Page

11 November 2012

Orang Istimewa - Sentuhan Akhir

Apakah mungkin kita bisa bertemu lagi?


Kukendarai motorku dengan kecepatan tinggi. Tiba di parkiran, aku langsung berlari secepat-cepatnya menuju ke tempatmu. Aku sampai di sana tepat ketika acara berakhir dengan peluh di sekujur tubuhku.

Sebelum kumasuki ruangan aula, aku membeli sebuah merchandise di counter penjualan suvenir. Sebuah boneka beruang yang memakai toga. Aku tidak paham mengapa beruang diidentikkan dengan wisuda. Mungkin karena rupanya yang imut dan ia dapat berdiri dengan dua kaki. Setidaknya lebih mending daripada jika harus memakai boneka kera. Karena tak ada kertas kado, jadilah kertas koran yang digunakan untuk membungkus. Ah, malu rasanya. Tetapi demi seseorang yang istimewa di hati, apa boleh buat. Yang penting tujuannya.

Para wisudawan tumpah ruah mengisi seluruh ruangan. Mereka sibuk berfoto-foto, entah dengan dosen, orangtua, atau teman-teman terdekat. Manusia memang senang menyimpan sesuatu untuk dikenang. Seperti halnya diriku sekarang... Aku juga ingin memiliki kenangan bersama dirimu di momen bersejarahmu ini.

Ketika aku melangkahkan kaki ke dalam aula, aku merasa seolah kembali ke masa lalu. Dulu aku pernah di sini dengan balutan toga yang persis sama. Rasa haru menyelimutiku. Rasanya baru kemarin aku bahagia. Kebahagiaanku kini sekali lagi terulang, tetapi itu karena aku merasakan kebahagiaanmu.

Tidak butuh waktu lama ketika ada yang memanggil namaku. Teman-temanmu. Mereka keheranan kenapa aku bisa ada di sini. Begitu pun dirimu.

Akhirnya aku kembali melihatmu setelah sekian lama. Dengan balutan kebaya, kamu tampak semakin berbeda. Kamu bagaikan putri raja. Memang harusnya begitu. Ini hari kemenanganmu. Dan, kamu layak merayakan dengan cara seperti ini.

Dan, tidak butuh waktu lama pula, aku terseret ke dalam arus foto-foto bersama. Dalam kesempatan ini, aku meminta izin untuk berfoto berdua denganmu. Percayalah, lama berhubungan denganmu, aku tak pernah berfoto bersamamu. Tentu saja menjadi agak aneh kalau tiba-tiba aku meminta foto berdua denganmu kala itu. Tetapi untuk momen seperti ini, siapa yang tidak mengizinkan. Semua orang diliputi kegembiraan. Semua orang sedang tidak peduli dengan masalah yang lain. Jadilah ini foto pertamaku yang bisa berdua denganmu.

Tetapi, penantianku bukan tentang berfoto atau bertemu denganmu.

”Eh, boleh kita bicara sebentar?”

”Hah? Ada apaan Kak?”

”Ada yang ingin kusampaikan, tetapi lebih baik di sana saja. Tidak akan lama kok.” Aku menujuk ke arah koridor yang berada di samping aula.

Kamu awalnya enggan, tetapi aku tahu bahwa kamu tidak akan menolak. Kamu anaknya lugu dan tidak pernah menaruh curiga. Itu salah satu yang kusuka darimu.

”Ada apa ya Kak?”

”Ini,” aku lalu memberikan bungkusan kertas koran itu untukmu. Seperti yang kuduga, kamu pasti terkejut. Terkejut karena bungkusannya, aku rasa.

”Aku kan belum berulang tahun.”

”Memang kalau kasih hadiah, harus tunggu ulang tahun ya.”

”Ehm, jangan dibuka sekarang ya,” kataku saat kau menerimanya.

”Isinya apaan sih? Gorengan ya?”

”Ya, ini gorengan mahal. Aku minta Abangnya goreng khusus untukmu. Terdengar sangat garing tidak?”

Kamu lalu nyengir mendengar leluconku. ”Iya, sangat garing,” katamu. ”Terima kasih ya Kak. Kakak baik banget padaku,” katamu lagi.

Aku tersenyum mendengarnya. Aku baik pada setiap orang, seperti katamu bahwa aku ini senior yang pintar dan baik hati. Tetapi, untukmu, aku akan selalu baik. Aku rela menjadi orang baik demimu. Setiap bantuan yang kuberikan adalah bentuk ketulusanku.

Di saat seperti ini aku membayangkan ada dentingan piano yang mengalun lembut. Mengiringi percakapan di antara kita berdua.

”Ada sesuatu lain lagi yang ingin kuberikan kepadamu. Tetapi, ini bukan sebuah benda.”

Di saat seperti ini aku membayangkan dentingan piano berpadu dengan gesekan biola. Ada tensi tinggi yang tercipta. Tensi itu mencapai klimaksnya saat kumulai mengatakan...

”Sejak dulu aku ingin sekali mengatakan hal ini,” aku diam sebentar. Kupastikan tidak ada keributan yang dapat membuatmu tidak jelas mendengar, lalu kukatakan, ”aku suka kamu.”

