Bahkan kemarau panjang bisa terhapuskan meski hanya dengan hujan sehari
Itu artinya, saat kita sedang dalam keadaan ketika mesti menunggu sesuatu/seseorang begitu lama, tetapi rasa sebal menunggu itu bisa langsung terlupakan saat orang/barang yang ditunggu itu muncul. Malah yang muncul adalah rasa lega dan dan happy. Ah, akhirnya datang juga.
Nah, kalimat di atas pas banget menggambarkan suasana hati mereka yang sedang merayakan wisuda.
Empat tahun atau lebih lamanya seseorang berkuliah: Berjuang melahap buku-buku tebal yang bikin sebal, berjibaku melawan tugas-tugas yang menghadang sampai badan meradang, lalu mesti menumpaskan tugas akhir bernama skripsi yang bisa buat perasaan jadi depresi. Tetapi, kejengkelan dan penderitaan itu bisa segera lenyap saat tiba hari ketika kita memakai toga dan bergembira bersama merayakan kelulusan itu.
Sebenarnya hal-hal tadi itu lebih kepada apa yang rasakan pada hari ini: Sabtu, 19 Mei 2012. Adalah hari wisuda Untar ke-59. Jadi, kalian bisa mengatakan kalau saya sekarang adalah seorang sarjana. Hehe.
Sejak ada situs jejaring sosial, wisuda memang topik yang "sesuatu banget". Tapi, memang "sesuatu banget" sih rasanya pakai toga. Kayak lagi di dunia "Harry Potter" gitu. Cuman gak ada sapu dan tongkat aja. Hahaha..
Tiap kali ada wisuda, selalu ada ucapan selamat yang hilir-mudik berdatangan. Banyak terima kasih dari saya untuk kalimat-kalimat "selamat" itu.
Adik-adik yang belum merasakan wisuda, bersabar saja. Waktu itu pasti akan datang.
Tidak selamanya musim kemarau, hujan pasti akan turun...
Penantian panjang itu pasti akan datang...
19 Mei 2012
7 Mei 2012
Dari Jakarta Menuju Bogor Untuk Sebuah Pernikahan
Sabtu, 5 Mei kemarin, saya pergi menuju ke Bogor bersama teman-teman, yaitu Endy, Lanny, Ririn, dan Devi. Eitss... bukan untuk berlibur, melainkan mengikuti resepsi pernikahan salah satu sahabat kuliah saya, yaitu Oktaviana. Oktaviana atau yang biasa dipanggil Via, adalah teman saya dari Bogor. Rumahnya memang di Bogor dan dia selalu pulang-pergi rumah-kampus yang memakan waktu lebih dari 2 jam hanya demi meraih gelar sarjana psikologi. Wah, wah berat sekali ya perjuangannya. Makanya, saya pernah menyamakan dia dengan tokoh bernama Lintang (salah satu tokoh dari novel Laskar Pelangi yang rela menempuh jarak yang jauh dari rumah sampai ke sekolah, bahkan mesti menunggui buaya lewat dulu, hanya demi menuntut ilmu). Saya pun kini bisa merasakan betapa lamanya perjalanan dari Grogol (kami berlima naik mobilnya Lanny kumpul di Untar dulu) menuju Bogor, plus dibumbui terjangan hujan yang deras sekali.
Pernikahan Via dan pasangan hidupnya, Rikson dilangsungkan di New Lebak Wangi Garden Resto. Kalau dari nama tempatnya, jelas pernikahan mereka dilakukan di restoran dengan suasana perkebunan. Ah, sayangnya hujan kembali turun deras... Bogor memang kota hujan. Momen demi momen pernikahan pun sedikit terganggu oleh hujan dan genangan air. Tentu, acara tetap berjalan dan kemeriahan tetap terjadi. Yang namanya kebahagiaan memang seharusnya jangan dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. Tetapi, untunglah saat pasangan pengantin hendak memasuki tenda, hujan belum turun. Tampaknya cuaca mampu mengerti dan bersabar menunggu kedua pasangan, termasuk pihak keluarga memasuki ke dalam tenda terlebih dulu.
Hujan membuat ruang gerak kami agak terbatas. Semua tamu yang hadir mencoba melindungi diri dari air hujan sehingga suasana tenda menjadi sedikit sesak. Sayang, kami tak bisa berlama-lama, tetapi tentu tidak lupa foto-foto bareng :)
By the way, beberapa teman saya yang lain di antaranya pun sudah menikah, seperti teman SD saya Wilindayati; kemudian teman kuliah saya, seperti Budi Andhika, Rezky, Devina, Yolannia, Melissa, dan Dora. Tapi, pernikahan Via adalah spesial, bukan karena hujannya, tetapi karena ini pertama kalinya saya diundang dalam pernikahan teman saya sendiri. Hahaha.
Dan, saya masih menunggu undangan pernikahan dari sahabat-sahabat saya yang lain :D
Pernikahan Via dan pasangan hidupnya, Rikson dilangsungkan di New Lebak Wangi Garden Resto. Kalau dari nama tempatnya, jelas pernikahan mereka dilakukan di restoran dengan suasana perkebunan. Ah, sayangnya hujan kembali turun deras... Bogor memang kota hujan. Momen demi momen pernikahan pun sedikit terganggu oleh hujan dan genangan air. Tentu, acara tetap berjalan dan kemeriahan tetap terjadi. Yang namanya kebahagiaan memang seharusnya jangan dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. Tetapi, untunglah saat pasangan pengantin hendak memasuki tenda, hujan belum turun. Tampaknya cuaca mampu mengerti dan bersabar menunggu kedua pasangan, termasuk pihak keluarga memasuki ke dalam tenda terlebih dulu.
