31 Juli 2013
Perbedaan Itu Istimewa
Perbedaan tidak selalu buruk.
Bukan suatu hal yang memalukan jika menjadi orang aneh, berbeda, atau tidak biasa.
Orang-orang dilahirkan pada dasarnya selalu berbeda.
Dengan sendirinya, setiap orang menjadi unik.
Selama keunikan kita tidak mengusik hidup orang lain, mengapa harus takut jadi beda?
Asalkan tidak merugikan orang lain dan diri sendiri, banggalah dengan diri sendiri yang punya banyak hal berbeda dengan orang lain.
Janganlah meniru orang lain.
Dirimu adalah istimewa.
Perbedaan itu istimewa.
15 Juni 2013
Kala Lagu Cinta Dewa Kembali Meledak
Artis: Dewa
Album: Cintailah Cinta
Personil: Once (vokal), Ahmad Dhani (keyboard/vokal), Andra Ramadhan (gitar), Erwin Prasetya (bass), dan Tyo Nugros (drum)
Tahun: 2002
Penerbit: PT Aquarius Musikindo
Produser: Ahmad Dhani
Track list:
Kabar yang pernah saya dengar, album keenam Dewa ini mau dinamakan dengan Indera Keenam (biar orang ingat ini album keenam Dewa), namun karena ada sinetron yang berjudul Indera Keenam saat itu, maka judul diganti. Mungkin supaya tidak dibilang Dewa tidak kreatif dalam membuat judul album atau takut dikira mendompleng judul sinetron.
Masih bicara soal judul, album ini menuai masalah, yaitu judul lagu Arjuna. Sebelumnya, lagu itu berjudul Arjuna Mencari Cinta. Tetapi, karena nama itu mirip dengan sebuah novel remaja era 70-80'an yang berjudul Arjuna Mencari Cinta karya Yudhistira ANM Massardi, Ahmad Dhani kena gugat. Ahmad Dhani selaku pencipta lagu dituding mencomot judul novel itu sebagai judul lagu tanpa izin. Apalagi, judul novel Arjuna Mencari Cinta sudah memiliki hak cipta dan sudah diakui di dunia internasional. Saya sendiri belum hidup pada era novel itu terbit. Jadi, saya kurang begitu mengerti kiprah novel tersebut. Pada akhirnya, Ahmad Dhani bersedia mengalah dan mengubah judul lagu Arjuna Mencari Cinta menjadi Arjuna saja.
Meski diawali dengan masalah, album Dewa - Cintailah Cinta menuai kesuksesan yang sama dengan album Dewa - Bintang Lima, menembus angka penjualan hingga 1 juta keping. Sungguh angka yang fantastis! Sampul album ini juga mendapat penghargaan terbaik di ajang Anugerah Musik Indonesia.
Album ini dibuka dengan lagu Arjuna. Sebuah lagu tentang usaha pria mencari wanita. Lagu ini menunjukkan Ahmad Dhani memang maestro menciptakan nada-nada baru. Sebuah lagu cepat dengan reffrain berupa teriakan panjang yang tak kan dilupakan oleh orang-orang yang hidup di generasi 90'an dan awal 2000, Akulah arjuna..... yang mencari cinta..... Wahai wanita..... cintailah aku..... Vokal Once yang melengking terlihat sangat pas membawakan lagu ini. Di ajang singing competition, banyak penyanyi mencoba membawakan lagu ini, namun hanya vokal Once yang menurut saya paling pas membawakan lagu Arjuna.
Setelah mendengar hentakan isi hati seorang arjuna, lagu berikutnya adalah lagu pop sendu berjudul Kosong. Lagu ini merupakan lagu kesukaan Once. Di track selanjutnya, Ahmad Dhani mencoba berduet bersama Once menyanyikan Mistikus Cinta. Mistikus Cinta rupanya terinspirasi dari curhatan Vina Panduwinata. Hal ini terungkap di konser Mahakarya Ahmad Dhani dan Dewa 19. Kemudian, kita akan dikagetkan kembali oleh duet vokal Once dan Ahmad Dhani dalam lagu cepat berjudul Angin.
Side A kaset ditutup dengan lagu patah hati terbaik sepanjang masa, berjudul Pupus. Meski ini lagu patah hati, saya cinta sekali dengan lagu ini. Liriknya pun tidak tedeng aling-aling.
Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan...
Kau buat remuk, seluruh hatiku...
Intro lagunya saja sudah bikin sedih. Begitu pun chodanya. Lagu Pupus ditutup dengan permainan gitar Andra selama kurang-lebih 1 menit. Ahmad Dhani seperti sengaja memberikan ruang bagi pendengar untuk melap isak tangis di dalam hati. Kalau Anda meresapinya, suara gitar Andra bisa menyayat hati. Saya sudah mendengar versi penyanyi lain membawakan Pupus. Tetapi, hanya Once, ya sekali lagi hanya Once yang pas membawakan suasana lagu ini menjadi begitu perih dan sedih.
Side B kaset diawali dengan lagu Cintailah Cinta, yang menjadi judul album ini juga. Lagu Cintailah Cinta adalah sedikit banyak dari lagu cinta universal yang ditulis Ahmad Dhani. Simak kata-katanya: Tuhan, anugerahi sebuah cinta, kepada manusia untuk, dapat saling menyayangi. Bila kebencian meracunimu. Takkan ada jalan keluar. Damai hanya jadi impian.