Di saat seperti ini aku membayangkan musik orkestra mengalun megah. Suara drum bergemuruh memberikan efek kejut kepada siapa pun yang mendengarkan, termasuk dirimu. Lalu, musik berhenti. Kemudian hening. Aku bisa merasakan jeda begitu panjang karena kamu pasti mencoba mencerna isi pernyataanku, meski tadi sudah sangat jelas kukatakan.

Aku tak ingin kamu jadi salah tingkah, maka biarkan diriku yang memecah kebisuanmu itu.

”Kamu enggak kaget kan,” kataku mencoba menerka bahwa kau sudah tahu mengenai isi hatiku.

”Ee... Gak sih... Banyak cowo yang emang suka aku kok,” katamu akhirnya. Aku tidak menganggapnya sebagai jawaban yang jujur darimu. Kamu bermaksud melucu, aku tahu. Jawabanmu mengartikan bahwa terkaanku salah. Kamu tidak tahu isi hatiku selama ini.

”Aku tidak peduli dengan cowo yang lain. Tetapi, aku serius bilang yang tadi itu kepadamu,” tegasku.

Kemudian hening lagi. ”Tapi, Kakak sudah seperti Kakak bagiku...”

Sebuah alasan klasik.

Aku tidak menganggap alasan itu sebagai penolakan. Tidak sama sekali tidak. ”Kamu pasti butuh waktu memikirkan apa yang kukatakan, sebaiknya kamu kembali. Tuh, teman-temanmu memanggil.”

Kamu menoleh ke aula dan memang benar teman-temanmu memanggilmu.

”Pergilah. Tidak enak bila kau dan aku di sini terus. Aku juga harus segera pergi. Nanti kita lanjut dengan SMS-an aja ya,” ujarku sambil melirik jam.

Kulihat dirimu enggan beranjak, tetapi perlahan kamu pun memutuskan pergi.

Di saat seperti ini aku membayangkan hanya gesekan biola saja yang mengalun. Mengiringi kepergianmu. Bahkan, di saat seperti ini aku membayangkan kamu bergerak pergi dengan sangat lambat karena aku tidak ingin kamu begitu cepat hilang dari pandanganku.

Jangan pergi, teriakku dalam hati. Kemudian, aku memanggil namamu lagi, ”Apakah kelak kita dapat bertemu kembali?”

Gak tahu. Semoga aja deh Kak.”

Inilah sentuhan terakhir yang dapat kuberikan kepadamu... sebuah cinta.

selesai?...

3 November 2012

Orang Istimewa - Tiga Kata

Tidak bisakah kau berikanku sebuah kesempatan?


”Hei, kok bengong....” Suara temanku seketika menghapus semua nostalgiaku.

Aku kembali ke sini... Kembali ke hadapan CV itu. Aku tahu kamu sekarang ada di JCC, tak jauh dariku yang sekarang ada di Istora Senayan.

Aku melirik jam tanganku. Jam 3 sore. Ini adalah saat namamu dipanggil untuk menaiki panggung, lalu menerima tabung wisuda. Masih ada waktu 1 jam lagi sebelum upacara berakhir.

”Hei, kenapa dari tadi gue lihat loe kayak uring-uringan?” tanya teman kantorku. ”Lagi sakit!?”

Gak ada apa-apa kok,” jawabku sekadar menenangkan perasaanku dan kebingungan temanku.

Seorang pemuda lalu mendatangi booth perusahaanku. Dia melihat daftar lowongan yang terpampang di standing banner. Ia bertanya padaku macam-macam, seputar profil perusahaan, alamat, dan sebagainya. Kemudian, ia menyerahkan sebuah amplop yang pastinya berisikan CV dan macam-macam kelengkapan lamaran lainnya. Satu CV lagi untuk kepelototi.

Sebelum meninggalkan tempat, ia bertanya, ”Kapan saya bisa mendapat kabar?”

”Ya, nanti kami akan memberi kabar jika Mas masuk kualifikasi. Akan kami kabari via telepon.”

”Oke, baik Pak. Terima kasih ya.”

Belum ada sepuluh menit, pemuda itu balik lagi ke booth.

”Maaf, saya lupa mencantumkan nomor ponsel saya. Boleh minta CV-nya lagi.” Aku menyerahkan kembali amplop cokelat yang berisikan CV-nya itu. Dia mencoba mencari-cari pulpen di tasnya, tetapi tampaknya tidak ketemu.

”Haduh... Mas mau melamar kerja tapi tidak ada persiapan. Lupa cantumin nomor telepon, lupa bawa pulpen. Bagaimana ini...,” ujarku sedikit galak sambil meminjamkan pulpen kepadanya.

”Maaf Mas, soalnya saya menyeberang pulau. Saya datang dari Kepulauan Seribu.”

Hah? Kepulauan Seribu. Sungguh niat pemuda ini demi mencari sebuah pekerjaan.