Hujan membuat ruang gerak kami agak terbatas. Semua tamu yang hadir mencoba melindungi diri dari air hujan sehingga suasana tenda menjadi sedikit sesak. Sayang, kami tak bisa berlama-lama, tetapi tentu tidak lupa foto-foto bareng :)
By the way, beberapa teman saya yang lain di antaranya pun sudah menikah, seperti teman SD saya Wilindayati; kemudian teman kuliah saya, seperti Budi Andhika, Rezky, Devina, Yolannia, Melissa, dan Dora. Tapi, pernikahan Via adalah spesial, bukan karena hujannya, tetapi karena ini pertama kalinya saya diundang dalam pernikahan teman saya sendiri. Hahaha.
| Undangan Pernikahan Rikson-Via |
25 Maret 2012
Hugo dan Penemuan Mimpi
Judul: The Invention of Hugo Cabret
Pengarang: Brian Selznick
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun Terbit Asli: 2007
Tahun Terbit Terjemahan: 2012
Kisah tentang Hugo mengambil latar tahun 1931 di stasiun kota Paris. Selznik tampaknya ingin membuat sebuah novel yang detil. Kedetilan itu dapat Anda baca di bagian Ucapan Terima Kasih. Sebetulnya alur cerita novel ini sangat sederhana. Tetapi, tidak mengurangi keseriusan Selznick membuat novel ini. Ada riset mendalam yang ia lakukan, seperti bertanya tentang aspek-aspek jam, automaton, dan segala hal tentang Perancis. Saya jadi teringat pada ucapan Andrea Hirata bahwa karya yang menarik berasal dari riset sebanyak-banyaknya.
Kedetilan Selznick juga dapat kita lihat dari membuka halaman demi halaman buku ini. Kita akan melihat gambar bulan. Kemudian halaman berikutnya, bulan tersebut menjauh. Halaman berikutnya, bulan itu semakin menjauh dan memperlihatkan kota Paris di bawah naungan sang rembulan. Mungkin Anda akan bingung, tetapi memang novel ini (atau mungkinkah saya perlu menyebutnya sebagai buku bergambar?) kaya sekali akan gambar. Suasana tahun 1931 di Kota Paris tergambar dengan jelas dari hasil buah tangan Selznick. Gambar-gambarnya sendiri ada yang hasil ilustrasi dari sang penulis, dan ada yang pula berasal dari cuplikan film.
Film? Sepertinya saya juga perlu menjelaskan bahwa Selznick ingin sekali kita sebagai pembaca menjadikan novelnya ini sebagai sebuah film (makanya kaya dengan gambar). Kita seolah-olah diajak sedang menonton film. Maka, tidak heran di akhir buku adalah tulisan TAMAT besar-besar, yang sebetulnya sudah jarang sekali dipakai untuk buku-buku cerita keluaran terbaru.
Bukan hanya menjadikan novelnya sebagai sebuah film, Selznick juga memasukkan sejarah tentang awal-awal pembuatan film. Novel ini sebetulnya tidak hanya berpusat pada Hugo, tetapi juga mengangkat kisah nyata seorang tokoh penting dalam dunia perfilman. Saya tidak tahu apakah dia penting di mata dunia internasional, yang pasti ia teramat penting di Perancis. Mungkin nama orang tersebut tidak familiar bagi orang Indonesia, tetapi saya rasa itu bukan masalah besar. Justru, setelah saya menelusuri sejarah kehidupan sang tokoh itu (kalau Anda nonton filmnya lebih bagus, karena diceritakan flashback yang lebih hidup), saya tahu bahwa kita tidak boleh meninggalkan mimpi-mimpi kita. Dalam film, tokoh itu menyebutkan "follow your dream".
Salah satu kutipan yang saya suka dari novel ini adalah ucapan Hugo (hal 384), "Jika kau kehilangan tujuanmu... rasanya seperti mesin rusak." Dan di halaman 388, Hugo mengatakan ". . . jika seluruh dunia adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu . . . ". Dua kalimat Hugo tersebut dalam buku juga muncul di filmnya.
Rasanya teramat jelas, Selznick ingin memberikan amanat, yaitu sebuah tujuan.... atau mimpi.... mimpi yang harus berani kita temukan dan perjuangkan. Kalau Hugo bisa menemukan, mengapa kita tidak? Bicara soal mimpi, rasanya dulu manusia pernah bermimpi pergi ke bulan, bukan? Maka tidak heran, bulan tampaknya menjadi sesuatu yang sangat berharga di novel ini. Mengapa? Cari tahu sendiri saja dengan membaca novel ini...