Lagu selanjutnya adalah Kasidah Cinta, di mana Ahmad Dhani mengambil lead vokal. Lagu ini bernuansa sedikit Timur Tengah, menceritakan kegilaan seorang pria kepada wanita. Kemudian kita akan mendengar lagu Bukan Rahasia yang sebagian liriknya diambil dari ucapan Albert Einstein dan John Lennon. Lagu Bukan Rahasia ini juga menjadi lagu sebuah iklan. Tapi, saya lupa iklannya.
Akhirnya, album ini ditutup dengan Air Mata. Jika mendengar reffrain-nya, seolah-olah meminta kita untuk menangis, Menangislah... bila harus menangis. Karena kita semua... manusia. Manusia bisa terluka... manusia pasti menangis. Dan manusia pun bisa mengambil hikmah. Jadi, rasanya lagu Air Mata memang pas menutup album ini. Lagu ini didahului dengan permainan instrumen sebelum vokal Once mengalun. Lagu Air Mata ini sempat ngetop saat bencana tsunami Aceh melanda.
Album ini merupakan puncak kejayaan grup band Dewa. Karena setelahnya, album Dewa tidak lagi kembali merasakan kesuksesan, meski Baladewa dan Baladewi akan tetap mencintai Dewa. Penampilan Dewa selalu dinanti-nanti, begitu pun lagu besutan Ahmad Dhani.
Album: Cintailah Cinta
Personil: Once (vokal), Ahmad Dhani (keyboard/vokal), Andra Ramadhan (gitar), Erwin Prasetya (bass), dan Tyo Nugros (drum)
Tahun: 2002
Penerbit: PT Aquarius Musikindo
Produser: Ahmad Dhani
Track list:
- Arjuna
- Kosong
- Mistikus Cinta
- Angin
- Pupus
- Cintailah Cinta
- Kasidah Cinta
- Bukan Rahasia
- Air Mata
Kabar yang pernah saya dengar, album keenam Dewa ini mau dinamakan dengan Indera Keenam (biar orang ingat ini album keenam Dewa), namun karena ada sinetron yang berjudul Indera Keenam saat itu, maka judul diganti. Mungkin supaya tidak dibilang Dewa tidak kreatif dalam membuat judul album atau takut dikira mendompleng judul sinetron.
Masih bicara soal judul, album ini menuai masalah, yaitu judul lagu Arjuna. Sebelumnya, lagu itu berjudul Arjuna Mencari Cinta. Tetapi, karena nama itu mirip dengan sebuah novel remaja era 70-80'an yang berjudul Arjuna Mencari Cinta karya Yudhistira ANM Massardi, Ahmad Dhani kena gugat. Ahmad Dhani selaku pencipta lagu dituding mencomot judul novel itu sebagai judul lagu tanpa izin. Apalagi, judul novel Arjuna Mencari Cinta sudah memiliki hak cipta dan sudah diakui di dunia internasional. Saya sendiri belum hidup pada era novel itu terbit. Jadi, saya kurang begitu mengerti kiprah novel tersebut. Pada akhirnya, Ahmad Dhani bersedia mengalah dan mengubah judul lagu Arjuna Mencari Cinta menjadi Arjuna saja.
Meski diawali dengan masalah, album Dewa - Cintailah Cinta menuai kesuksesan yang sama dengan album Dewa - Bintang Lima, menembus angka penjualan hingga 1 juta keping. Sungguh angka yang fantastis! Sampul album ini juga mendapat penghargaan terbaik di ajang Anugerah Musik Indonesia.
![]() |
| Sampul Muka |
![]() |
| Sampul Belakang |
![]() |
| Sampul Depan |
Setelah mendengar hentakan isi hati seorang arjuna, lagu berikutnya adalah lagu pop sendu berjudul Kosong. Lagu ini merupakan lagu kesukaan Once. Di track selanjutnya, Ahmad Dhani mencoba berduet bersama Once menyanyikan Mistikus Cinta. Mistikus Cinta rupanya terinspirasi dari curhatan Vina Panduwinata. Hal ini terungkap di konser Mahakarya Ahmad Dhani dan Dewa 19. Kemudian, kita akan dikagetkan kembali oleh duet vokal Once dan Ahmad Dhani dalam lagu cepat berjudul Angin.
Side A kaset ditutup dengan lagu patah hati terbaik sepanjang masa, berjudul Pupus. Meski ini lagu patah hati, saya cinta sekali dengan lagu ini. Liriknya pun tidak tedeng aling-aling.
Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan...
Kau buat remuk, seluruh hatiku...
Intro lagunya saja sudah bikin sedih. Begitu pun chodanya. Lagu Pupus ditutup dengan permainan gitar Andra selama kurang-lebih 1 menit. Ahmad Dhani seperti sengaja memberikan ruang bagi pendengar untuk melap isak tangis di dalam hati. Kalau Anda meresapinya, suara gitar Andra bisa menyayat hati. Saya sudah mendengar versi penyanyi lain membawakan Pupus. Tetapi, hanya Once, ya sekali lagi hanya Once yang pas membawakan suasana lagu ini menjadi begitu perih dan sedih.
Side B kaset diawali dengan lagu Cintailah Cinta, yang menjadi judul album ini juga. Lagu Cintailah Cinta adalah sedikit banyak dari lagu cinta universal yang ditulis Ahmad Dhani. Simak kata-katanya: Tuhan, anugerahi sebuah cinta, kepada manusia untuk, dapat saling menyayangi. Bila kebencian meracunimu. Takkan ada jalan keluar. Damai hanya jadi impian.
Lagu selanjutnya adalah Kasidah Cinta, di mana Ahmad Dhani mengambil lead vokal. Lagu ini bernuansa sedikit Timur Tengah, menceritakan kegilaan seorang pria kepada wanita. Kemudian kita akan mendengar lagu Bukan Rahasia yang sebagian liriknya diambil dari ucapan Albert Einstein dan John Lennon. Lagu Bukan Rahasia ini juga menjadi lagu sebuah iklan. Tapi, saya lupa iklannya.