Setelah kupastikan ia pergi dan tak kembali, aku melihat CV-nya. Asalnya memang benar dari Kepulauan Seribu. Ia tinggal di Pulau Pramuka. Latar belakangnya cukup wow, penuh dengan prestasi. Pernah menang lomba catur, lomba karya tulis, dan sebagainya. Ia pun aktif dalam organisasi, seperti Karang Taruna, Pramuka, dan sebagainya.

Aku jadi teringat dengan diriku sendiri. Aku pun berprestasi, meski tidak dalam perlombaan, melainkan dalam studi. Aku pun aktif dalam organisasi. Namun, pencarian pekerjaan tidak segampang yang kukira. Prestasi dan pengalaman organisasi itu rupanya tidak membantu banyak. Betapa usahaku mencari sebuah pekerjaan impian di sebuah perusahaan impian seringkali kandas. Hanya karena aku tidak mau menyerah, aku akhirnya mendapatkan pekerjaanku ini sekarang.

Tidak boleh menyerah. Tiga kata yang sering kuucapkan kepada diriku sendiri ketika aku hampir putus asa. Aneh sekali aku bisa untuk tidak menyerah dalam hal apa saja, kecuali untuk kenyataan perasaanku sendiri.

Aku segera teringat pada satu pernyataan sahabatku. Jangan menyerah 'tuk perjuangkan isi hatimu sampai kamu tahu gambaran perasaan yang sesungguhnya kepadamu. Itu adalah kalimat yang sahabatku ucapkan saat aku curhat kepadanya mengenai pendaman perasaanku kepada seseorang.

Aku mempelajari CV pemuda dari seberang pulau itu. Sepintas saja aku bisa melihat bahwa kualifikasinya tidak cocok dengan perusahaanku meski ia berprestasi dan punya pengalaman organisasi. Tetapi, setidaknya ia berusaha daripada tidak sama sekali, pikirku dalam hati.

Pikiranku barusan itu membuatku jadi merenungi diriku sendiri. Aku menghela nafas. Pemuda seberang pulau itu sungguh sialan. Mungkin aku kena karma karena tadi aku sedikit galak padanya, sekarang giliranku yang seperti tertampar. Tamparan keras karena sekian lama, aku seorang pengecut.

Kini aku tersadar aku harus perjuangkan perasaanku meskipun mungkin akan berakhir tidak sesuai harapanku.

Bro... Gue ingin pergi keluar sebentar. Mau pergi nyari cemilan. Secepatnya gue balik.” Aku berpamitan kepada temanku yang pasti makin terheran-heran dengan tingkahku.

Aku merasa bahwa ini adalah kesempatan terakhir untuk dapat bertemu denganmu. Jika aku dulu menganggap pertolongan untuk skripsimu adalah sentuhan terakhir, terpaksa aku meralatnya. Masih ada satu sentuhan yang ingin kutunjukkan kepadamu. Dan, aku sudah memutuskan...

Banyak memori yang aku simpan tentang dirimu, meski aku tahu mungkin kamu hanya menganggapku kerikil yang sering terlewatkan. Aku ingin kamu tahu bahwa aku bukanlah kerikil, melainkan sebuah batu berharga.

Dan, aku ingin kamu juga tahu tentang tiga kata yang seringkali didengungkan oleh para penyair dalam puisi-puisi mereka.

bersambung

25 Oktober 2012

Orang Istimewa - Dua Kepingan

Apakah perjumpaan kita memang dirancang sementara dan tak pernah bisa selamanya?

Memasuki semester akhir, menjelang hari kelulusanku, rasanya aku akan kehilanganmu. Pertemuan kita tidak akan sesering dulu. Aku tak akan bisa lagi melihatmu dari dekat. Hanya memerhatikanmu dari kejauhan.

Aku pikir segala kedekatan ini akan selesai sampai kemudian kau dilanda tugas akhir bernama skripsi yang nyaris membuatmu frustrasi.

”Kak, judulku kan begini... jadi latar belakangku harus bicara apa saja ya?”

Sejak dulu kau memang sering meminta bantuanku saat kau mengalami kesulitan dalam tugas kuliah. Entah berapa banyak tugas-tugas kuliahmu yang pernah kubantu atau sekadar mengoreksinya. Aku tidak mempersoalkan. Bagiku itu adalah sebuah kehormatan. Waktu itu tidak jadi soal, tetapi sekarang...

Aku menjadi penasaran. Aku belum bekerja. Aku masih bisa mampir ke kampusku tersayang. Jadi, kujadwalkan pertemuanku denganmu, demi obrolan skripsimu, meski sebenarnya...

”Eh, boleh tanya gak? Kamu menganggapku sebagai apa?” tanyaku penasaran.

”Maksudnya?” tanyamu heran.

”Yaaaa, kita kan sudah lama mengenal, cuman mau tahu saja, kamu menggangapku seperti apa.” Ada rasa deg-degan saat aku mengutarakannya. Aku takut kau bisa membaca isi hatiku.

”Hmm... Senior yang pintar dan baik hati,” jawabmu.

Jawaban yang membuatku senang sekaligus kecewa. Aku bersyukur bahwa aku pintar dan baik hati di matamu. Tetapi, apakah aku hanya pantas menjadi seniormu?

