Page

31 Juli 2013

Perbedaan Itu Istimewa


Perbedaan tidak selalu buruk.

Bukan suatu hal yang memalukan jika menjadi orang aneh, berbeda, atau tidak biasa.

Orang-orang dilahirkan pada dasarnya selalu berbeda.

Dengan sendirinya, setiap orang menjadi unik.


Selama keunikan kita tidak mengusik hidup orang lain, mengapa harus takut jadi beda?

Asalkan tidak merugikan orang lain dan diri sendiri, banggalah dengan diri sendiri yang punya banyak hal berbeda dengan orang lain.

Janganlah meniru orang lain.

Dirimu adalah istimewa.

Perbedaan itu istimewa.

15 Juni 2013

Kala Lagu Cinta Dewa Kembali Meledak

Artis: Dewa
Album: Cintailah Cinta
Personil: Once (vokal), Ahmad Dhani (keyboard/vokal), Andra Ramadhan (gitar), Erwin Prasetya (bass), dan Tyo Nugros (drum)
Tahun: 2002
Penerbit: PT Aquarius Musikindo
Produser: Ahmad Dhani

Track list:
  1. Arjuna
  2. Kosong
  3. Mistikus Cinta
  4. Angin
  5. Pupus
  6. Cintailah Cinta
  7. Kasidah Cinta
  8. Bukan Rahasia
  9. Air Mata
Sebelumnya saya sudah membahas album Dewa - Bintang Lima. Sekarang, saya akan bahas album Dewa keenam yang berjudul Cintailah Cinta. Lagu ini memiliki jumlah nomor lagu yang lebih sedikit dari album sebelumnya. Malah, bisa dibilang salah satu album Dewa dengan jumlah nomor lagu yang sedikit. Album ini adalah comeback Erwin sang bassis yang sebelumnya keluar dari Dewa karena masalah narkoba. Namun, belakangan Erwin hengkang lagi karena ketidakcocokan.

Kabar yang pernah saya dengar, album keenam Dewa ini mau dinamakan dengan Indera Keenam (biar orang ingat ini album keenam Dewa), namun karena ada sinetron yang berjudul Indera Keenam saat itu, maka judul diganti. Mungkin supaya tidak dibilang Dewa tidak kreatif dalam membuat judul album atau takut dikira mendompleng judul sinetron.

Masih bicara soal judul, album ini menuai masalah, yaitu judul lagu Arjuna. Sebelumnya, lagu itu berjudul Arjuna Mencari Cinta. Tetapi, karena nama itu mirip dengan sebuah novel remaja era 70-80'an yang berjudul Arjuna Mencari Cinta karya Yudhistira ANM Massardi, Ahmad Dhani kena gugat. Ahmad Dhani selaku pencipta lagu dituding mencomot judul novel itu sebagai judul lagu tanpa izin. Apalagi, judul novel Arjuna Mencari Cinta sudah memiliki hak cipta dan sudah diakui di dunia internasional. Saya sendiri belum hidup pada era novel itu terbit. Jadi, saya kurang begitu mengerti kiprah novel tersebut. Pada akhirnya, Ahmad Dhani bersedia mengalah dan mengubah judul lagu Arjuna Mencari Cinta menjadi Arjuna saja.

Meski diawali dengan masalah, album Dewa - Cintailah Cinta menuai kesuksesan yang sama dengan album Dewa - Bintang Lima, menembus angka penjualan hingga 1 juta keping. Sungguh angka yang fantastis! Sampul album ini juga mendapat penghargaan terbaik di ajang Anugerah Musik Indonesia.

Sampul Muka



Sampul Belakang

Sampul Depan
Album ini dibuka dengan lagu Arjuna. Sebuah lagu tentang usaha pria mencari wanita. Lagu ini menunjukkan Ahmad Dhani memang maestro menciptakan nada-nada baru. Sebuah lagu cepat dengan reffrain berupa teriakan panjang yang tak kan dilupakan oleh orang-orang yang hidup di generasi 90'an dan awal 2000, Akulah arjuna..... yang mencari cinta..... Wahai wanita..... cintailah aku..... Vokal Once yang melengking terlihat sangat pas membawakan lagu ini. Di ajang singing competition, banyak penyanyi mencoba membawakan lagu ini, namun hanya vokal Once yang menurut saya paling pas membawakan lagu Arjuna.