Akhirnya, album ini ditutup dengan Air Mata. Jika mendengar reffrain-nya, seolah-olah meminta kita untuk menangis, Menangislah... bila harus menangis. Karena kita semua... manusia. Manusia bisa terluka... manusia pasti menangis. Dan manusia pun bisa mengambil hikmah. Jadi, rasanya lagu Air Mata memang pas menutup album ini. Lagu ini didahului dengan permainan instrumen sebelum vokal Once mengalun. Lagu Air Mata ini sempat ngetop saat bencana tsunami Aceh melanda.
Album ini merupakan puncak kejayaan grup band Dewa. Karena setelahnya, album Dewa tidak lagi kembali merasakan kesuksesan, meski Baladewa dan Baladewi akan tetap mencintai Dewa. Penampilan Dewa selalu dinanti-nanti, begitu pun lagu besutan Ahmad Dhani.
7 Juni 2013
Saya dan Puisi
Menulis puisi sebenarnya adalah hobi yang bermula dari iseng. Waktu SMP, saya punya teman perempuan bernama Arden. Ia punya buku khusus yang berisikan puisi-puisi karyanya. Setelah membacanya, saya jadi ikut-ikutan untuk membuat puisi juga. Puisi orisinal saya pertama adalah puisi yang inspirasinya dari sebuah buku cerita yang saya baca di perpustakaan. Lupa tentang apa. Kalau tidak salah tentang anak jalanan. Puisi itu ditulis di kertas dan hanya saya perlihatkan kepada Arden. Saya tak pernah menyimpannya.
Ketika SMA, dimulailah saya menseriusi aktivitas menulis puisi ini. Puisi saya ketik, lalu saya simpan di komputer. Kebanyakan puisi yang saya buat karena terlalu menghayati sebuah lagu, kemudian tersusunlah kalimat demi kalimat di kepala saya. Karena merasa kalimat yang saya bikin itu bagus (ya, harus bagus dong), lalu saya rangkai… jadilah sebuah puisi. Intinya sih, kebanyakan puisi saya adalah hasil imajinasi dan nyontek dari lagu. Sangat sedikit, puisi yang tercipta karena curhat.
Kalau kalian perhatikan, puisi saya kebanyakan punya rima. Apa itu rima? Itu lho, pengulangan bunyi akhiran yang sama. Biasanya muncul di pantun. Pantun punya rima a-b-a-b. Bicara soal pantun, saya jadi ingat seorang guru SMP bahasa Indonesia saya bernama Ibu Nursyamsih. Terakhir datang ke sekolah lama saya tahun 2011, beliau masih mengajar dan ingat saya (ah, syukurlah). Beliau orang Padang dan senang dengan namanya pantun. Dari penuturan beliau, orang Padang yang punya adat Minang yang senang berbalas pantun. Apa benar atau tidak, saya kurang tahu persis. Tapi, kayaknya pantun memang milik budaya Indonesia. Jadilah, beliau senang meminta siswa menulis pantun sendiri. Dan itu tidak sekali. Ada beberapa kali kami disuruh menulis pantun dengan tema-tema tertentu, seperti tema iklan atau tema orang yang disukai (ada-ada saja). Kemampuan saya merangkai rima cukup oke dan kayaknya dimulai dari belajar pantun deh, saya mulai terlatih menulis rima.
Kesukaan membuat rima juga dikarenakan saya senang mendengar lagu. Lagu-lagu jaman dulu umumnya ada rima. Lalu, saya juga suka dengar lagu-lagu rap yang selalu ada rima. Saya menganggap penggunaan rima dalam puisi adalah sebuah kreativitas. Karena tidak mudah, mencari rima yang enak dibaca, namun tidak merusak isi.
Lama-lama jumlah judul puisi saya jadi banyak, terus puisi saya kan bagus (ya, harus bagus dong), sayang rasanya tidak mendapat pembaca. Lalu, terbersitlah ide mempublikasikannya kepada khalayak ramai. Karena blog di Friendster susah mendapatkan pembaca, saya membuat sebuah blog yang berisikan karya-karya puisi saya di alamat http://puisi-amatir.blogspot.com/. Sampai sekarang masih update, meski tidak sering-sering banget. Awalnya sih, blog itu dibuat dengan harapan dapat uang. Tapi, kalau puisi, kayaknya susah deh. Haha.
Itulah sekelumit tentang hobi saya yang kurang maskulin ini
Ketika SMA, dimulailah saya menseriusi aktivitas menulis puisi ini. Puisi saya ketik, lalu saya simpan di komputer. Kebanyakan puisi yang saya buat karena terlalu menghayati sebuah lagu, kemudian tersusunlah kalimat demi kalimat di kepala saya. Karena merasa kalimat yang saya bikin itu bagus (ya, harus bagus dong), lalu saya rangkai… jadilah sebuah puisi. Intinya sih, kebanyakan puisi saya adalah hasil imajinasi dan nyontek dari lagu. Sangat sedikit, puisi yang tercipta karena curhat.