Tahukah kamu bahwa di hidup ini tidak pernah ada ”satu” terlebih dulu, melainkan selalu ada ”dua”. Dari dua, barulah menjadi satu. Ibarat dua keping puzzle, disatukan untuk menjadi satu gambar yang utuh. Kamu dan aku adalah dua buah kepingan itu. Namun, apakah kita dapat bersatu dan menyatu?

Sekarang aku tahu apa itu galau sejak timbul rasa itu... Hari-hari berikutnya memang adalah kegalauan. Hari-hari berikutnya aku senang mengutip kata-kata romantis untuk kupasang di status jejaring sosial. Aku memasangnya kadang hanya sebagai penyemangat, kadang berharap kamu membacanya, walau ku tahu itu kecil kemungkinannya.

Saat aku sudah diterima bekerja, seharusnya itu menjadi hari membahagiakan bagi kebanyakan sarjana. Dari mesin penghabis uang, kami bertransformasi menjadi mesin pengumpul uang. Tetapi, tidak untukku. Aku merasa bekerja membuat sebagian hidupku hilang. Misalnya, jumlah waktu luang untuk bersenang-senang. Yang lainnya adalah kehilangan waktu untuk bertemu dengan kamu.

Biasanya kau yang sering menghubungiku dulu saat butuh pertolongan. Tetapi, kini aku yang rajin menanyai kabarmu. Kenapa begini? Karena aku tidak ingin lepas darimu meski keadaan memisahkan kita.

Aku pun sering menolongmu tanpa dimimta. Kenapa aku bisa bertindak bagai malaikat? Apakah saat tertembak panah asmara oleh cupid, benih-benih malaikat ikut tertanam di hati seseorang? Lucu sekali aku memikirkan pertanyaan ini.

”Aku sudah menemukan jurnal yang bisa menjadi referensi skripsimu. Dan aku juga sudah mendapatkan alat ukur yang cocok untuk variabelmu itu. Coba cek email kamu. Aku sudah kirimkan.”

”Wah, thanks a lot, Kak. Kakak baik sekali ya... Aku selalu tertolong berkat Kakak. Mengapa Kakak sebaik ini ya padaku?”

”Aku baik pada setiap orang. Bukankah kamu pernah bilang bahwa aku senior yang pintar dan baik hati.”

”Eh, iya ya... Hehe...”

Coba dianalisis dengan cara seperti ini.... Sini ku bantu sebar kuesionernya... Boleh pakai analisis statistik itu asalkan bla-bla... Begitulah seterusnya, aku terus memberikan sentuhan-sentuhan pertolongan untukmu sampai kamu akhirnya... lulus. Senyummu cerah merekah saat kamu menerima piagam kelulusan. Itu adalah sentuhan terakhirku... untuk kamu.

Aku tidak pernah tahu apakah namaku ada dalam Kata Pengantar skripsimu. Tetapi, bagiku itu tidaklah penting. Aku hanya ingin tahu apakah namaku bisa menjadi sebuah kata untuk pengantar tidurmu atau pengantarmu kala kau terjatuh.

Apa aku bisa?

bersambung

19 Oktober 2012

Orang Istimewa - Pertemuan Pertama

Mengapa aku mendadak jadi kangen kamu?

Aku terhenti pada sebuah CV. CV yang kumaksud ialah Curriculum Vitae atau biodata singkat pelamar kerja. Pekerjaanku sekarang adalah menyortir CV dan memanggil pelamar yang masuk kualifikasi untuk kuberikan tes dan wawancara. Menjadi seorang staf rekrutmen membuatku harus gesit. Jumlah CV yang masuk bisa puluhan per hari. Apalagi sekarang, di acara jobfair, aku bisa menerima ratusan CV. Aku tak boleh berlama-lama memelototi satu CV saja karena aku akan kehilangan banyak waktu untuk mengerjakan hal yang lain.

Tetapi, CV yang satu ini buatku terpaku cukup lama. Bukan karena latar belakang pendidikannya, bukan pula fotonya. Ehm, kuakui pelamar ini terlihat cukup manis. Tetapi, tidak semanis orang itu. Aku terpaku karena namanya... Namanya persis sama dengan orang itu.

Orang itu adalah kamu... Aku teringat kembali kepada dirimu. Dan, aku teringat pula bahwa hari ini adalah hari bersejarah untukmu. Wisuda. Dari seorang pelajar, kamu akan menjelma menjadi seorang terpelajar. Kamu akan menghadapi kehidupan yang lebih keras. Atau, mungkin kamu sekarang sudah mengalaminya?

Aku masih ingat betapa lugunya dirimu kala itu. Di perpustakaan kamu masih kebingungan mencari-cari buku yang kamu inginkan. Lalu, kamu minta bantuanku yang kebetulan ada di sana. Aku yang sudah terbiasa berkunjung ke perpustakaan dengan mudahnya menemukan buku yang kau inginkan.