Setelah mendengar hentakan isi hati seorang arjuna, lagu berikutnya adalah lagu pop sendu berjudul Kosong. Lagu ini merupakan lagu kesukaan Once. Di track selanjutnya, Ahmad Dhani mencoba berduet bersama Once menyanyikan Mistikus Cinta. Mistikus Cinta rupanya terinspirasi dari curhatan Vina Panduwinata. Hal ini terungkap di konser Mahakarya Ahmad Dhani dan Dewa 19. Kemudian, kita akan dikagetkan kembali oleh duet vokal Once dan Ahmad Dhani dalam lagu cepat berjudul Angin.

Side A kaset ditutup dengan lagu patah hati terbaik sepanjang masa, berjudul Pupus. Meski ini lagu patah hati, saya cinta sekali dengan lagu ini. Liriknya pun tidak tedeng aling-aling.


Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan...
Kau buat remuk, seluruh hatiku...

Intro lagunya saja sudah bikin sedih. Begitu pun chodanya. Lagu Pupus ditutup dengan permainan gitar Andra selama kurang-lebih 1 menit. Ahmad Dhani seperti sengaja memberikan ruang bagi pendengar untuk melap isak tangis di dalam hati. Kalau Anda meresapinya, suara gitar Andra bisa menyayat hati. Saya sudah mendengar versi penyanyi lain membawakan Pupus. Tetapi, hanya Once, ya sekali lagi hanya Once yang pas membawakan suasana lagu ini menjadi begitu perih dan sedih.

Side B kaset diawali dengan lagu Cintailah Cinta, yang menjadi judul album ini juga. Lagu Cintailah Cinta adalah sedikit banyak dari lagu cinta universal yang ditulis Ahmad Dhani. Simak kata-katanya: Tuhan, anugerahi sebuah cinta, kepada manusia untuk, dapat saling menyayangi. Bila kebencian meracunimu. Takkan ada jalan keluar. Damai hanya jadi impian.

Lagu selanjutnya adalah Kasidah Cinta, di mana Ahmad Dhani mengambil lead vokal. Lagu ini bernuansa sedikit Timur Tengah, menceritakan kegilaan seorang pria kepada wanita. Kemudian kita akan mendengar lagu Bukan Rahasia yang sebagian liriknya diambil dari ucapan Albert Einstein dan John Lennon. Lagu Bukan Rahasia ini juga menjadi lagu sebuah iklan. Tapi, saya lupa iklannya.

Akhirnya, album ini ditutup dengan Air Mata. Jika mendengar reffrain-nya, seolah-olah meminta kita untuk menangis, Menangislah... bila harus menangis. Karena kita semua... manusia. Manusia bisa terluka... manusia pasti menangis. Dan manusia pun bisa mengambil hikmah. Jadi, rasanya lagu Air Mata memang pas menutup album ini. Lagu ini didahului dengan permainan instrumen sebelum vokal Once mengalun. Lagu Air Mata ini sempat ngetop saat bencana tsunami Aceh melanda.

Album ini merupakan puncak kejayaan grup band Dewa. Karena setelahnya, album Dewa tidak lagi kembali merasakan kesuksesan, meski Baladewa dan Baladewi akan tetap mencintai Dewa. Penampilan Dewa selalu dinanti-nanti, begitu pun lagu besutan Ahmad Dhani.

7 Juni 2013

Saya dan Puisi

Menulis puisi sebenarnya adalah hobi yang bermula dari iseng. Waktu SMP, saya punya teman perempuan bernama Arden. Ia punya buku khusus yang berisikan puisi-puisi karyanya. Setelah membacanya, saya jadi ikut-ikutan untuk membuat puisi juga. Puisi orisinal saya pertama adalah puisi yang inspirasinya dari sebuah buku cerita yang saya baca di perpustakaan. Lupa tentang apa. Kalau tidak salah tentang anak jalanan. Puisi itu ditulis di kertas dan hanya saya perlihatkan kepada Arden. Saya tak pernah menyimpannya.