Berikut cuplikan ilustrasi Selznick dalam novel ini
Sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEim6RuMF04rEce5CGtLz636JhJbAK9tmWPEc7NfOLk4RLb5WyoN_M_TjUIxkMnce-tzoyBkXkHGUA1oLmLNp-f1tdfFusAfRVAmlds9doD8XNeqYXJ9y6IIitUetYZNjvIKcEQbrqnkEM4/s1600/hugo+1.jpg
Saya rekomendasikan novel The Invention of Hugo Cabret masuk ke dalam rak buku Anda, karena novel ini sudah terbit di 30 negara dan memenangkan banyak penghargaan. Sementara, filmnya sendiri Hugo mendapat 11 nominasi piala Oscar, dan 5 di antaranya berhasil dimenangkan, yaitu kategori Best Cinematography, Best Art Direction, Best Visual Effects, Best Sound Mixing, dan Best Sound Editing. Jadi, kisah Hugo Cabret memang layak untuk disimak.
Sumber gambar buku: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/c/ce/The_Invention_of_Hugo_Cabret.jpg
Pengarang: Brian Selznick
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun Terbit Asli: 2007
Tahun Terbit Terjemahan: 2012
Saya kesengsem membeli novel The Invention of Hugo Cabret setelah menyaksikan film yang diangkat dari novel tersebut, yakni Hugo, yang sempat tayang di bioskop-bioskop kita. Filmnya sendiri cukup setia dengan novelnya (meski tetap akan ada perbedaan di sana-sini), bahkan ending ceritanya pun sesuai. Baik film maupun novel sama-sama menceritakan seorang bocah yang bekerja sebagai perawat jam stasiun kereta bernama Hugo yang kedapatan mencuri di kios mainan milik seorang kakek tua. Selidik punya selidik, ia mencuri demi memperbaiki boneka mesin berwujud manusia (dalam buku/film disebutkan automaton) peninggalan Ayahnya. Hugo meyakini dengan memperbaiki boneka mesin atau automaton itu, ia akan mendapati pesan mendiang Ayahnya. Namun, siapa sangka usaha keras Hugo memperbaiki automaton nantinya akan menguak masa lalu sang kakek tua penjaga kios mainan serta memperbaiki kehidupan Hugo.
Kisah tentang Hugo mengambil latar tahun 1931 di stasiun kota Paris. Selznik tampaknya ingin membuat sebuah novel yang detil. Kedetilan itu dapat Anda baca di bagian Ucapan Terima Kasih. Sebetulnya alur cerita novel ini sangat sederhana. Tetapi, tidak mengurangi keseriusan Selznick membuat novel ini. Ada riset mendalam yang ia lakukan, seperti bertanya tentang aspek-aspek jam, automaton, dan segala hal tentang Perancis. Saya jadi teringat pada ucapan Andrea Hirata bahwa karya yang menarik berasal dari riset sebanyak-banyaknya.
Kedetilan Selznick juga dapat kita lihat dari membuka halaman demi halaman buku ini. Kita akan melihat gambar bulan. Kemudian halaman berikutnya, bulan tersebut menjauh. Halaman berikutnya, bulan itu semakin menjauh dan memperlihatkan kota Paris di bawah naungan sang rembulan. Mungkin Anda akan bingung, tetapi memang novel ini (atau mungkinkah saya perlu menyebutnya sebagai buku bergambar?) kaya sekali akan gambar. Suasana tahun 1931 di Kota Paris tergambar dengan jelas dari hasil buah tangan Selznick. Gambar-gambarnya sendiri ada yang hasil ilustrasi dari sang penulis, dan ada yang pula berasal dari cuplikan film.
Film? Sepertinya saya juga perlu menjelaskan bahwa Selznick ingin sekali kita sebagai pembaca menjadikan novelnya ini sebagai sebuah film (makanya kaya dengan gambar). Kita seolah-olah diajak sedang menonton film. Maka, tidak heran di akhir buku adalah tulisan TAMAT besar-besar, yang sebetulnya sudah jarang sekali dipakai untuk buku-buku cerita keluaran terbaru.
Bukan hanya menjadikan novelnya sebagai sebuah film, Selznick juga memasukkan sejarah tentang awal-awal pembuatan film. Novel ini sebetulnya tidak hanya berpusat pada Hugo, tetapi juga mengangkat kisah nyata seorang tokoh penting dalam dunia perfilman. Saya tidak tahu apakah dia penting di mata dunia internasional, yang pasti ia teramat penting di Perancis. Mungkin nama orang tersebut tidak familiar bagi orang Indonesia, tetapi saya rasa itu bukan masalah besar. Justru, setelah saya menelusuri sejarah kehidupan sang tokoh itu (kalau Anda nonton filmnya lebih bagus, karena diceritakan flashback yang lebih hidup), saya tahu bahwa kita tidak boleh meninggalkan mimpi-mimpi kita. Dalam film, tokoh itu menyebutkan "follow your dream".
Salah satu kutipan yang saya suka dari novel ini adalah ucapan Hugo (hal 384), "Jika kau kehilangan tujuanmu... rasanya seperti mesin rusak." Dan di halaman 388, Hugo mengatakan ". . . jika seluruh dunia adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu . . . ". Dua kalimat Hugo tersebut dalam buku juga muncul di filmnya.
Rasanya teramat jelas, Selznick ingin memberikan amanat, yaitu sebuah tujuan.... atau mimpi.... mimpi yang harus berani kita temukan dan perjuangkan. Kalau Hugo bisa menemukan, mengapa kita tidak? Bicara soal mimpi, rasanya dulu manusia pernah bermimpi pergi ke bulan, bukan? Maka tidak heran, bulan tampaknya menjadi sesuatu yang sangat berharga di novel ini. Mengapa? Cari tahu sendiri saja dengan membaca novel ini...