Tetapi itu, bukan pertemuan kita yang pertama. Pertemuan kita yang pertama adalah di dunia maya. Memang canggih teknologi zaman sekarang. Aku tak mengenalmu, tak pernah tahu tentang dirimu sebelumnya. Mungkin kamu yang tahu tentangku lebih dulu. Hanya karena kita satu fakultas, jadi aku tak mempermasalahkan ketika aku menerimamu sebagai teman di salah satu situs jejaring sosial.

Tidak ada yang membuat kamu tampak luar biasa meski kamu wanita, meski kamu lajang. Tidak ada yang istimewa saat pertama kali kumelihat profil dirimu di situs itu. Di situs itu jugalah kita pernah bercakap-cakap sampai takdir membuat kita bisa kontak secara langsung.

Adalah organisasi kemahasiswaan itu yang membuatku dapat mengenalmu lebih jauh. Ya, kita pernah sama-sama berjuang di organisasi itu. Jatuh-bangun menyukseskan sebuah acara. Bekerja sama denganmu membuat diriku banyak tahu tentang dirimu, jauh lebih banyak dari apa yang kamu cantumkan di profil situs jejaring sosialmu itu. Aku jadi tahu makanan favoritmu, warna kesukaanmu, domisilimu, IPK-mu, kepribadianmu, dan sebagainya.

Aku jadi seniormu karena kamu juniorku. Kita jadi partner dalam sebuah kepanitiaan. Kita jadi teman saat kita sedang berbagi cerita. Seharusnya tidak ada yang salah dengan itu semua. Tidak ada yang salah dengan peran-peran yang kujalani denganmu. Tetapi kemudian, perlahan-lahan aku rasanya ingin menjalani peran yang lain tanpa engkau tahu. Aku telah hanyut ke dalam kehidupanmu. Dan, keinginan ini adalah sebentuk kesalahan yang terjadi pada diriku. Maafkan aku...

Hari-hari berikutnya menjadi seperti siksa bagiku. Kau selalu hadir di kepalaku dan hatiku. Mengganggu hari-hariku. Meski kucoba menghindarimu, kau tetap ada. Jejak dirimu telah membekas di sudut ingatanku. Aku seperti terserang penyakit kronis. Tetapi, lucunya aku tak ingin sembuh. Dan, aku tak tahu caranya mengatakan padamu tentang penyakit yang sedang kudera ini kepadamu.

bersambung

30 September 2012

Tidak Harus Kaya Demi Cinta Berjaya

Judul: Honey Money
Pengarang: Debbie
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2010
 
"Debbie telah memperlihatkan kepada kita bahwa pengalaman pahit kehidupan (khususnya percintaan) bisa diubah menjadi sebuah karya yang manis, semanis madu (honey) dan tentunya membuahkan uang (money) untuk dirinya sendiri." 

Itu adalah kalimat yang saya tulis sebagai testimoni novel teenlit Honey Money, karya Debbie.

Honey Money adalah novel yang sangat remaja. Remaja yang masih dengan pemikiran bahwa mewah adalah segalanya. Maka, cerita ini mengetengahkan ketiga tokoh: Cewe sederhana yang mau cari pacar tajir, cowo tajir tetapi matre, dan seorang cowo lain yang juga belakangan diketahui mau memacari cewe tajir. Ketiganya dibelit oleh satu persoalan, yaitu cinta.

Prity "Dee" Diana. Ia cewe sederhana, meski dengan kehidupan yang hampir sempurna. Punya sahabat-sahabat, tetangga, dan keluarga yang baik dengannya. Tetapi, kesempurnaannya terusik oleh satu hal: Ia tidak punya pacar (honey) dengan uang (money) yang banyak. Untungnya, kehidupannya berjalan bak kejatuhan bintang. 
 
Dee menemukan pacar idealnya itu di pesta ultah temannya. Rendy Alexander: Cowo tajir yang keren, romantis, dan hal-hal sempurna lainnya. Jika susah membayangkan cowo demikian, boleh bayangkan Edward Cullen deh. Awalnya, Dee mengira Rendy adalah cowo impiannya. Segalanya sudah mau berjalan sempurna. Namun, sampai meninggalnya ibu tiri Rendy menguak sebuah kebenaran, Rendy tidak sekaya yang Dee pikir. 

Novel remaja kebanyakan menghadirkan kisah berakhir bahagia. Bukan akhirnya yang penting, melainkan bagaimana penulis mengakhiri kisahnya, itulah yang penting. Dan menurut saya pribadi, Debbie memberikan akhir kisah yang sedikit mengandung kejutan bagi mereka yang baru membaca pertama kali tulisannya. Sayangnya, bagi saya kejutan itu tidak terlalu mengejutkan. Karena proses ending-nya tidak berbeda jauh dengan novel perdananya, Not Just A Fairy Tale. Yaitu, sepasang kekasih yang saling mencintai, kemudian harus saling berpisah karena suatu hal, lalu bertemu kembali. Sebuah repetisi. Repetisi terkadang bisa menjadi gaya khas penulis, tetapi bisa pula menjadi kelemahan. Mari kita tunggu seperti apa kelak novel ketiganya.
 