Ketika SMA, dimulailah saya menseriusi aktivitas menulis puisi ini. Puisi saya ketik, lalu saya simpan di komputer. Kebanyakan puisi yang saya buat karena terlalu menghayati sebuah lagu, kemudian tersusunlah kalimat demi kalimat di kepala saya. Karena merasa kalimat yang saya bikin itu bagus (ya, harus bagus dong), lalu saya rangkai… jadilah sebuah puisi. Intinya sih, kebanyakan puisi saya adalah hasil imajinasi dan nyontek dari lagu. Sangat sedikit, puisi yang tercipta karena curhat.

Kalau kalian perhatikan, puisi saya kebanyakan punya rima. Apa itu rima? Itu lho, pengulangan bunyi akhiran yang sama. Biasanya muncul di pantun. Pantun punya rima a-b-a-b. Bicara soal pantun, saya jadi ingat seorang guru SMP bahasa Indonesia saya bernama Ibu Nursyamsih. Terakhir datang ke sekolah lama saya tahun 2011, beliau masih mengajar dan ingat saya (ah, syukurlah). Beliau orang Padang dan senang dengan namanya pantun. Dari penuturan beliau, orang Padang yang punya adat Minang yang senang berbalas pantun. Apa benar atau tidak, saya kurang tahu persis. Tapi, kayaknya pantun memang milik budaya Indonesia. Jadilah, beliau senang meminta siswa menulis pantun sendiri. Dan itu tidak sekali. Ada beberapa kali kami disuruh menulis pantun dengan tema-tema tertentu, seperti tema iklan atau tema orang yang disukai (ada-ada saja). Kemampuan saya merangkai rima cukup oke dan kayaknya dimulai dari belajar pantun deh, saya mulai terlatih menulis rima.

Kesukaan membuat rima juga dikarenakan saya senang mendengar lagu. Lagu-lagu jaman dulu umumnya ada rima. Lalu, saya juga suka dengar lagu-lagu rap yang selalu ada rima. Saya menganggap penggunaan rima dalam puisi adalah sebuah kreativitas. Karena tidak mudah, mencari rima yang enak dibaca, namun tidak merusak isi.

Lama-lama jumlah judul puisi saya jadi banyak, terus puisi saya kan bagus (ya, harus bagus dong), sayang rasanya tidak mendapat pembaca. Lalu, terbersitlah ide mempublikasikannya kepada khalayak ramai. Karena blog di Friendster susah mendapatkan pembaca, saya membuat sebuah blog yang berisikan karya-karya puisi saya di alamat http://puisi-amatir.blogspot.com/. Sampai sekarang masih update, meski tidak sering-sering banget. Awalnya sih, blog itu dibuat dengan harapan dapat uang. Tapi, kalau puisi, kayaknya susah deh. Haha.

Itulah sekelumit tentang hobi saya yang kurang maskulin ini

3 Maret 2013

Air Garam dalam Telaga

Pada suatu hari, ada seorang pemuda dengan wajah kusut sedang berjalan-jalan melewati sebuah telaga. Kemudian, pandangan matanya menangkap seorang kakek tua yang sedang sendirian di tepi telaga. Kakek tua itu mengambil air dari telaga dan menuangkannya ke dalam gelas. Dari saku celananya, dia mengeluarkan seraup garam dan menaburkannya ke dalam gelas. Lalu, si kakek segera mengaduknya.

Si pemuda tampak heran, namun tertarik dengan gelagat si kakek. Mengikuti rasa ketertarikannya terhadap si kakek, si pemuda kemudian menghampiri si kakek tua tersebut. Ternyata gelas berisi air telaga sengaja dibuat si kakek untuk si pemuda. "Minumlah," pinta si kakek. Si pemuda kemudian meminumnya. "Bagaimana rasanya?" tanya si kakek. "Asin sekali!" jawab si pemuda sambil memuntahkan sebagian air yang masih tersisa dalam mulutnya.