Berikut cuplikan ilustrasi Selznick dalam novel ini
Sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEim6RuMF04rEce5CGtLz636JhJbAK9tmWPEc7NfOLk4RLb5WyoN_M_TjUIxkMnce-tzoyBkXkHGUA1oLmLNp-f1tdfFusAfRVAmlds9doD8XNeqYXJ9y6IIitUetYZNjvIKcEQbrqnkEM4/s1600/hugo+1.jpgSaya rekomendasikan novel The Invention of Hugo Cabret masuk ke dalam rak buku Anda, karena novel ini sudah terbit di 30 negara dan memenangkan banyak penghargaan. Sementara, filmnya sendiri Hugo mendapat 11 nominasi piala Oscar, dan 5 di antaranya berhasil dimenangkan, yaitu kategori Best Cinematography, Best Art Direction, Best Visual Effects, Best Sound Mixing, dan Best Sound Editing. Jadi, kisah Hugo Cabret memang layak untuk disimak.
Sumber gambar buku: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/c/ce/The_Invention_of_Hugo_Cabret.jpg
4 Maret 2012
Penyesalan
Salah satu hal yang tak saya sukai di kehidupan ini adalah "penyesalan". Kenapa penyesalan selalu datang terlambat? Kenapa mesti ada hal itu? Berkali-kali saya merasakan penyesalan yang dalam. Dan, berkali-kali pula saya tak tahu mesti apa dan bagaimana mengatasi penyesalan itu?
Andaikan waktu bisa kuulang, ingin kubenahi semua yang terjadi di masa kecilku. Andaikan kutahu akan begini jadinya... Ke mana masa bahagiaku dulu? Masa-masa tanpa ada beban yang berat dan konflik yang menyengat...
Sekarang aku hidup seolah tak bertujuan, tanpa arah yang jelas. Sekarang aku hidup di dunia serba modern. Dunia di mana teknologi telah mendekatkan yang jauh, tetapi telah menjauhkan yang dekat...
Andai aku punya daya untuk mengembalikan masa kecilku ke masa sekarang... Andai aku punya daya untuk memindahkan masa bahagiaku di masa silam ke masa sekarang...
Andai aku bisa...
Kenyataannya aku tak pernah bisa...
Dan yang tersisa...
Hanya 1 kata...
Lagi, kudengar...
Penyesalan...
Andaikan waktu bisa kuulang, ingin kubenahi semua yang terjadi di masa kecilku. Andaikan kutahu akan begini jadinya... Ke mana masa bahagiaku dulu? Masa-masa tanpa ada beban yang berat dan konflik yang menyengat...
Sekarang aku hidup seolah tak bertujuan, tanpa arah yang jelas. Sekarang aku hidup di dunia serba modern. Dunia di mana teknologi telah mendekatkan yang jauh, tetapi telah menjauhkan yang dekat...
Andai aku punya daya untuk mengembalikan masa kecilku ke masa sekarang... Andai aku punya daya untuk memindahkan masa bahagiaku di masa silam ke masa sekarang...
Andai aku bisa...
Kenyataannya aku tak pernah bisa...
Dan yang tersisa...
Hanya 1 kata...
Lagi, kudengar...
Penyesalan...
3 Maret 2012
Teater yang Menyihir
Di tengah hujan pagi, di tanggal kabisat (29 Februari 2012), saya mendapat SMS dari teman saya, seorang pemain guzheng andalan Untar, yaitu Darwin, untuk diminta datang ke Taman Ismail Marzuki menonton aksi Teater Koma, dengan judul lakon Sie Jin Kwie di Negeri Sihir. Dasar Darwin! Dia selalu dadakan kalau ada undangan acara.
Darwin mendapat 2 tiket gratis dari lakon itu. Jadi, Darwin ingin kasih ke saya satu dan teman saya yang lain. Awalnya saya sangsi untuk ikut, karena cuaca hari itu tidak bersahabat (baca: mendung dan hujan). Dan, siangnya juga saya mesti ke Salemba mengurus ISBN. Rumah saya di daerah Pluit. Pergi ke Salemba akan jadi perjalanan panjang nan melelahkan. Belum lagi, mesti menonton teater yang mulai acaranya jam 19.30. Tapi, karena dulu saya pernah berjanji ke Darwin bahwa saya akan datang menonton Teater Koma, saya jadi bingung antara mau atau enggak ya...
Eh, sebelumnya saya mesti cerita kalau Darwin itu didaulat untuk jadi salah satu dari pemain musik di Teater Koma. Kebetulan Teater Koma mementaskan cerita kepahlawanan Sie Jin Kwie, salah satu Jenderal Besar dari Dinasti Tang. Karena mengambil cerita berlatarkan TiongKok, otomatis teman saya yang handal dalam main guzheng ini mendapatkan tempat di Teater Koma.
Akhirnya, setelah mendapat teman yang juga mau ikut menonton, yaitu senior saya Valentino Tania ("kalau gratis, ya maulah", katanya pas di telepon....), dan disertai rasa penasaran bagaimana rasanya menonton aksi teater yang sering dibahas di Majalah TEMPO itu; ya udah deh, kami ke sana.