Kalau kalian perhatikan, puisi saya kebanyakan punya rima. Apa itu rima? Itu lho, pengulangan bunyi akhiran yang sama. Biasanya muncul di pantun. Pantun punya rima a-b-a-b. Bicara soal pantun, saya jadi ingat seorang guru SMP bahasa Indonesia saya bernama Ibu Nursyamsih. Terakhir datang ke sekolah lama saya tahun 2011, beliau masih mengajar dan ingat saya (ah, syukurlah). Beliau orang Padang dan senang dengan namanya pantun. Dari penuturan beliau, orang Padang yang punya adat Minang yang senang berbalas pantun. Apa benar atau tidak, saya kurang tahu persis. Tapi, kayaknya pantun memang milik budaya Indonesia. Jadilah, beliau senang meminta siswa menulis pantun sendiri. Dan itu tidak sekali. Ada beberapa kali kami disuruh menulis pantun dengan tema-tema tertentu, seperti tema iklan atau tema orang yang disukai (ada-ada saja). Kemampuan saya merangkai rima cukup oke dan kayaknya dimulai dari belajar pantun deh, saya mulai terlatih menulis rima.
Kesukaan membuat rima juga dikarenakan saya senang mendengar lagu. Lagu-lagu jaman dulu umumnya ada rima. Lalu, saya juga suka dengar lagu-lagu rap yang selalu ada rima. Saya menganggap penggunaan rima dalam puisi adalah sebuah kreativitas. Karena tidak mudah, mencari rima yang enak dibaca, namun tidak merusak isi.
Lama-lama jumlah judul puisi saya jadi banyak, terus puisi saya kan bagus (ya, harus bagus dong), sayang rasanya tidak mendapat pembaca. Lalu, terbersitlah ide mempublikasikannya kepada khalayak ramai. Karena blog di Friendster susah mendapatkan pembaca, saya membuat sebuah blog yang berisikan karya-karya puisi saya di alamat http://puisi-amatir.blogspot.com/. Sampai sekarang masih update, meski tidak sering-sering banget. Awalnya sih, blog itu dibuat dengan harapan dapat uang. Tapi, kalau puisi, kayaknya susah deh. Haha.
Itulah sekelumit tentang hobi saya yang kurang maskulin ini
3 Maret 2013
Air Garam dalam Telaga
Pada suatu hari, ada seorang pemuda dengan wajah kusut sedang berjalan-jalan melewati sebuah telaga. Kemudian, pandangan matanya menangkap seorang kakek tua yang sedang sendirian di tepi telaga. Kakek tua itu mengambil air dari telaga dan menuangkannya ke dalam gelas. Dari saku celananya, dia mengeluarkan seraup garam dan menaburkannya ke dalam gelas. Lalu, si kakek segera mengaduknya.
Si pemuda tampak heran, namun tertarik dengan gelagat si kakek. Mengikuti rasa ketertarikannya terhadap si kakek, si pemuda kemudian menghampiri si kakek tua tersebut. Ternyata gelas berisi air telaga sengaja dibuat si kakek untuk si pemuda. "Minumlah," pinta si kakek. Si pemuda kemudian meminumnya. "Bagaimana rasanya?" tanya si kakek. "Asin sekali!" jawab si pemuda sambil memuntahkan sebagian air yang masih tersisa dalam mulutnya.
Lalu, si kakek kembali mengambil seraup garam dari saku celananya. Kali ini, ia menaburnya ke telaga. Ia mengambil gelas dari si pemuda. Namun, kini ia menggantinya dengan air telaga. "Minumlah," pinta si kakek lagi. Si pemuda meminumnya kembali. "Bagaimana rasanya?" tanya si kakek. "Segar sekali," jawab si pemuda. "Nak, seperti itulah permasalahanmu, bila kamu memendam semua permasalahanmu ke dalam hatimu sendiri, rasanya pasti berat. Seperti air yang engkau minum di awal. Namun, bila engkau menabur permasalahanmu, seperti menabur ke telaga yang luas, rasanya pasti segar sekali. Oleh karena itu, bila kita sedang dirundung masalah, tidaklah salah kita saling berbagi," ujar si kakek. Dengan wajah agak malu, si pemuda mengangguk setuju.
Dalam kisah ini, kita dapat mengambil hikmah bahwa dalam kehidupan ini, tidak ada seorang pun pernah terbebas dari masalah. Utang yang belum lunas, putus cinta, konflik dengan atasan adalah hal-hal yang sering kita temui. Namun, tidaklah bijaksana bila kita terus memendam permasalahan itu sendiri.
Dalam kehidupan ini, kita semestinya dituntut untuk bisa saling berbagi, termasuk berbagi rahasia. Setiap manusia memiliki rahasia. Bila rahasia itu kita pendam, pada akhirnya hanya menghambat kemajuan karena dalam hati kita takut ketahuan, merasa malu, dan sebagainya. Berbagilah rahasia itu. Namun, perlu diingat dalam berbagi rahasia, haruslah kepada orang yang tepat dan pada waktu yang tepat. Kalau tidak, akan menjadi bumerang, malah menjatuhkan kita sendiri. Perlu diketahui, tidaklah bijak, membocorkan rahasia kepada semua orang.
Renungan ini diambil dari sebuah cerita yang dibawakan oleh sebuah ustad dalam sebuah talkshow di i-radio FM pada tahun 2008.
Si pemuda tampak heran, namun tertarik dengan gelagat si kakek. Mengikuti rasa ketertarikannya terhadap si kakek, si pemuda kemudian menghampiri si kakek tua tersebut. Ternyata gelas berisi air telaga sengaja dibuat si kakek untuk si pemuda. "Minumlah," pinta si kakek. Si pemuda kemudian meminumnya. "Bagaimana rasanya?" tanya si kakek. "Asin sekali!" jawab si pemuda sambil memuntahkan sebagian air yang masih tersisa dalam mulutnya.