Lalu, si kakek kembali mengambil seraup garam dari saku celananya. Kali ini, ia menaburnya ke telaga. Ia mengambil gelas dari si pemuda. Namun, kini ia menggantinya dengan air telaga. "Minumlah," pinta si kakek lagi. Si pemuda meminumnya kembali. "Bagaimana rasanya?" tanya si kakek. "Segar sekali," jawab si pemuda. "Nak, seperti itulah permasalahanmu, bila kamu memendam semua permasalahanmu ke dalam hatimu sendiri, rasanya pasti berat. Seperti air yang engkau minum di awal. Namun, bila engkau menabur permasalahanmu, seperti menabur ke telaga yang luas, rasanya pasti segar sekali. Oleh karena itu, bila kita sedang dirundung masalah, tidaklah salah kita saling berbagi," ujar si kakek. Dengan wajah agak malu, si pemuda mengangguk setuju. 

Dalam kisah ini, kita dapat mengambil hikmah bahwa dalam kehidupan ini, tidak ada seorang pun pernah terbebas dari masalah. Utang yang belum lunas, putus cinta, konflik dengan atasan adalah hal-hal yang sering kita temui. Namun, tidaklah bijaksana bila kita terus memendam permasalahan itu sendiri.

Dalam kehidupan ini, kita semestinya dituntut untuk bisa saling berbagi, termasuk berbagi rahasia. Setiap manusia memiliki rahasia. Bila rahasia itu kita pendam, pada akhirnya hanya menghambat kemajuan karena dalam hati kita takut ketahuan, merasa malu, dan sebagainya. Berbagilah rahasia itu. Namun, perlu diingat dalam berbagi rahasia, haruslah kepada orang yang tepat dan pada waktu yang tepat. Kalau tidak, akan menjadi bumerang, malah menjatuhkan kita sendiri. Perlu diketahui, tidaklah bijak, membocorkan rahasia kepada semua orang.

Renungan ini diambil dari sebuah cerita yang dibawakan oleh sebuah ustad dalam sebuah talkshow di i-radio FM pada tahun 2008.

3 Februari 2013

Yang Selalu Kusayang

Mengaku dirinya Lanny, padahal di KTP adalah Lani. Salah ketik pas pembuatan akta, katanya. Loh, mengapa tidak diniatkan untuk diubah kalau tahu salah? Ya sudahlah.... Saya pakai versi Lanny saja, sesuai pengakuan yang bersangkutan.

Lanny dan saya sekelas sewaktu kuliah semester pertama. Lanny bilang bahwa perjumpaan pertama saya dengannya adalah pas Psycamp (Psychology Camping) 2007. Memang benar, pas Psycamp dia ikut. Cuman, waktu dia bilang ketika acara jurit malam, kami sekelompok... nah, di sini saya tidak ingat. Haha. Saya ingat di acara jurit malam itu ada Fransiska Laurensia, Truly Arlene, Anna Siahaan, Stephanie Deliana, Endy, dan Felicia. Tetapi, mengapa tidak ada satu pun ingatan tentang Lanny??? Why???

Saya mencoba mengingat-ingat kapan kami berkenalan, tetapi tidak ada satu pun ingatan yang terlintas. Saya mencoba mengingat-ingat kapan saya melihatnya... dan yang muncul adalah ini...

Atas kiri-kanan: saya, Lanny, Ais. Bawah kiri-kanan: Fransiska, Arlene, Ririn. Paling Bawah: Chrisilya Thoeng
Lupa kata siapa, Arlene atau Fransiska, pernah bilang ke saya, ”Kenapa ada Sufren di foto ini?” Maksudnya adalah, saya seharusnya tidak di sana, berfoto dengan para gadis. Saya seakan merusak keindahan saja. Ckckck. "Lah, yang ngajak siapa?" Saya sendiri tidak ingat siapa yang ngajak, terlebih siapa yang ngambil foto tersebut?

Foto itu sendiri di ambil tahun 2007, saat sebelum kami semua berangkat menyeberangi kampus 1, ke kampus 2 (gedung yang di sebelah Mall Ciputra) untuk mengikuti kuliah... eee, lupa lagi, antara Kewarganegaraan atau Bahasa Indonesia deh.

Mari lupakan perkara kemunculan saya di foto itu. Coba tengok cewek yang ada di tengah atas. Dialah Lanny yang sedang kita bahas. Model rambutnya mantap ya. Saya sebut model polesan (poni lempar ke sanaan dikit). Coba bandingin dengan Lanny yang ada di sini. Beda ya... sekarang lebih cakep. Hihihi. Anyway, sekarang statusnya masih single available lho...