Tiba di sana, jam 7 malam. Rupanya kami datang sebagai tamu undangan. Jadi, pada hari itu (29-2-12) adalah premiere atau pemutaran perdana yang bersifat terbatas. Oke deh, saya dan Tino adalah tamu kehormatan.
Saya tidak begitu paham dengan bagian awal-awal cerita, apalagi mendengar kata Sie Jin Kwie, karena cerita Sie Jin Kwie yang dipentaskan kali ini ini merupakan lanjutan dari cerita Sie Jin Kwie yang sebelumnya sudah pernah dimainkan di Teater Koma. Intinya, ini trikuelnya (seri ketiga)... Susah amat ya ngejelasinnya... Tetapi, mulai masuk ke tengah-tengah cerita, saya sudah bisa paham dan mengikuti. Dialognya tidak melulu serius, ada banyolannya juga. Saya paling suka banyolannya sang narator. Yang paling saya kagumi adalah cara Teater Koma memvisualisasikan adegan perang dengan memakai wayang. Menurut saya, itu keputusan yang cerdik. Selain itu, Teater Koma juga pandai sekali memberikan sentuhan adat Indonesia ke dalam cerita yang sejatinya berasal dari negeri TiongKok. Kita juga tidak melulu menikmati adegan berdialog saja, tetapi ada juga adegan musikalnya. Dan, saya katakan meski lagunya bukan lagu pop (lagunya itu merupakan puisi yang dilagukan), tetapi lirik dan melodinya sangat sesuai dengan alur dan feel cerita.
Meski agak mengantuk dan kehausan, karena durasinya itu lho.... ehm... lima jam!!! Ya lima jam (tenang, ada waktu istirahatnya kok), saya bisa katakan teaternya..... ehm... sungguh keren!!!
Berikut saya berikan sinopsis cerita Sie Jin Kwie di Negeri Sihir, yang saya ambil dari website Teater Koma:



Bosen dengan film bioskop Indonesia yang isinya setan dan seks semua? Gak ada salahnya coba deh tonton teater, ya meski harus merogoh kocek yang cukup besar dan waktu luang yang panjang. Cerita Sie Jin Kwie di Negeri Sihir ini tidak cuman tentang peperangan dan cinta, tetapi ada unsur bakti pada negara dan orangtua. Banyak nilai-nilai yang bisa kita ambil. Jadi, coba ajak teman dan sekeluarga, selamat menyaksikan.
Darwin mendapat 2 tiket gratis dari lakon itu. Jadi, Darwin ingin kasih ke saya satu dan teman saya yang lain. Awalnya saya sangsi untuk ikut, karena cuaca hari itu tidak bersahabat (baca: mendung dan hujan). Dan, siangnya juga saya mesti ke Salemba mengurus ISBN. Rumah saya di daerah Pluit. Pergi ke Salemba akan jadi perjalanan panjang nan melelahkan. Belum lagi, mesti menonton teater yang mulai acaranya jam 19.30. Tapi, karena dulu saya pernah berjanji ke Darwin bahwa saya akan datang menonton Teater Koma, saya jadi bingung antara mau atau enggak ya...
Eh, sebelumnya saya mesti cerita kalau Darwin itu didaulat untuk jadi salah satu dari pemain musik di Teater Koma. Kebetulan Teater Koma mementaskan cerita kepahlawanan Sie Jin Kwie, salah satu Jenderal Besar dari Dinasti Tang. Karena mengambil cerita berlatarkan TiongKok, otomatis teman saya yang handal dalam main guzheng ini mendapatkan tempat di Teater Koma.
Akhirnya, setelah mendapat teman yang juga mau ikut menonton, yaitu senior saya Valentino Tania ("kalau gratis, ya maulah", katanya pas di telepon....), dan disertai rasa penasaran bagaimana rasanya menonton aksi teater yang sering dibahas di Majalah TEMPO itu; ya udah deh, kami ke sana.
Tiba di sana, jam 7 malam. Rupanya kami datang sebagai tamu undangan. Jadi, pada hari itu (29-2-12) adalah premiere atau pemutaran perdana yang bersifat terbatas. Oke deh, saya dan Tino adalah tamu kehormatan.
Saya tidak begitu paham dengan bagian awal-awal cerita, apalagi mendengar kata Sie Jin Kwie, karena cerita Sie Jin Kwie yang dipentaskan kali ini ini merupakan lanjutan dari cerita Sie Jin Kwie yang sebelumnya sudah pernah dimainkan di Teater Koma. Intinya, ini trikuelnya (seri ketiga)... Susah amat ya ngejelasinnya... Tetapi, mulai masuk ke tengah-tengah cerita, saya sudah bisa paham dan mengikuti. Dialognya tidak melulu serius, ada banyolannya juga. Saya paling suka banyolannya sang narator. Yang paling saya kagumi adalah cara Teater Koma memvisualisasikan adegan perang dengan memakai wayang. Menurut saya, itu keputusan yang cerdik. Selain itu, Teater Koma juga pandai sekali memberikan sentuhan adat Indonesia ke dalam cerita yang sejatinya berasal dari negeri TiongKok. Kita juga tidak melulu menikmati adegan berdialog saja, tetapi ada juga adegan musikalnya. Dan, saya katakan meski lagunya bukan lagu pop (lagunya itu merupakan puisi yang dilagukan), tetapi lirik dan melodinya sangat sesuai dengan alur dan feel cerita.
