simpan cerita itu untuk diri saya.. Mudah-mudahan blog bisa jadi media untuk menceritakan sebagian rahasia saya... Biasanya sih ini hal-hal yang kurang baik.. Ini yang disebut Hidden Self. Sepertinya, tiap orang wajar ya punya Hidden Self.

Sementara, Unknown Self. Orang lain gak tahu, saya pun gak tahu. Berarti ini hanya Tuhan yang tahu.. hahaha

17 Maret 2011

Peng"aku"an dan Peng"kamu"an

Sebetulnya apa yang kita lakukan dalam hidup ini, tak lain dan tak bukan hanya untuk mendapatkan suatu peng"aku"an. Seluruh manusia selalu berjuang keras dalam hidup ini untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Keinginan-keinginan itu, seperti mendapat ranking pertama di sekolah/universitas, mendapat pacar yang diharapkan, memiliki karir yang menjanjikan, memiliki rumah idaman, menjadi kaya raya, dsb... Coba rasakan saat-saat ketika keinginan-keinginan tersebut terpenuhi, mungkin orang-orang di sekitar Anda akan memuji kehebatan Anda, bertepuk tangan atas keberhasilan Anda. Apa yang Anda rasakan selanjutnya adalah kebanggaan, keberhargaan, dan kebahagiaan. Itulah artinya Anda telah mendapat peng"aku"an dari orang lain, tentu saja termasuk peng"aku"an dari diri Anda sendiri. Anda akan merasa sangat bahagia, karena semua jerih-payah Anda tidaklah sia-sia. Anda telah berhasil mendapatkan sesuatu. Keinginanku, impianku, atau cita-citaku telah menjadi milk"ku"atau telah "ku"miliki.

Seluruh perjuangan keras manusia itu pada akhirnya memang hanya untuk mendapat peng"aku"an. Hanya untuk memuaskan sesuatu yang bernama "aku". Sebagian orang menyebutnya dengan istilah "ego". Sedari lahir manusia memiliki "aku". Adalah wajar dan masuk akal jika kita ingin memenuhi semua keinginan "aku". Mungkin Anda masih ingat ketika masih kecil, Anda mendapat mainan baru dari Ayah/Ibu Anda. Anda senang sekali. Anda pasti mengatakan, "mainan itu punyaku". Anda akan marah saat mainan itu diambil orang lain, hilang, atau rusak. Sama halnya, dengan keinginan-keinginan, seperti menjadi ganteng/cantik, kaya raya, memiliki rumah/pacar idaman, dan sebagainya. Anda akan bahagia saat keinginan-keinginan tersebut terpenuhi, tetapi menjadi marah (bisa marah ke diri sendiri atau marah kepada Tuhan) saat Anda tak bisa meraih apa yang diinginkan. Bagi sebagian orang, pemuasan keinginan "aku" ini sering dikatakan sebagai bentuk kebahagiaan.

Namun, menurut saya itu tidaklah demikian. Kebahagiaan yang didapatkan dengan pemuasan keinginan "aku" hanyalah kebahagiaan sesaat. Sudah banyak kesedihan dan kekecewaan yang timbul hanya gara-gara ada "aku" yang tidak berhasil terpuaskan. Lihat saja, pasangan yang menikah, lalu bercerai. Mengapa demikian? Biasanya pasangan bercerai dikarenakan salah satu pasangan tidak mau mendengarkan ataumemahami keinginan satu sama lain, tetapi sebaliknya hanya menuntut "ego" atau "aku"-nya didengarkan. Atau pun, saat Anda tidak berhasil mendapatkan pacar idaman, meskipun Anda telah mengorbankan segala yang Anda miliki, baik yang berupa materi atau tidak. Tetapi, pacar idaman Anda lebih memilih orang lain, bukan diri Anda. Oh, tentu saja... itu sangat menyakitkan dan mengecewakan. Anda bersedih, dan akan meratapi diri Anda.. meratapi "aku" Anda yang tersakiti.

Kebahagiaan sesungguhnya dicapai bukan untuk mencari peng"aku"an, melainkan mencari peng"kamu"an. Kebahagiaan yang sejati hanya dapat dicapai dengan melepaskan "aku". Bukan "aku" yang ingin kita puaskan, tetapi adalah "kamu" yang ingin kita puaskan. Bagaimana caranya?

Mengasihi sesama, mencintai sesama, memberikan penghormatan pada orang lain, menghargai orang lain, rela berkorban demi kepentingan orang lain, dsb...

Kita utamakan kepentingan"kamu", bukan "aku". Memuaskan "kamu" sama sekali tidak mendatangkan kesedihan atau kekecewaan. Kenapa bisa begitu? Karena sesungguhnya apa yang dimiliki, pasti akan (ke)hilang(an). Tidak ada sesuatu pun yang menjadi milik "aku" abadi selamanya. Namun, di saat Anda tidak memiliki sesuatu, Anda tidak akan merasakan kehilangan. Di saat Anda tidak merasakan kehilangan, Anda tidak akan merasakan kekecewaan apalagi kesedihan.