Dahulu, Lanny sudah 2 (entah yang ke-3 boleh dihitung atau tidak) gagal dalam percintaan. Pacar pertamanya adalah yang fenomenal. Saling mengenal di Facebook, lalu berlanjut ke Yahoo Messenger. Tanpa melalui pertemuan tatap muka—karena mereka berada di dua pulau yang berbeda, terpisah di antara selat—mereka memutuskan berpacaran. Bisa gitu... Hebat kan.

Saat mereka kopi darat, saat Lanny membawa pacarnya ke kampus, betapa bahagianya Lanny saat itu. Tetapi, cinta tidak selalu indah. Pada akhirnya, selat perbedaan memisahkan mereka lebih jauh dan lebih jauuhhh lagi.

Pacar kedua tidak terlalu terekspos. Saya kurang tahu sejarah pertemuannya. Saya harus tunggu Lanny bercerita dulu neh. Perpisahannya sama dengan yang pertama, putus lagi karena masalah perbedaan. Lah, bukankah perbedaan sesungguhnya mengindahkan kehidupan ini? Oh, rupanya... saya tahu sekarang bahwa cinta tidak cukup dengan hanya perbedaan. Cinta pun tidak semudah jalannya seperti dalam cerita drama.

Dan, yang ketiga adalah yang (mungkin) paling pilu baginya. Terkatung-katung dirinya di antara ”mendapatkan apa yang tidak bisa didapatkan dan melepaskan apa yang tidak bisa dilepaskan”. Ceritanya secara tersirat ada di blog pribadinya.

Lanny adalah pecinta cinta. Tentu saja cinta yang menggembirakan. Novel, lagu, dan drama romantis adalah bagian dari hidupnya. Dia tidak mencari pria yang kaya dan tampan, tetapi yang mau berjuang untuk hidupnya. Hanya saja, keinginannya sedang tak berbanding lurus dengan harapannya. Tetapi, Lanny bukan pecinta galau. Tuhan, sahabat, keluarga, dan mbaknya yang setia mendengarkan curhatnya selalu dapat menguatkan dirinya.

Lanny adalah anak yang baik. Dia senang membantu temannya dengan tulus. Saya belajar ketulusan darinya. Dia senang mendengarkan curhatan orang, termasuk saya. Hehe. Dia sayang anak-anak. Keponakannya bernama Darren adalah kesayangannya. Sahabatnya, Ririn adalah orang yang paling dekat dan paling baik dengannya.

Lanny adalah anak yang senang berbagi. Saya pernah dipinjamkan berbagai macam komik dan novel olehnya. Sayang sekali, rumah kami terpisah oleh jarak ribuan mil. Coba kalau dekat, koleksi novel, DVD, dan komik bisa dijarah semua oleh saya. Hahaha.

Hobinya selain baca buku dan nonton DVD adalah foto-foto. Kalau bepergian bersamanya, kamu akan beruntung. Kamu pasti ada di album fotonya. Ya, dia tidak hanya senang dipotret, tetapi senang memotret orang lain. Lalu, fotonya akan diedit olehnya. Begitulah kesenangan dia. Dia adalah seksi dokumentasi yang baik.

Saya senang sampai kini kami masih sering bercakap-cakap via YM. Sekarang Lanny, sibuk kuliah S-2 mengambil profesi Psikologi Klinis Anak. Pekerjaan dengan anak-anak adalah memang yang paling cocok dengannya.

Begitulah tentang Lanny. Tidak ada perkenalan secara formal yang kami lakukan. Saya tidak ingat kapan saya mulai tahu dirinya. Perjumpaan kami memang tidak jelas. Biarlah jadi misteri. Saya doakan jalan cinta dan jalan karirnya bisa semulus dengan kisah-kisah happy yang sering ia baca dan dengar.

Meski Lanny tak kan mungkin bilang ke sayang ke saya, haha.... tetapi, biar saja saya yang bilang bahwa Lanny akan menjadi teman yang selalu kusayang...  

2 Februari 2013

Seorang Motivator

Selain Natalia, satu orang yang luar biasa yang saya kenal adalah Debbie. Debbie adalah penulis novel Honey Money. Saya beruntung sudah kenal dia sejak SMA.