Meski agak mengantuk dan kehausan, karena durasinya itu lho.... ehm... lima jam!!! Ya lima jam (tenang, ada waktu istirahatnya kok), saya bisa katakan teaternya..... ehm... sungguh keren!!!
Berikut saya berikan sinopsis cerita Sie Jin Kwie di Negeri Sihir, yang saya ambil dari website Teater Koma:
Inilah kisah tentang Jenderal Besar SIE JIN KWIE, yang memimpin pasukan Tang berperang ke Barat. Sayang sekali, dalam pertempuran, Sie Jin Kwie terluka parah, nyaris sekarat. Arwahnya sempat melayang ke akhirat. Sebelum dikembalikan ke dunia fana, Sie Jin Kwie diperlihatkan masa depan. Kelak, dia akan menemui ajal di tangan putra sendiri.
Inilah kisah tentang SIE TENG SAN. Setelah mati oleh anak panah ayahnya sendiri, Sie Jin Kwie, dia dihidupkan kembali dan dijadikan murid oleh seorang petapa sakti. Kini, Sie Teng San diperintahkan membantu sang ayah keluar dari kepungan musuh.
Inilah kisah tentang HWAN LI HOA. Seorang gadis sakti dan pemberani. Oleh gurunya, dia diramalkan berjodoh dengan Sie Teng San. Masalahnya, ayah Hwan Li Hoa adalah jendral pasukan Seeliang, musuh Kerajaan Tang.
Takdir apa yang menanti para tokoh lakon ini?
Produksi ke-126 Teater Koma
SIE JIN KWIE DI NEGRI SIHIR
1-31 Maret 2012
Graha Bhakti Budaya
Taman Ismail Marzuki
19.30 WIB
memperingati hari jadi ke-35 Teater Koma (1 Maret)
Berikut saya kasih beberapa gambar dari beberapa adegan yang saya tonton
HTM Weekday (Minggu, Selasa-Kamis):
Rp. 150-100-75-50.000,-
HTM Weekend (Jumat-Sabtu):
Rp. 200-150-100-75.000,-
Bosen dengan film bioskop Indonesia yang isinya setan dan seks semua? Gak ada salahnya coba deh tonton teater, ya meski harus merogoh kocek yang cukup besar dan waktu luang yang panjang. Cerita Sie Jin Kwie di Negeri Sihir ini tidak cuman tentang peperangan dan cinta, tetapi ada unsur bakti pada negara dan orangtua. Banyak nilai-nilai yang bisa kita ambil. Jadi, coba ajak teman dan sekeluarga, selamat menyaksikan.
5 Februari 2012
Hellofest 8: Sesak Tapi Keren
Judul postingan kali ini adalah tentang Hellofest yang diselenggarakan 4 Februari 2012 di Balai Kartini. Saya bisa tahu acara ini dari kompas.com (kebetulan Kompas termasuk media partnership acara ini). Yup, saya termasuk yang senang membuka-buka situs berita.
Judul postingan: "Sesak Tapi Keren" sebenarnya sudah menggambarkan suasana acara ini. Yup, sesak banget, sampai satpam terpaksa menutup pintu Balai Kartini supaya tidak ada yang masuk lagi. Saya pribadi mau memesan makanan aja susah. Bahkan, paket Hoka-hoka Bento aja sampai ludes dan sebagian besar harus bersabar menunggu paket berikutnya datang (soalnya Hokben gak masak langsung di sana, cuman jualan).
Bicara mengenai makanan, ada baiknya bagi kamu yang mau datang tahun depan, bawa bekal sendiri aja. Ada beberapa alasan:
1. Stand makanan di sana kebanyakan menjual makanan Jepang, seperti sushi, takoyaki, bento, ramen, dsb. Jangan harap ada ayam bakar, ayam goreng, nasi goreng, dsb.
2. Stand makanan di sana hanya menjual makanan dengan paket hemat. Hemat dalam artian dikit porsinya. Terlebih mahal pula harganya (yaa.. namanya juga festival, wajarlah mahal, tetapi kalo sedikit juga agak gimana gitu ya)
Dari tadi bicara sesak, makanan, sebenarnya apa sih Hellofest? Hellofest adalah festival tahunan yang diadakan oleh HelloMotion Academy. HelloMotion Academy adalah sekolah untuk belajar animasi. Sekolah ini mengadakan festival untuk sebagai ajang memperkenalkan animasi ke masyarakat. Istilahnya meng-animasi-kan masyarakat Indonesia. Di pagelaran ke-8 kali ini yang mengusung tema "Anima Expo", setidaknya ada 3 acara utama: lomba pemutaran film pendek, lomba cosplay (Hellofest menyebutnya dengan istilah KostuMassa, yang artinya Massa yang memakai Kostum), dan bazar industri kreatif.