Lalu, si kakek kembali mengambil seraup garam dari saku celananya. Kali ini, ia menaburnya ke telaga. Ia mengambil gelas dari si pemuda. Namun, kini ia menggantinya dengan air telaga. "Minumlah," pinta si kakek lagi. Si pemuda meminumnya kembali. "Bagaimana rasanya?" tanya si kakek. "Segar sekali," jawab si pemuda. "Nak, seperti itulah permasalahanmu, bila kamu memendam semua permasalahanmu ke dalam hatimu sendiri, rasanya pasti berat. Seperti air yang engkau minum di awal. Namun, bila engkau menabur permasalahanmu, seperti menabur ke telaga yang luas, rasanya pasti segar sekali. Oleh karena itu, bila kita sedang dirundung masalah, tidaklah salah kita saling berbagi," ujar si kakek. Dengan wajah agak malu, si pemuda mengangguk setuju.
Dalam kisah ini, kita dapat mengambil hikmah bahwa dalam kehidupan ini, tidak ada seorang pun pernah terbebas dari masalah. Utang yang belum lunas, putus cinta, konflik dengan atasan adalah hal-hal yang sering kita temui. Namun, tidaklah bijaksana bila kita terus memendam permasalahan itu sendiri.
Dalam kehidupan ini, kita semestinya dituntut untuk bisa saling berbagi, termasuk berbagi rahasia. Setiap manusia memiliki rahasia. Bila rahasia itu kita pendam, pada akhirnya hanya menghambat kemajuan karena dalam hati kita takut ketahuan, merasa malu, dan sebagainya. Berbagilah rahasia itu. Namun, perlu diingat dalam berbagi rahasia, haruslah kepada orang yang tepat dan pada waktu yang tepat. Kalau tidak, akan menjadi bumerang, malah menjatuhkan kita sendiri. Perlu diketahui, tidaklah bijak, membocorkan rahasia kepada semua orang.
Renungan ini diambil dari sebuah cerita yang dibawakan oleh sebuah ustad dalam sebuah talkshow di i-radio FM pada tahun 2008.
3 Februari 2013
Yang Selalu Kusayang
Mengaku dirinya
Lanny, padahal di KTP adalah Lani. Salah ketik pas pembuatan akta, katanya.
Loh, mengapa tidak diniatkan untuk diubah kalau tahu salah? Ya sudahlah....
Saya pakai versi Lanny saja, sesuai pengakuan yang bersangkutan.
Lanny dan saya
sekelas sewaktu kuliah semester pertama. Lanny bilang bahwa perjumpaan pertama
saya dengannya adalah pas Psycamp (Psychology Camping) 2007. Memang benar,
pas Psycamp dia ikut. Cuman,
waktu dia bilang ketika acara jurit
malam, kami sekelompok... nah, di sini saya tidak ingat. Haha. Saya ingat di
acara jurit malam itu ada Fransiska Laurensia, Truly Arlene, Anna Siahaan,
Stephanie Deliana, Endy, dan Felicia. Tetapi, mengapa tidak ada satu pun
ingatan tentang Lanny??? Why???
Saya mencoba
mengingat-ingat kapan kami berkenalan, tetapi tidak ada satu pun ingatan yang terlintas. Saya mencoba mengingat-ingat
kapan saya melihatnya... dan yang muncul adalah ini...
![]() | |
| Atas kiri-kanan: saya, Lanny, Ais. Bawah kiri-kanan: Fransiska, Arlene, Ririn. Paling Bawah: Chrisilya Thoeng |
Lupa kata siapa,
Arlene atau Fransiska, pernah bilang ke saya, ”Kenapa ada Sufren di foto ini?”
Maksudnya adalah, saya seharusnya tidak di sana, berfoto dengan para gadis.
Saya seakan merusak keindahan saja. Ckckck. "Lah, yang ngajak siapa?" Saya sendiri tidak ingat siapa yang ngajak, terlebih siapa yang ngambil foto tersebut?
Foto itu sendiri di ambil tahun 2007, saat sebelum kami semua berangkat menyeberangi kampus 1, ke kampus 2 (gedung yang di sebelah Mall Ciputra) untuk mengikuti kuliah... eee, lupa lagi, antara Kewarganegaraan atau Bahasa Indonesia deh.
Foto itu sendiri di ambil tahun 2007, saat sebelum kami semua berangkat menyeberangi kampus 1, ke kampus 2 (gedung yang di sebelah Mall Ciputra) untuk mengikuti kuliah... eee, lupa lagi, antara Kewarganegaraan atau Bahasa Indonesia deh.
Mari lupakan
perkara kemunculan saya di foto itu. Coba tengok cewek yang ada di tengah atas.
Dialah Lanny yang sedang kita bahas. Model rambutnya mantap ya. Saya sebut model
polesan (poni lempar ke sanaan dikit).
Coba bandingin dengan Lanny yang ada
di sini. Beda ya... sekarang lebih cakep. Hihihi. Anyway, sekarang statusnya masih single available lho...
Dahulu, Lanny sudah 2 (entah yang ke-3 boleh dihitung atau tidak) gagal dalam percintaan. Pacar pertamanya adalah yang fenomenal. Saling mengenal di Facebook, lalu berlanjut ke Yahoo Messenger. Tanpa melalui pertemuan tatap muka—karena mereka berada di dua pulau yang berbeda, terpisah di antara selat—mereka memutuskan berpacaran. Bisa gitu... Hebat kan.
Dahulu, Lanny sudah 2 (entah yang ke-3 boleh dihitung atau tidak) gagal dalam percintaan. Pacar pertamanya adalah yang fenomenal. Saling mengenal di Facebook, lalu berlanjut ke Yahoo Messenger. Tanpa melalui pertemuan tatap muka—karena mereka berada di dua pulau yang berbeda, terpisah di antara selat—mereka memutuskan berpacaran. Bisa gitu... Hebat kan.