Sewaktu kelas 1 SMA, anaknya sudah menunjukkan ada ”sesuatu”.  Saya sekelas dengannya saat itu. Anaknya supel dan cepat akrab dengan siapa. Tak heran di tahun pertamanya saja, dia sudah menjabat sebagai wakil ketua OSIS.

Selain itu, dia juga berbakat. Bermain gitar adalah salah satu talentanya. Dia sempat didapuk sebagai gitaris untuk band sekolah kami yang bernama 7 Inspirations. Tapi, talenta lain yang membuat saya berdecak kagum adalah menulis. Menulis, semua orang juga bisa, mungkin sebagian besar kan berkata begitu. Tetapi, menulis sampai menjadi sebuah karya dalam bentuk buku novel, tentu saja, tidak banyak yang bisa apalagi sampai berhasil dicetak ulang beberapa kali.

Awalnya saya kurang percaya ketika diberi tahu seorang teman bahwa Debbie sudah membuat sebuah novel (waktu itu kami masih kelas 2 SMA). Oh ya? Begitu kata saya dalam hati. Mungkin cuman tulisan untuk kalangan terbatas. Tetapi, ketika melihatnya di perpustakaan sekolah, saya baru percaya sepenuhnya. Hehehe.

Novel perdananya Not Just a Fairy Tale. Pas di awal, ceritanya lumayan seru. Tetapi, kemudian ceritanya jadi agak membosankan. ”Sorry ya, Deb.” Tetapi, mengingat ini adalah karya pertamanya selain karena karya teman sendiri, so saya tetap mengapresiasi. Setidaknya, jujur... judul novelnya keren.

Setelah membaca Not Just a Fairy Tale sampai habis yang cuman butuh waktu sehari, saya berpikir sebenarnya saya juga bisa melakukan hal yang sama dengannya. Menulis sebuah cerita dan menjadikannya sebuah novel. Sejak SMP, saya merasa kemampuan menulis saya cukup baik di samping saya punya daya khayal yang baik. Maka kemudian, saya termotivasi untuk menulis dan membuat sebuah buku. Dan, hasilnya.... sampai kini.... gak berhasil. Hahaha. Seperti halnya Debbie yang mesti patah hati dulu baru dapat membuat novel, mungkin saya harus patah hati dulu kali ya supaya termotivasi. Eaaa...

Sewaktu SMA, dia bukan yang menempati posisi sangat terbaik. Meski anak jurusan IPA, mafia-nya (mate, fisika, kimia) sering remedial kok. Eh, saya juga sih. Hehehe. Pelajaran yang dikuasainya adalah bahasa Inggris (ayahnya guru bahasa Inggris). Di SMA, dia juga punya geng wanita bernama Sanseivera. Masih awet sampai sekarang. Nama geng ini kalau tidak salah diambil dari nama-nama para anggota geng tersebut. Sandra dan Liana, 2 teman baik Dee dalam Honey Money alias Debbie di kehidupan sebenarnya juga bagian dari geng ini.

Karena dia kuliah di jurusan yang sama denganku (Jurusan Psikologi), saya bisa mengamati kiprahnya lebih jauh. Di SMA kami, memang tidak ada sistem ranking, tetapi saya sih yakin betul dia tetap ada di geng 10 besar. Seperti sudah dibahas, di SMA, dia bukan yang sangat terbaik. Tetapi, di kampus, siapa sangka dia lebih bersinar?  Dia menjadi salah satu runner up lulusan terbaik di upacara wisuda ke-58. Rasanya wajar ya, karena ia sudah mantap memilih jurusannya sejak kelas 1 SMA. Mungkin ada unsur passion, atau kalau saya boleh berargumen, ”jurusan psikologi itu sebetulnya masih lebih mudah dari mafia... karena gak pake logika dan problem solving yang terlalu rumit. Ujiannya itu asal jago ngapal, rajin membaca, pandai memilih teman sekelompok yang tepat, plus cerdas dalam ”ngarang” jawaban¸ pasti bisa kok dapat bagus, hehehe.” Saya sih ngebayangin kalau Liana, teman kami yang paling pintar itu memilih jurusan Psikologi Untar, rasanya dia juga akan dapat predikat lulusan terbaik. Kayaknya yaaa...