Di acara KostuMassa, para peserta yang jumlahnya ada seribuan lebih, (Wow, amazing!), mereka gak cuman bergaya, tetapi unjuk kebolehan dengan menari, memperagakan jurus-jurus super tokoh mereka, dan berakting di atas panggung, di hadapan penonton. Sepertinya Cosplayer tidak ada salahnya mengadu nasib dengan menjadi pemain teater atau mungkin sinetron. Hehehe... Pemenang akan dinilai oleh juri yang juga memakai kostum. Para Cosplayer tidak seluruhnya memakai kostum dari tokoh Jepang, tetapi ada juga lhoo yang memakai tokoh asli Indonesia, seperti Gatot Kaca dan Pandawa Lima.
Jujur aja, saya gak tau kalo ada bintang tamu di Hellofest. Saya cuman datang untuk cuci mata awalnya. Hehe. Siapa bintang tamu ya? Eng-ing-eng... Bintang tamunya adalah JKT48. Grup Idola waralaba yang merupakan saudarinya AKB48. JKT48 menyanyikan 2 lagu yang disadur dari Bahasa Jepang: Heavy Rotation dan Aitakatta. Seru juga rupanya menonton langsung konser artis. Lebih tepatnya calon artis kali ya. Hehehe. Sayang, panggung kurang tinggi. Jadi, hanya para penonton yang berdiri di depan yang bisa memotret dan menikmati mereka dari depan. JKT48 dan saudari mereka AKB48 akan datang konser di Jakarta tanggal 25 Februari di Balai Kartini. Ada yang mau ikutan?
Tadi saya bilang, awalnya cuci mata. Tetapi, rupanya mata saya tidak tahan melihat baju-baju yang dijual di sana, yang rata-rata dikasih diskon sekian persen. Jadinya deh, saya pulang dengan membawa 4 macam baju. Sebenarnya bisa lebih banyak lagi. Untunglah nafsu belanja saya dalam tahap wajar.
Stand-stand di Hellofest tidak hanya jualan makanan atau baju, tetapi juga memamerkan karya-karya kreatif, seperti boardgame (kalo gak tahu arti boardgame, saya kasih contoh yaitu Monopoli), komik, percetakan buku, animasi, kerajinan tangan, mainan rakit, situs game, aplikasi karaoke, dan masih banyak lagi. Hampir sebagian besar yang dipamerkan adalah karya kreatif anak bangsa. Banyak banget karya kreatif orang Indonesia yang positif, dan seharusnya yang seperti ini perlu didukung atau diberi apresiasi.
Berikut ini adalah beberapa hasil jepretan saya. Sayang kamera sempat lowbat sehingga tidak banyak yang bisa diabadikan.
Stand karaoke
Stand lego
Stand yang menyedot perhatian. Perang bantal. Cara mainnya mudah, pemain yang terjatuh dari tiang dinyatakan kalah.
Boneka imut ini namanya Owl. Di belakangnya ada Penguin. Sebenarnya masih ada 1 lagi yaitu Mr Fox tetapi tidak terfoto. Oya, bukan boneka sih. Lebih mirip bantal. Boneka bantal ini hampir saja buat saya mau beli. Harga mulai dari Rp 40.000.
Salah satu boardgame yang dipamerkan. Namanya Conquest. Menurut mbak-mbak penjaga stand, permainan ini gabungan halma dan catur. Kartu yang disediakan digunakan untuk menambah ability.
Stand Kompas memungkinkan pengunjung berubah jadi tokoh favorit kita
Siapa ya? Aduh, gak kenal. Hehe. Ini dibuat dari foto-foto kecil. Kalau gak salah, namanya kolase.
Papercraft! Semuanya yang di atas terbuat dari kertas.
Salah satu aksi Cosplay
Cosplay Pandawa Lima
Unjuk gigi Cosplayers di atas panggung. Ceritanya ini pangeran dan putri barbie.
MD Cosplayers
Ksatria Jedi vs Sith
JKT48. Badannya kecil-kecil, seperti anak SD ya. No offense.
Lihat, kan!? Keren-keren yaa... Tahun depan, Hellofest rencananya akan diselenggarakan 2 hari. Saya pribadi mendukung sekali bila diadakan 2 hari. Tahun depan ada yang mau menemani saya ikutan?
Judul postingan: "Sesak Tapi Keren" sebenarnya sudah menggambarkan suasana acara ini. Yup, sesak banget, sampai satpam terpaksa menutup pintu Balai Kartini supaya tidak ada yang masuk lagi. Saya pribadi mau memesan makanan aja susah. Bahkan, paket Hoka-hoka Bento aja sampai ludes dan sebagian besar harus bersabar menunggu paket berikutnya datang (soalnya Hokben gak masak langsung di sana, cuman jualan).
Bicara mengenai makanan, ada baiknya bagi kamu yang mau datang tahun depan, bawa bekal sendiri aja. Ada beberapa alasan:
1. Stand makanan di sana kebanyakan menjual makanan Jepang, seperti sushi, takoyaki, bento, ramen, dsb. Jangan harap ada ayam bakar, ayam goreng, nasi goreng, dsb.