Hanya saja, Honey Money dari segi konsep karakter, dialog, sampai plot memang sudah lebih terkemas lebih apik daripada Not Just A Fairy Tale, yang menurut saya lebih mirip cerita pendek, tetapi dibuat panjang-lebar. Sebuah kemajuan yang baik. Good job, Deb. I really like this novel.  
 
Honey Money jelas menjadi oke, karena segala hal yang terkait dengan isi ceritanya tersangkut paut dengan kisah hidupnya. Setengah kisah Honey Money adalah setengah kisah hidup Debbie. Setengah kisah hidup Debbie hanyalah seperempat kisah hidup saya. Jangan langsung berpikir yang macam-macam dulu. Membaca Honey Money membuat saya terkenang kembali dengan kehidupan SMA saya. Ya, saya dan penulis bersekolah di SMA yang sama. 

Ah, Permata Cup, permusuhan anak IPS dan anak IPA, ada segerombolan anak yang rela telat masuk sekolah demi merayakan ultah seorang temannya, kemudian prom nite dengan bertukar api lilin (meski aslinya tidak di Bali), semuanya adalah nyata dan pernah ada. Terlebih lagi, nama-nama teman-teman Dee: Liana, Sandra, Suhendra, Tutut, Anthony, sampai nama-nama guru Dee: Pak Kusnandar, Ibu Damayanti, Ibu Hastuti, Ibu Julita, juga semuanya nyata dan pernah ada. 

Ah, hati saya pun menjadi ngilu. Kisah hidup saya di SMA memang tidak seseru Debbie. Memang kan nama saya tidak ada di novel ini. Seperti yang sudah saya katakan, saya hanya menjadi seperempat kisah hidup Debbie. Bagian yang kecil, mungkin sangat kecil. Tetapi, saya tetap bangga pernah punya teman seperti Debbie. Dia adalah teman yang hebat yang pernah saya kenal. Dia telah membuat sebuah mahakarya yang akan selalu diingat oleh semua orang yang pernah ambil bagian dalam hidupnya. 
 
Oya, jika saya perhatikan Not Just A Fairy Tale terinspirasi dari ceritanya pas SMP, lalu Honey Money terinspirasi dari ceritanya pas SMA, bisa dibilang kisah novelnya berkembang seiring kisah hidupnya. Mari kita doakan semoga kisah hidupnya selalu bahagia. Dengan demikian, kita kan membaca kisah-kisah bahagia di novel selanjutnya. 
 
Meski tidak dijadikan sponsor, banyak tempat-tempat makan yang disebutkan dalam novel ini lho, seperti Pancious, Cheese Cake Factory, Mie Tarik Laiker, Warung Tekko, dan lain-lain. Jadi, novel ini pun bisa dijadikan rujukan tempat nongkrong atau tempat kencan anak muda. Hahaha.

P.S. Ilustrator dalam Honey Money adalah Sandra P. K. Saya kenal Sandra memang pandai menggambar karikatur. Gak ada salahnya kan, kalau Sandra dan Debbie berkolaborasi membuat sebuah komik. Hehehe.

11 September 2012

Para Motivator Itu...

Andrie Wongso, dijuluki sebagai Motivator No. 1 di Indonesia. Gaya bicaranya yang berapi-api kerap mengundang decak kagum banyak orang. Salam Luar Biasa, itu adalah salam khasnya. Kisahnya seringkali jadi acuan sejumlah motivator muda lainnya, yaitu Sekolah Dasar Tidak Tamat (SDTT), tetapi bisa sukses. Wajarlah, bisa saya sebut Andrie Wongso adalah motivator generasi tua atau bisa dibilang pionir profesi motivator. Kesuksesan yang diraih Andrie Wongso tak terbilang mudah. Andrie memang tidak tamat SD karena sekolahnya ditutup akibat peristiwa G30S. Ia yang asli Malang datang ke Jakarta untuk mengubah nasib. Awal karirnya di Jakarta dimulai dari mendirikan perguruan kungfu bernama Hap Kun Do, menjadi pelayan toko, sesekali menjadi model pemotretan kaos, sempat menjadi bintang film laga Taiwan (cita-citanya sejak dulu). Tetapi, Andrie tidak bahagia berperan sebagai bintang film. Kembali lagi ke Jakarta, Andrie Wongso kembali galau.