Saat mereka kopi
darat, saat Lanny membawa pacarnya ke kampus, betapa bahagianya Lanny saat itu.
Tetapi, cinta tidak selalu indah. Pada akhirnya, selat perbedaan memisahkan
mereka lebih jauh dan lebih jauuhhh lagi.
Pacar kedua tidak
terlalu terekspos. Saya kurang tahu sejarah pertemuannya. Saya harus tunggu
Lanny bercerita dulu neh. Perpisahannya sama dengan yang pertama, putus lagi
karena masalah perbedaan. Lah, bukankah perbedaan sesungguhnya mengindahkan
kehidupan ini? Oh, rupanya... saya tahu sekarang bahwa cinta tidak cukup dengan
hanya perbedaan. Cinta pun tidak semudah jalannya seperti dalam cerita drama.
Dan, yang ketiga
adalah yang (mungkin) paling pilu baginya. Terkatung-katung dirinya di antara ”mendapatkan
apa yang tidak bisa didapatkan dan melepaskan apa yang tidak bisa dilepaskan”.
Ceritanya secara tersirat ada di blog pribadinya.
Lanny adalah
pecinta cinta. Tentu saja cinta yang menggembirakan. Novel, lagu, dan drama
romantis adalah bagian dari hidupnya. Dia tidak mencari pria yang kaya dan
tampan, tetapi yang mau berjuang untuk hidupnya. Hanya saja, keinginannya
sedang tak berbanding lurus dengan harapannya. Tetapi, Lanny bukan pecinta galau.
Tuhan, sahabat, keluarga, dan mbaknya yang setia mendengarkan curhatnya selalu dapat
menguatkan dirinya.
Lanny adalah anak
yang baik. Dia senang membantu temannya dengan tulus. Saya belajar ketulusan
darinya. Dia senang mendengarkan curhatan orang, termasuk saya. Hehe. Dia
sayang anak-anak. Keponakannya bernama Darren adalah kesayangannya. Sahabatnya,
Ririn adalah orang yang paling dekat dan paling baik dengannya.
Lanny adalah anak
yang senang berbagi. Saya pernah dipinjamkan berbagai macam komik dan novel
olehnya. Sayang sekali, rumah kami terpisah oleh jarak ribuan mil. Coba kalau
dekat, koleksi novel, DVD, dan komik bisa dijarah semua oleh saya. Hahaha.
Hobinya selain
baca buku dan nonton DVD adalah foto-foto. Kalau bepergian bersamanya, kamu
akan beruntung. Kamu pasti ada di album fotonya. Ya, dia tidak hanya senang dipotret,
tetapi senang memotret orang lain. Lalu, fotonya akan diedit olehnya. Begitulah
kesenangan dia. Dia adalah seksi dokumentasi yang baik.
Saya senang
sampai kini kami masih sering bercakap-cakap via YM. Sekarang Lanny, sibuk
kuliah S-2 mengambil profesi Psikologi Klinis Anak. Pekerjaan dengan anak-anak
adalah memang yang paling cocok dengannya.
Begitulah tentang
Lanny. Tidak ada perkenalan secara formal yang kami lakukan. Saya tidak ingat
kapan saya mulai tahu dirinya. Perjumpaan kami memang tidak jelas. Biarlah jadi
misteri. Saya doakan jalan cinta dan jalan karirnya bisa semulus dengan
kisah-kisah happy yang sering ia baca
dan dengar.
Meski Lanny tak
kan mungkin bilang ke sayang ke saya, haha.... tetapi, biar saja saya yang
bilang bahwa Lanny akan menjadi teman yang selalu kusayang...
2 Februari 2013
Seorang Motivator
Selain Natalia,
satu orang yang luar biasa yang saya kenal adalah Debbie. Debbie adalah penulis
novel Honey Money. Saya beruntung
sudah kenal dia sejak SMA.
Sewaktu kelas 1
SMA, anaknya sudah menunjukkan ada ”sesuatu”.
Saya sekelas dengannya saat itu. Anaknya supel dan cepat akrab dengan
siapa. Tak heran di tahun pertamanya saja, dia sudah menjabat sebagai wakil
ketua OSIS.
Selain itu, dia
juga berbakat. Bermain gitar adalah salah satu talentanya. Dia sempat didapuk
sebagai gitaris untuk band sekolah
kami yang bernama 7 Inspirations. Tapi, talenta lain yang membuat saya berdecak
kagum adalah menulis. Menulis, semua orang juga bisa, mungkin sebagian besar
kan berkata begitu. Tetapi, menulis sampai menjadi sebuah karya dalam bentuk
buku novel, tentu saja, tidak banyak yang bisa apalagi sampai berhasil dicetak
ulang beberapa kali.
Awalnya saya kurang
percaya ketika diberi tahu seorang teman bahwa Debbie sudah membuat sebuah
novel (waktu itu kami masih kelas 2 SMA). Oh ya? Begitu kata saya dalam hati.
Mungkin cuman tulisan untuk kalangan terbatas. Tetapi, ketika melihatnya di
perpustakaan sekolah, saya baru percaya sepenuhnya. Hehehe.
Novel perdananya Not Just a Fairy Tale. Pas di awal,
ceritanya lumayan seru. Tetapi, kemudian ceritanya jadi agak membosankan. ”Sorry ya, Deb.” Tetapi, mengingat ini
adalah karya pertamanya selain karena karya teman sendiri, so saya tetap mengapresiasi. Setidaknya, jujur... judul novelnya
keren.