Kemudian, dia sempat menjadi Duta Fakultas Psikologi Untar, lalu 3 kali mewakili nama Untar dalam ajang perlombaan antarfakultas psikologi; salah satu yang spesial adalah perlombaan Psycomp di Bandung (saya turut serta di sana). Prestasi lainnya adalah menjadi runner up Putri Usaha Kreatif Indonesia, gelar yang disabetnya di sela-sela dia bekerja di salah satu perusahaan otomotif ternama. Novel keduanya Honey Money ditulisnya di sela-sela dia kuliah. Dia pun aktif dalam pelayanan gereja. Bensin semangat anak ini sungguh hebat. Entah seperti apa pola makan dan tidurnya?

Dengan segudang hal luar biasa yang telah dia dapatkan dan jalani, tidak banyak yang berubah darinya. Tetap wanita biasa yang masih memikirkan bentuk badannya (masalah umum wanita). Hahaha... Kesederhanaannya itulah yang membuat saya mengaguminya.

Oh ya... dia punya kelemahan yaitu tak bisa ngomong ”r”. Maka nama aslinya Debora, dia hanya pasrah mengucapkan namanya sendiri menjadi Debola. Oleh karena itu, dia lebih suka menyebut dirinya Debbie, karena tidak ada unsur ”r” di sana. Jadi, kita tahu dari mana nama panggilannya berasal. Hahaha.

Berkat kesuksesan novel Honey Money,dia bisa memetik salah satu cita-citanya: Keliling Eropa. Seperti halnya dia yang terus berusaha mengejar impiannya, saya pun kelak akan harus begitu. Motivator tidak perlu tokoh terkenal sekali. Seorang Debbie saja sudah memotivasi saya.

7 Januari 2013

Seorang Inspirator

Saya beruntung pernah mengenal Natalia. Ceritanya berawal dari semester 4, saat dia dan Felicia ikut bergabung ke dalam BUPSI (Buletin Psikologi) UNTAR, menemani saya, Endy, dan Riske yang sudah lebih dulu bergabung. Semester 5, dia menjadi Ketua BUPSI. Semangat dan dedikasinya memimpin BUPSI membuat BUPSI berkembang sangat baik.

Era sebelum Natalia, BUPSI tak ada iklan, terbit setahun sekali, belum berwarna, dan bahkan BUPSI harus dibeli tuk mendapatkannya. Di era Natalia, terjadi perubahan signifikan. BUPSI terbit per semester, mendirikan kegiatan lain selain menerbitkan majalah, yaitu workshop. Sampai sekarang, kegiatan-kegiatan sejenis workshop masih diteruskan. Lebih menakjubkan lagi, saya mendengar BUPSI kini sudah bisa diterbitkan 3 kali per tahun dengan full colour dan sudah ada pengiklannya. Luar biasa!

Workshop Penulisan Fiksi: Workshop yang pertama kali diadakan oleh BUPSI

Semua itu pasti berbeda jika Natalia tidak menjadi ketua BUPSI saat itu. Natalia bukan 1 dari 10 mahasiswa dengan IPK terbaik di angkatannya. Tetapi, harga IPK tentu tidak sebanding dengan karya nyata yang kita hasilkan. Natalia jelas dan nyata sekali sudah sangat berjasa mengembangkan BUPSI. Selain itu, sudah cukup banyak orang tahu, Natalia mendirikan bimbingan belajar bernama Kidtozz Bimbel sejak akhir 2010.

Bimbingan belajarnya ini adalah penyalur tenaga pendidik (tutor) ke rumah-rumah siswa (privat). Yang menarik ada sistem token yang bisa dikumpulkan siswa untuk mendapatkan hadiah di setiap semester. Saya adalah tutor generasi pertama. Saya bergabung di Kidtozz dari Januari 2011 sampai Januari 2012. Pengalaman pertama mengajar saya sempat saya posting di sini.

Pengalaman pertama yang ditulis di sana masih kurang lengkap sebetulnya. Hehe. Saya masih ingat begitu perhatian seorang Natalia kepada saya. Jadi, di awal-awal mengajar, Natalia tidak lupa menyempatkan diri menelepon saya atau meng-SMS untuk sekadar mengetahui kondisi saya. Tidak jarang, saya curhat panjang lebar tentang derita mengajar yang saya alami.