2. Stand makanan di sana hanya menjual makanan dengan paket hemat. Hemat dalam artian dikit porsinya. Terlebih mahal pula harganya (yaa.. namanya juga festival, wajarlah mahal, tetapi kalo sedikit juga agak gimana gitu ya)
Dari tadi bicara sesak, makanan, sebenarnya apa sih Hellofest? Hellofest adalah festival tahunan yang diadakan oleh HelloMotion Academy. HelloMotion Academy adalah sekolah untuk belajar animasi. Sekolah ini mengadakan festival untuk sebagai ajang memperkenalkan animasi ke masyarakat. Istilahnya meng-animasi-kan masyarakat Indonesia. Di pagelaran ke-8 kali ini yang mengusung tema "Anima Expo", setidaknya ada 3 acara utama: lomba pemutaran film pendek, lomba cosplay (Hellofest menyebutnya dengan istilah KostuMassa, yang artinya Massa yang memakai Kostum), dan bazar industri kreatif.
Di acara KostuMassa, para peserta yang jumlahnya ada seribuan lebih, (Wow, amazing!), mereka gak cuman bergaya, tetapi unjuk kebolehan dengan menari, memperagakan jurus-jurus super tokoh mereka, dan berakting di atas panggung, di hadapan penonton. Sepertinya Cosplayer tidak ada salahnya mengadu nasib dengan menjadi pemain teater atau mungkin sinetron. Hehehe... Pemenang akan dinilai oleh juri yang juga memakai kostum. Para Cosplayer tidak seluruhnya memakai kostum dari tokoh Jepang, tetapi ada juga lhoo yang memakai tokoh asli Indonesia, seperti Gatot Kaca dan Pandawa Lima.
Jujur aja, saya gak tau kalo ada bintang tamu di Hellofest. Saya cuman datang untuk cuci mata awalnya. Hehe. Siapa bintang tamu ya? Eng-ing-eng... Bintang tamunya adalah JKT48. Grup Idola waralaba yang merupakan saudarinya AKB48. JKT48 menyanyikan 2 lagu yang disadur dari Bahasa Jepang: Heavy Rotation dan Aitakatta. Seru juga rupanya menonton langsung konser artis. Lebih tepatnya calon artis kali ya. Hehehe. Sayang, panggung kurang tinggi. Jadi, hanya para penonton yang berdiri di depan yang bisa memotret dan menikmati mereka dari depan. JKT48 dan saudari mereka AKB48 akan datang konser di Jakarta tanggal 25 Februari di Balai Kartini. Ada yang mau ikutan?
Tadi saya bilang, awalnya cuci mata. Tetapi, rupanya mata saya tidak tahan melihat baju-baju yang dijual di sana, yang rata-rata dikasih diskon sekian persen. Jadinya deh, saya pulang dengan membawa 4 macam baju. Sebenarnya bisa lebih banyak lagi. Untunglah nafsu belanja saya dalam tahap wajar.
Stand-stand di Hellofest tidak hanya jualan makanan atau baju, tetapi juga memamerkan karya-karya kreatif, seperti boardgame (kalo gak tahu arti boardgame, saya kasih contoh yaitu Monopoli), komik, percetakan buku, animasi, kerajinan tangan, mainan rakit, situs game, aplikasi karaoke, dan masih banyak lagi. Hampir sebagian besar yang dipamerkan adalah karya kreatif anak bangsa. Banyak banget karya kreatif orang Indonesia yang positif, dan seharusnya yang seperti ini perlu didukung atau diberi apresiasi.
Berikut ini adalah beberapa hasil jepretan saya. Sayang kamera sempat lowbat sehingga tidak banyak yang bisa diabadikan.
2 Februari 2012
Cerita di Februari
Udah masuk bulan Februari nih guys. Coba cek resolusi kalian, apakah berjalan sesuai rencana atau tidak? Semoga berjalan sesuai rencana ya. Hehe
Memasuki bulan Februari, saya sudah tidak lagi bekerja sebagai guru privat. Artinya, pekerjaan lain akan menanti saya. Bagi teman-teman yang punya perusahaan dan butuh orang, sangat boleh merekrut saya. Kualifikasi saya di bidang psikologi. Saya fresh graduate :)
Email: sufren88@gmail.com
No. HP: 089630303460
Oya, saya juga membuka usaha sampingan sejak Januari lalu. Silakan cek ya. Barangkali teman-teman yang lagi nge-skripsi memerlukan :)
Dan, saya juga lagi membuat sebuah buku. Buku apakah itu? Ya, ditunggu saja. Clue-nya bukan buku fiksi. Ini buku pelajaran. Hehe.
Segitu dulu cerita di Februari.
NB: Saya mau mengubah tampilan blog ini. Bosan melihat tampilan ini melulu.
Memasuki bulan Februari, saya sudah tidak lagi bekerja sebagai guru privat. Artinya, pekerjaan lain akan menanti saya. Bagi teman-teman yang punya perusahaan dan butuh orang, sangat boleh merekrut saya. Kualifikasi saya di bidang psikologi. Saya fresh graduate :)
Email: sufren88@gmail.com
No. HP: 089630303460
Oya, saya juga membuka usaha sampingan sejak Januari lalu. Silakan cek ya. Barangkali teman-teman yang lagi nge-skripsi memerlukan :)
Dan, saya juga lagi membuat sebuah buku. Buku apakah itu? Ya, ditunggu saja. Clue-nya bukan buku fiksi. Ini buku pelajaran. Hehe.
Segitu dulu cerita di Februari.
NB: Saya mau mengubah tampilan blog ini. Bosan melihat tampilan ini melulu.
Langganan:
Postingan (Atom)