Setelah membaca Not Just a Fairy Tale sampai habis yang
cuman butuh waktu sehari, saya berpikir sebenarnya saya juga bisa melakukan hal
yang sama dengannya. Menulis sebuah cerita dan menjadikannya sebuah novel.
Sejak SMP, saya merasa kemampuan menulis saya cukup baik di samping saya punya daya
khayal yang baik. Maka kemudian, saya termotivasi untuk menulis dan membuat
sebuah buku. Dan, hasilnya.... sampai kini.... gak berhasil. Hahaha. Seperti halnya Debbie yang mesti patah hati
dulu baru dapat membuat novel, mungkin saya harus patah hati dulu kali ya
supaya termotivasi. Eaaa...
Sewaktu SMA, dia
bukan yang menempati posisi sangat terbaik. Meski anak jurusan IPA, mafia-nya (mate, fisika, kimia) sering remedial
kok. Eh, saya juga sih. Hehehe. Pelajaran yang dikuasainya adalah bahasa
Inggris (ayahnya guru bahasa Inggris). Di SMA, dia juga punya geng wanita
bernama Sanseivera. Masih awet sampai sekarang. Nama geng ini kalau tidak salah
diambil dari nama-nama para anggota geng tersebut. Sandra dan Liana, 2 teman
baik Dee dalam Honey Money alias
Debbie di kehidupan sebenarnya juga bagian dari geng ini.
Karena dia kuliah
di jurusan yang sama denganku (Jurusan Psikologi), saya bisa mengamati kiprahnya
lebih jauh. Di SMA kami, memang tidak ada sistem ranking, tetapi saya sih yakin betul dia tetap ada di geng 10
besar. Seperti sudah dibahas, di SMA, dia bukan yang sangat terbaik. Tetapi, di
kampus, siapa sangka dia lebih bersinar? Dia menjadi salah satu runner up lulusan terbaik di upacara wisuda ke-58. Rasanya wajar ya,
karena ia sudah mantap memilih jurusannya sejak kelas 1 SMA. Mungkin ada unsur passion, atau kalau saya boleh berargumen,
”jurusan psikologi itu sebetulnya masih lebih mudah dari mafia... karena gak pake
logika dan problem solving yang terlalu
rumit. Ujiannya itu asal jago ngapal, rajin
membaca, pandai memilih teman sekelompok yang tepat, plus cerdas dalam ”ngarang” jawaban¸ pasti bisa kok dapat bagus, hehehe.” Saya sih ngebayangin kalau Liana, teman kami yang
paling pintar itu memilih jurusan Psikologi Untar, rasanya dia juga akan dapat predikat
lulusan terbaik. Kayaknya yaaa...
Kemudian, dia
sempat menjadi Duta Fakultas Psikologi Untar, lalu 3 kali mewakili nama Untar
dalam ajang perlombaan antarfakultas psikologi; salah satu yang spesial adalah
perlombaan Psycomp di Bandung (saya turut serta di sana). Prestasi lainnya adalah
menjadi runner up Putri Usaha Kreatif
Indonesia, gelar yang disabetnya di sela-sela dia bekerja di salah satu
perusahaan otomotif ternama. Novel keduanya Honey
Money ditulisnya di sela-sela dia kuliah. Dia pun aktif dalam pelayanan
gereja. Bensin semangat anak ini sungguh hebat. Entah seperti apa pola makan
dan tidurnya?
Dengan segudang
hal luar biasa yang telah dia dapatkan dan jalani, tidak banyak yang berubah
darinya. Tetap wanita biasa yang masih memikirkan bentuk badannya (masalah umum
wanita). Hahaha... Kesederhanaannya itulah yang membuat saya mengaguminya.
Oh ya... dia
punya kelemahan yaitu tak bisa ngomong
”r”. Maka nama aslinya Debora, dia hanya pasrah mengucapkan namanya sendiri
menjadi Debola. Oleh karena itu, dia lebih suka menyebut dirinya Debbie, karena
tidak ada unsur ”r” di sana. Jadi, kita tahu dari mana nama panggilannya
berasal. Hahaha.
Berkat kesuksesan
novel Honey Money,dia bisa memetik
salah satu cita-citanya: Keliling Eropa. Seperti halnya dia yang terus berusaha
mengejar impiannya, saya pun kelak akan harus begitu. Motivator tidak
perlu tokoh terkenal sekali. Seorang Debbie saja sudah memotivasi saya.
7 Januari 2013
Seorang Inspirator
Saya beruntung
pernah mengenal Natalia. Ceritanya berawal dari semester 4, saat dia dan
Felicia ikut bergabung ke dalam BUPSI (Buletin Psikologi) UNTAR, menemani saya,
Endy, dan Riske yang sudah lebih dulu bergabung. Semester 5, dia menjadi Ketua
BUPSI. Semangat dan dedikasinya memimpin BUPSI membuat BUPSI berkembang sangat
baik.
Era sebelum
Natalia, BUPSI tak ada iklan, terbit setahun sekali, belum berwarna, dan bahkan
BUPSI harus dibeli tuk mendapatkannya. Di era Natalia, terjadi perubahan
signifikan. BUPSI terbit per semester, mendirikan kegiatan lain selain
menerbitkan majalah, yaitu workshop.
Sampai sekarang, kegiatan-kegiatan sejenis workshop
masih diteruskan. Lebih menakjubkan lagi, saya mendengar BUPSI kini sudah bisa
diterbitkan 3 kali per tahun dengan full
colour dan sudah ada pengiklannya. Luar biasa!