Lepaskan "aku", lepaskan milik"ku"... lalu, berikanlah untuk "kamu", jadilah milik"mu"... itulah cara sesungguhnya mendatangkan kebahagiaan. Inilah seharusnya yang kita perjuangkan dalam hidup ini, yaitu segalanya untuk "kamu", "kamu", dan "kamu. Bukan untuk "aku", "aku", dan "aku". Tetapi, berapa banyak orang yang bisa melakukan hal semacam ini? Sangat sulit untuk dilakukan, karena manusia sudah terlanjur memiliki "aku" sejak lahir. Manusia sedari lahir memang sudah egois.


Dalam tulisan ini, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kita harus selalu dan selalu mengorbankan diri kita demi orang lain. Tentunya kita boleh mementingkan diri sendiri daripada orang lain selama itu tidak merugikan orang lain. Tetapi, marilah kita mencoba untuk mulai memikirkan orang lain, tidak melulu diri kita sendiri. Tidakkah ajaran agama mana pun selalu mengajarkan kita untuk peduli pada kesejahteraan orang lain?

8 Maret 2011

Mencintai

Sewaktu saya update status di Facebook tanggal 8 Maret 2011, seperti tertulis di bawah ini
Saya menerima 41 jempol (belum termasuk jempol sendiri) sampai tulisan blog ini dibuat. Wah, luar biasa!!! Jempol terbanyak di status yang selama ini saya buat nih. Hehe... Yang luar biasa tentunya adalah Ibu Henny E. Wirawan, yang menyampaikan statement tersebut.

Sebenarnya masih ada lanjutan dari statement di atas,


Untuk statement lanjutannya kedapetan 18 jempol sampai tulisan ini dibuat.
Bicara soal cinta memang tidak ada matinya. Dari zaman nenek moyang sampai nanti cicit moyang (haha), topik cinta sepertinya (atau pastinya) tak pernah habis untuk dibahas. Saat manusia punah, mungkin barulah topik tentang cinta akan selesai diperdebatkan.

Pertanyaan sederhana, seperti "Apa artinya cinta?", sudah bisa menimbulkan banyak jawaban. Dari jawaban hanya sekilas senyum, jawaban puitis, sampai jawaban ilmiah, semuanya ada. Bisa panjang tuh jika mau dijabarkan dari atas ke bawah.

By the way, kok tiba-tiba saya bahas tentang cinta. Lagi jatuh cintakah? Hahaha... Tidak kok. Hal ini gara-gara ambil Mata Kuliah Perilaku Seksual. Gak rugi juga ambil mata kuliah ini, meski mendapatkannya harus mendapat "mukjizat" dari pengampu mata kuliah ini, yang tidak lain, tidak bukan Ibu Henny sendiri. Selain bicara seks (sesuai dengan nama mata kuliahnya), ada pembicaraan tentang cinta juga. Bicara soal seks, emang pasti tak lepas dari cinta.

Ibu Henny tidak menjadikan pembahasan tentang seks menjadi terlalu vulgar, tapi malah bahasannya terkadang lucu dan seru. Belum lagi, banyak pesan-pesan penting yang beliau sampaikan. Nah, terkait soal cinta, ada beberapa pesan penting dari beliau yang saya sadur ulang.

Misal,
I love U not because... but, I love U although...
Jika kita pakai rumus "mencintai karena (I love U because)", artinya kita mencintai seseorang karena ada sebab, ada syarat. Saya mencintaimu karena kamu memberikan sesuatu kepada saya, atau karena kamu cantik, dsb. Adalah berbeda, jika kita pakai rumus "mencintai walaupun (I love U although), artinya kita mencintai seseorang, walaupun orang itu tidak mencintai kita. Saya mencintaimu, walaupun kamu jelek, atau walaupun kamu miskin, dsb. Wah, besar sekali dedikasinya!!! Dan cinta seperti inilah yang (katanya) bisa bertahan sampai maut menjelang...

Atau juga,

Kecemburuan atau sifat posesif sama sekali bukanlah bumbu cinta.

Jadi, menurut penjelasan Bu Henny, justru kecemburan dan sifat posesif adalah sisi negatif dari cinta. Saat muncul kecemburan dan sifat posesif, kualitas cinta tuh sebenarnya sudah mulai berkurang.

Lalu, bagaimana cinta disikapi?


Cinta adalah I trust you, and you trust me...

Mau di mana kamu berada atau dengan siapa kamu berada, saya percaya pada kamu, dan kamu pun harus percaya pada saya juga. Cinta tidak mengekang, cinta adalah kepercayaan.

Lalu, adakah cinta sejati?


Tidak ada teori tentang cinta sejati. Cinta dikerjakan dengan hati.

Dalem dan dingin euy.. hehe


Cinta keliatannya ribet ya. Saya sendiri juga punya teori sederhana tentang cinta. Jadi, bagi saya,

"Cinta bukan menuntut, tetapi menerima..."
"Cinta bukan meminta, tetapi memberi..."


Nah, bagaimana teori tentang cinta yang Anda punya?

Note:
Semua kalimat yang dicetak tebal adalah kalimat mutiara Bu Henny di kelas Mata Kuliah Perilaku Seksual