Kesukesan Andrie Wongso dimulai saat ia menerbitkan kartu ucapan bermerk Harvest. Kartu ucapan ini berisikan kata-kata mutiara, kata-kata bijak, kata-kata semangat. Ide bisnis ini pun awalnya karena seorang teman kos Andrie yang menyontek kata-kata mutiara di buku hariannya karena merasa sangat bagus dan bisa memotivasi. Andrie memang gemar menuliskan kata-kata mutiara dan motivasi di buku hariannya sebagai pelecut semangat. Dengan bantuan kekasih yang juga nanti jadi istrinya Lenny Wongso, ia mulai mengumpulkan modal menerbitkan kartu ucapan untuk dijual. Awal-awalnya tidak mudah menjual kartu ucapan ke toko-toko. Banyak yang merasa tidak perlu membeli barang seperti ini. Tetapi, Andrie dan Lenny tidak menyerah. Akhirnya, mereka pun mendapatkan 1 toko yang mau membeli kartu ucapan mereka. Lambat laun, kartu ucapan merek Harvest semakin populer sampai memunculkan Harvest Fans Club tahun 1989. Namun, tahun 2000 teknologi SMS berkembang yang membuat penggunaan kartu ucapan tidak lagi efektif. Tahun 2003, Harvest ditutup. Dan Andrie Wongso menjajaki babak baru, sebagai motivator. Kini kata-kata mutiara tidak lagi hadir dalam kartau ucapan, tetapi hadir langsung lewat gaung keras soundsystem dari ucapan seorang Andrie Wongso. Andrie Wongso kemudian mendirikan AW Motivation, AW Success Shop, AW Publishing, dan lain-lain. Slogan khasnya adalah Success is My Right! Sukses adalah Hak Saya!


Merry Riana, dijuluki Motivator Wanita No.1 di Asia. Merry Riana salah satu motivator wanita tanah air kita. Kesukesannya justru diraihnya di negara lain, yaitu di Singapura. Kerusuhan Mei tahun 1998 membawanya ke Singapura. Ia kuliah di Nanyang Technology University (NTU). Tetapi, masa-masa awal kuliah Merry di NTU amat pelik. Ia hanya punya uang saku 10 dolar per minggu, sementara kesulitan ekonomi keluarganya sejak kerusahan Mei membuat Merry juga tidak tega meminta uang jajan lebih. Maka, dimulai penghematan gila-gilaan ala Merry Riana. Sarapan roti tawar di toilet, minum air keran, sesekali memesan nasi, sayuran, tahu dicampur kuah kaldu seharga 1 dolar saja (makanan termurah), dan memasak mi instan jika malam hari kelaparan. Namun, perkenalannya dengan Alva (yang kelak jadi suaminya) memberikan Merry penguatan baru. Pada ulang tahun yang ke-20, ia pun berani membuat resolusi: Ingin bebas finansial pada usia yang ke-30. Perjuangan mewujudkan resolusinya dimulai dari liburan tahun kedua kuliah. Ia kemudian mengawali karir sebagai penyebar brosur di tempat umum, lalu beralih ke pegawai toko bunga, pramusaji di hotel, mencoba berbisnis penjilidan skripsi, MLM, dan jual beli saham. Kesuksesannya baru direngkuhnya saat ia bekerja sebagai penjual asuransi. Merry bekerja dengan tekun dan disiplin ketat, yaitu bekerja 14 jam sehari dengan target 20 kali presentasi setiap harinya. Pada tahun 2004, ia sukses mendapatkan penghasilan 1 juta dolar dalam usianya yang ke-26. Resolusinya terwujud. Kemudian, Merry Riana mendirikan Merry Riana Organization, sebuah organisasi  yang bertujuan menjadikan anak muda sesukses dirinya. Tagline-nya adalah Touching Heart, Changing Lives. Pada ulang tahunnya ke-30, Merry membuat resolusi baru yang lebih berani, yaitu memberi dampak positif pada satu juta orang di Asia, terutama di tanah kelahirannya, Indonesia.

Bong Chandra, dijuluki sebagai Motivator Termuda di Asia. Bong berani sebut ia muda karena ia sendiri belum genap berusia 25 tahun (ia kelahiran Oktober 1987). Masa kecilnya tidak terbilang menyenangkan. Usia 4 tahun, ia terdiagnosis kelainan paru-paru. Tubuhnya kurus dan ia sering sakit-sakitan. Keterpurukannya bertambah karena perusahaan keluarganya bangkrut dan terlilit utang. Tetapi, Bong ingin jadi orang sukses. Ia pun menjadi salesman. Apa pun yang bisa dijual, ia jual dari CD, boneka, cokelat, sampai dengan tank top wanita. Kesuksesan Bong dimulai saat ia berusia 22 tahun, ketika ia mampu berbicara di hadapan 50.000 orang. Bong Chandra tidak hanya menjajal diri sebagai motivator, ia pun merambah ke bisnis cuci mobil, pijat refleksi, mendirikan sekolah Bong Chandra School of Billionaire, dan menjadi developer perumahan Ubud Village di daerah Ciledug. Kisah hidup Bong Chandra memang belum tergali lebih banyak, tetapi sepak terjangnya dalam membagikan rahasia sukses terbilang inspiratif.

Benang Merah
Ketiga motivator itu memiliki penderitaan yang berbeda-beda. Tetapi, kesamaannya adalah mereka punya tekad bulat: ingin sukses. Kisah hidup mereka mengajarkan tidak ada kesuksesan yang bisa diraih secara instan. Mereka menjalani seluruh karir awal dengan tabah dan sabar. Mereka berjuang mengerjakan apa saja karena mereka tahu apa yang mereka lakukan itu hanya sementara. Kelak mereka akan mendapat karir dan tujuan hidup yang mereka impikan.