Semua itu pasti
berbeda jika Natalia tidak menjadi ketua BUPSI saat itu. Natalia bukan 1 dari
10 mahasiswa dengan IPK terbaik di angkatannya. Tetapi, harga IPK tentu tidak
sebanding dengan karya nyata yang kita hasilkan. Natalia jelas dan nyata sekali
sudah sangat berjasa mengembangkan BUPSI. Selain itu, sudah cukup banyak orang
tahu, Natalia mendirikan bimbingan belajar bernama Kidtozz Bimbel sejak akhir
2010.
Bimbingan
belajarnya ini adalah penyalur tenaga pendidik (tutor) ke rumah-rumah siswa
(privat). Yang menarik ada sistem token yang bisa dikumpulkan siswa untuk
mendapatkan hadiah di setiap semester. Saya adalah tutor generasi pertama. Saya
bergabung di Kidtozz dari Januari 2011 sampai Januari 2012. Pengalaman pertama
mengajar saya sempat saya posting di sini.
Pengalaman
pertama yang ditulis di sana masih kurang lengkap sebetulnya. Hehe. Saya masih
ingat begitu perhatian seorang Natalia kepada saya. Jadi, di awal-awal
mengajar, Natalia tidak lupa menyempatkan diri menelepon saya atau meng-SMS
untuk sekadar mengetahui kondisi saya. Tidak jarang, saya curhat panjang lebar
tentang derita mengajar yang saya alami.
Perhatian Natalia
yang paling saya ingat adalah ketika dia datang ke Kelapa Gading, mengunjungi
rumah Owen dan Dewin karena masalah ketidaksepahaman jam mengajar antara dia
dan Tante Owen dan Dewin, sekaligus menengahi komplain dan ultimatum Tantenya
ke saya. Padahal, dia habis mengajar dari Kota, kemudian langsung ke Kelapa
Gading dengan menaiki taksi dan tidak menyempatkan diri makan siang... hanya
demi tidak mau terlambat! Dan, itu bukan hal yang pertama dia rela tidak makan
siang demi tidak mau terlambat. Natalia bisa menahan sementara kepentingan
dirinya sendiri demi kepentingan orang lain. Dia bisa melakukan pekerjaan dengan profesional. Maka, tak heran BUPSI bisa menjadi lebih baik di bawah kendalinya.
Setelah selesai
berurusan dengan Papanya Owen dan Dewin, kami pulang naik bus TransJakarta. Selama
perjalanan pulang, Natalia berbagi pengalaman mengajarnya ke saya. Dia bercerita
dia pernah mengajar anak autis dengan modal nekat. Pernah pula, dia mengajar di
daerah Tebet sehingga sering pulang malam. Saya lalu sempat nyeletuk, ”Nat, kenapa loe gak buat semacam buku biografi mengenai hidup loe dan dedikasi loe ke dunia anak-anak?” Natalia jawab bahwa dia ada keinginan,
tetapi tidak punya waktu untuk menulis. Secara spontan, saya menawarkan diri
jika diperbolehkan menulis biografinya. Hehehe.
Sekilas tentang
Natalia. Asalnya dari Cirebon. Sejak kecil, ia sudah rajin belajar. Dia juga
aktif dalam pelayanan gereja. Visinya jelas. Dia ingin menjadi seorang
pendidik. Maka, dia merintis karirnya sebagai guru privat pun dari niatnya
sendiri. Dia sendiri pula yang mencari pekerjaan mengajarnya. Berangkat dari
pengalaman mengajar itulah, dia berpikir untuk membangun bisnis bimbingan
belajar bernama Kidtozz Bimbel. Dia pun masih menyimpan cita-cita menjadi
seorang psikolog anak dan seorang master pendidikan.
Meski sudah
mengepalai sebuah bimbingan belajar, dia tetap turun ke lapangan untuk mengajar,
karena dia tak pernah bisa lepas dari dunia mengajar. Natalia pernah bilang
bahwa passion-nya menjadi seorang
pendidik nampaknya menular secara genetik. Di keluarganya juga ada yang
berprofesi menjadi seorang guru.
Bertemu Natalia,
lalu ikut serta melihat bagaimana bisnis bimbelnya dibangun membuka mata saya
pentingnya memiliki tujuan hidup. Saya masih ingat awal mula markas bimbelnya
itu di kosnya sendiri, lalu pindah ke gedung apartemen. Awalnya hanya satu unit,
kemudian dia sekarang menyewa dua unit. Kemajuan yang luar biasa. Juga, akan selalu
saya ingat setiap memasuki bulan evaluasi, yang mana tutor mesti datang menghadap ke Ibu Kepala Sekolah Natalia... hehehe,
pasti ada diskusi panjang lebar mengenai masalah pengasuhan anak zaman
sekarang.
Pembicaraan bersama di bus TransJakarta itu harus terhenti. Natalia memutuskan untuk transit ke bus yang mengarah ke arah Salemba karena sudah ada janji wawancara. Kami berpisah. Natalia meneruskan aktivitasnya mewawancarai salah satu partisipan skripsinya di RS Kramat. Sementara saya melanjutkan perjalanan pulang. Betapa saya tidak dibuat kagum dengannya karena dia merintis bisnis sembari mengajar sembari mengerjakan skripsinya... dan lulus tepat waktu pula dengan IPK memuaskan.
Tidak banyak orang
yang saya kenal yang berani membangun bisnis dengan skala cukup besar di waktu
usia muda. Meski bisnisnya masih dalam proses pengembangan, seorang Natalia
sudah menginspirasi saya.
Langganan:
Postingan (Atom)