Perhatian Natalia yang paling saya ingat adalah ketika dia datang ke Kelapa Gading, mengunjungi rumah Owen dan Dewin karena masalah ketidaksepahaman jam mengajar antara dia dan Tante Owen dan Dewin, sekaligus menengahi komplain dan ultimatum Tantenya ke saya. Padahal, dia habis mengajar dari Kota, kemudian langsung ke Kelapa Gading dengan menaiki taksi dan tidak menyempatkan diri makan siang... hanya demi tidak mau terlambat! Dan, itu bukan hal yang pertama dia rela tidak makan siang demi tidak mau terlambat. Natalia bisa menahan sementara kepentingan dirinya sendiri demi kepentingan orang lain. Dia bisa melakukan pekerjaan dengan profesional. Maka, tak heran BUPSI bisa menjadi lebih baik di bawah kendalinya.

Setelah selesai berurusan dengan Papanya Owen dan Dewin, kami pulang naik bus TransJakarta. Selama perjalanan pulang, Natalia berbagi pengalaman mengajarnya ke saya. Dia bercerita dia pernah mengajar anak autis dengan modal nekat. Pernah pula, dia mengajar di daerah Tebet sehingga sering pulang malam. Saya lalu sempat nyeletuk, ”Nat, kenapa loe gak buat semacam buku biografi mengenai hidup loe dan dedikasi loe ke dunia anak-anak?” Natalia jawab bahwa dia ada keinginan, tetapi tidak punya waktu untuk menulis. Secara spontan, saya menawarkan diri jika diperbolehkan menulis biografinya. Hehehe.

Sekilas tentang Natalia. Asalnya dari Cirebon. Sejak kecil, ia sudah rajin belajar. Dia juga aktif dalam pelayanan gereja. Visinya jelas. Dia ingin menjadi seorang pendidik. Maka, dia merintis karirnya sebagai guru privat pun dari niatnya sendiri. Dia sendiri pula yang mencari pekerjaan mengajarnya. Berangkat dari pengalaman mengajar itulah, dia berpikir untuk membangun bisnis bimbingan belajar bernama Kidtozz Bimbel. Dia pun masih menyimpan cita-cita menjadi seorang psikolog anak dan seorang master pendidikan.

Meski sudah mengepalai sebuah bimbingan belajar, dia tetap turun ke lapangan untuk mengajar, karena dia tak pernah bisa lepas dari dunia mengajar. Natalia pernah bilang bahwa passion-nya menjadi seorang pendidik nampaknya menular secara genetik. Di keluarganya juga ada yang berprofesi menjadi seorang guru.

Bertemu Natalia, lalu ikut serta melihat bagaimana bisnis bimbelnya dibangun membuka mata saya pentingnya memiliki tujuan hidup. Saya masih ingat awal mula markas bimbelnya itu di kosnya sendiri, lalu pindah ke gedung apartemen. Awalnya hanya satu unit, kemudian dia sekarang menyewa dua unit. Kemajuan yang luar biasa. Juga, akan selalu saya ingat setiap memasuki bulan evaluasi, yang mana tutor mesti datang menghadap ke Ibu Kepala Sekolah Natalia... hehehe, pasti ada diskusi panjang lebar mengenai masalah pengasuhan anak zaman sekarang.

Pembicaraan bersama di bus TransJakarta itu harus terhenti. Natalia memutuskan untuk transit ke bus yang mengarah ke arah Salemba karena sudah ada janji wawancara. Kami berpisah. Natalia meneruskan aktivitasnya mewawancarai salah satu partisipan skripsinya di RS Kramat. Sementara saya melanjutkan perjalanan pulang. Betapa saya tidak dibuat kagum dengannya karena dia merintis bisnis sembari mengajar sembari mengerjakan skripsinya... dan lulus tepat waktu pula dengan IPK memuaskan.

Tidak banyak orang yang saya kenal yang berani membangun bisnis dengan skala cukup besar di waktu usia muda. Meski bisnisnya masih dalam proses pengembangan, seorang Natalia sudah menginspirasi saya.