Usia, latar belakang pendidikan, jenis kelamin, dan lain sebagainya bukan penghalang untuk sukses. Kesuksesan dimulai dari satu niat, dilanjutkan dengan sebuah tekad kuat, dan sikap positif yang ketat bahwa kesuksesan yakin bisa didapat. Tidak ada satu pun yang dapat menghalangi diri kita untuk sukses, kecuali diri kita sendiri.

1 September 2012

Merry Riana dan Cerita Impian Saya

Titik awal keberhasilan adalah impian. Itu adalah kalimat yang tertera di sampul belakang buku biografi Merry Riana, Mimpi Sejuta Dolar yang diklaim sebagai No. 1 National Best Seller.

Merry Riana adalah motivator yang sedang naik daun di Indonesia. Tweet-tweet-nya selalu mendapat sambutan dari followers-nya. Merry Riana sudah saya kenal sebelum ia menerbitkan buku Mimpi Sejuta Dolar yang ditulis oleh Alberthiene Endah, penulis kawakan yang sudah menuliskan biografi-biografi selebritas terkenal, seperti Chrisye, Krisdayanti, Titiek Puspa, Ani Bambang Yudhoyono, dll. Maksudnya kenal, bukan kenal secara personal ya. Saya mengenalnya terlebih dulu lewat seminar Mbak Merry yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi Untar tahun 2011.

Merry Riana? Nama yang asing saat itu. Tetapi, berdua bersama teman saya, Yonathan, saya nekat saja mengikuti seminar yang bertempat di Central Park. Dengan memakai blus warna merah, Mbak Merry mengawali acara itu dengan menyanyikan Indonesia Raya. Sangat patriotik. Seminar motivasi Mbak Merry tipikal seminar motivasi kebanyakan. Diawali dulu dengan kisah-kisah "memprihatinkan" selama ia menjadi mahasiswa di Singapura, lalu dilanjutkan dengan tekad Mbak Merry di hari ulang tahunnya yang ke-20 untuk sukses di usia 30 tahun. Kemudian, seminar berlanjut ke value-value apa yang perlu dimiliki oleh seseorang yang mau sukses.

Namun, uniknya di setiap beberapa segmen pembahasan, Merry selalu mengambil jeda untuk meminta para peserta seminar mengucap semacam sumpah. Salah satu sumpah yang sempat saya catat:

Saya akan memberikan 100 persen dari saya untuk acara seminar ini. Saya adalah orang sukses!

Para peserta seminar harus mengucap kalimat sumpah itu dengan lantang.

Menjelang akhir seminar, Mbak Merry mengundang 1 pria dan 1 wanita yang pandai berakting untuk naik ke panggung. Mereka disuruh memeragakan skenario yang disusun oleh Mbak Merry. Skenario itu bercerita tentang sepasang suami istri yang bersiap memasuki rumah baru mereka yang terletak di lantai paling atas sebuah apartemen. Saya lupa lantai berapa. Yang pasti di atas lantai 50. Karena lift rusak, mereka harus naik tangga. Selama proses perjalanan menaiki tangga, mereka kerap mengeluh capai, tetapi mereka tidak mau menyerah, karena ini rumah impian mereka. Saat mereka sudah sampai tepat di depan pintu kamar mereka, mereka baru sadar bahwa kunci kamarnya ketinggalan. Cerita stop di sana. Mbak Merry memberikan refleksi bahwa saat kita ingin menuju ke puncak kesuksesan, kita tidak boleh lupa dengan kunci tersebut. Kunci tersebut berupa inti sari seminar Merry Riana, yakni Personal Excellence dan Social Excellence. Itulah yang mesti kita bawa jika ingin sukses.

Saya membuka catatan handout seminar tersebut dan tersenyum geli melihat tujuan karir saya. Ya, Mbak Merry meminta peserta seminar menuliskan impian kita tanpa malu-malu dan target yang harus dicapai, seperti halnya beliau dulu. Jadi, apakah yang saya tulis itu? Ada 3 tujuan karir saya: Pengusaha, Penulis Buku, dan Psikolog dengan target akan tercapai dalam kurun waktu 10 tahun.

Tetapi di bawah ketiga target karir saya itu, saya kembali menuliskan impian saya yang lain dalam tulisan lebih kecil. Need more money dan need more time. Sebetulnya impian tertinggi saya adalah memiliki banyak uang dan banyak waktu untuk saya nikmati. Saya ingin menikmati hidup saya tanpa takut merasa khawatir akan adanya kekurangan. Itulah impian terbesar saya di atas ketiga impian itu.

Persis di tanggal 1 September 2012 ini, saya ingin memperbaiki resolusi saya. Saat usia saya yang ke-30, saya juga mau dapat mencapai kebebasan finansial, meski saya belum tahu bagaimana caranya mencapai target itu.

Impian jelas bukan mimpi. Mimpi adalah bunga tidur. Sebaliknya, impian adalah bunga di saat kita terjaga. Dan, saya ingin memetik bunga terindah saya dengan lebih cepat dan lebih baik demi kebahagiaan hidup saya dan kebahagiaan orang-orang yang sayangi.

Saya mau jadi orang sukses! Saya yakin Anda juga mau. Ayo, sama-sama jadi orang sukses!