Page

7 Mei 2014

Jangan Terlalu Baik Sama Anak

Judul postingan ini mungkin bisa menuai protes. Lho, maksudnya apa nih? Sama anak kok gak boleh baik. Boleh baik, tapi harus ditegaskan jangan terlalu baik.

Saya melihat fenomena orangtua di perkotaan mudah memanjakan anak dengan berbagai macam hal yang menyenangkan. Meski baru berusia SD, anak-anak sekarang sudah terbiasa bermain tablet, memiliki ponsel sendiri, berekreasi ke mal-mal besar. Kehidupan anak zaman sekarang memang terasa lebih menyenangkan dibandingkan dengan keadaan di 10-20 tahun sebelumnya. Menyenangkan anak bukan sesuatu yang salah. Namun menjadi sesuatu yang sangat salah, jika menyenangkan anak menjadi sesuatu yang dibiasakan oleh orangtua. Ada jenis orangtua yang saya temui teramat gampang memberikan atau membelikan sesuatu kepada anak.

Tapi pada kasus yang lebih jauh, saya melihat ada orangtua yang baiknya sudah melampaui batas. Ambil contoh, anak itu merengek-rengek meminta sesuatu, dengan mudahnya saja orangtua itu memberikan. Orangtua semacam ini sangat sulit mengatakan TIDAK kepada anak.

Saya bisa paham, ada orangtua yang tidak tahan bila anaknya menangis atau cemberut.  Jadi, mereka pun lebih rela mengabulkan permintaan anak mereka meski dalam hati enggan.

Nah, di sinilah menurut saya kesalahan besar bagi orangtua yang berpikir bahwa mencintai atau menyayangi anak adalah selalu menyenangkan mereka.


Orangtua mengerjakan PR anak. Ada beberapa orangtua yang melakukannya, meski itu sangat tidak mendidik.

Anak adalah makhluk yang bersifat egosentris. Yang mereka tahu sejak lahir adalah mereka harus dilayani dan dimengerti. Yang mereka tahu dengan menangis mereka akan diperhatikan. Mereka belum bisa mengerti dengan terang bahwa ada sesuatu yang harus diperjuangkan sendiri; bahwa ada sesuatu yang diinginkan, namun tidak bisa didapatkan. Bahasa sederhananya, anak-anak belum bisa merasakan yang namanya "galau".

Menjadi terlalu baik kepada anak hanya menebalkan sifat egosentris mereka dan ini tentu tidak bagus untuk perkembangan mental mereka. Karena itu mendidik anak harus profesional. Adakalanya harus baik. Adakalanya anak harus dihukum karena kenakalan mereka. Adakalanya anak harus dimarahi karena kesalahan mereka. Adakalanya kita harus berkata TIDAK untuk sesuatu yang tidak dirasa perlu untuk anak seusia mereka.

Jangan tertipu dengan muka innocent anak atau keluguan mereka. Dalam mendidik, jangan melihat tampang atau usia. Kita tidak boleh mentolerir diri dengan hal-hal seperti itu. Kalau kita sebagai orangtua terlalu baik dengan anak, justru hal itu bisa saja melemahkan posisi kita sebagai orangtua. Anak pun menjadi penguasa di atas kaki kita. Bila terjadi hal seperti itu, sangat gawat. Anak tak akan punya respek pada orangtua dan bisa bertingkah semau-maunya.

Lihat saja nanti. Kalau kita sudah terbiasa baik dengan anak, lalu pada suatu ketika, kita tidak mau menuruti keinginan mereka, biasanya anak akan mengeluarkan jurus jitunya: menangis, mengambek, mengamuk, dll. Reaksi yang akan muncul dalam diri orangtua biasanya adalah sebagai berikut:
1. Daripada dia rewel terus, berikan saja apa yang dia mau
2. Daripada saya dibenci oleh anak saya, berikan saja apa yang dia mau.
3. Saya tidak bisa memberikan apa yang dia mau. Lalu, saya berkata dengan tegas ke hadapannya. Tetapi, sejenak kemudian, saya merasa bersalah. Lalu, saya memutuskan memberikan apa yang dia mau.
4. Saya kali ini dengan tegas tak akan memberikan apa yang dia mau.

Pilihan nomor 1-3 adalah piliihan yang terjadi karena sudah terbiasa baik dengan anak, membuat kita mengalami kesulitan untuk bersikap tidak baik (mengalah) pada anak suatu hari nanti.

Pilihan nomor 4 adalah pilihan yang bijak. Sebagai orangtua, kita punya hak untuk menentukan apa yang baik untuk anak.

Menjadi orangtua yang baik di mata anak adalah dambaan semua orang dan harapan masyarakat. Harus diingat, apa pun yang kita lakukan menurut saya harus sewajarnya. Jangan terlalu baik dengan anak, seperti menuruti semua keinginannya. Tetapi juga jangan terlalu bersikap tidak baik dengan anak, sedikit-sedikit memukul anak padahal hanya kesalahan kecil yang ia lakukan.

1 Mei 2014

Antara Les, Orangtua, dan Anak

"Ma... aku gak mau les terus... Bosen."

Begitu bunyi curhat seorang anak ketika ia harus pasrah mendapati dirinya les hampir setiap hari. Entah itu les mata pelajaran, les piano, les balet, les sempoa, les bahasa Mandarin, les bahasa Inggris, dan les-les apa lagi entah sekarang. Belum lagi, di sekolah mewajibkan anak untuk ikut ekstrakurikuler. Artinya bertambah banyak kegiatan anak seusai sekolah. Beginilah fenomena anak zaman sekarang: Anak banyak les!

"Tapi, Nak... Kamu yakin bisa belajar sendiri di rumah?"

"Kamu yakin bisa dapat nilai bagus?"

"PR anak-anak zaman sekarang susah-susah minta ampun. Terpaksa deh masukin anak ke tempat les."

Begitu bunyi curhat orangtua. Lebih tepatnya bunyi curhat Mama (di sini saya masih pakai prinsip Mama lebih bertanggung jawab terhadap pengasuhan anak, karena yang saya temui di masyarakat masih seperti ini). Mama zaman sekarang memang bukan Mama zaman dulu yang hanya mengurusi tiga hal: Dapur, Sumur, Kasur. Mama zaman sekarang lebih mobile, dengan gadget di tangan, mereka terjun ke lapangan, mencari tempat nongkrong. Tentu yang saya maksud adalah Mama-Mama Mall. Itu hanya satu fenomena. Fenomena lain: Mama-Mama Kantoran (baca: Wanita Karir). Intinya sih mengerucut kepada satu hal: Mama zaman sekarang lebih sibuk daripada Mama zaman dulu. Jadi, beginilah fenomena Mama zaman sekarang: Tak ada waktu (lebih) untuk mengajari atau memantau kegiatan belajar anak di rumah!

Memasukkan anak ke tempat les tentu bukanlah dosa. Les bahasa Inggris, les piano, les menyanyi, les-les yang berkaitan dengan kesenian tentu sangat baik untuk menambah kelebihan anak. Syukur-syukur rupanya anak itu punya talenta di bidang seni.

Saya dulu dikatakan hampir tidak pernah ikut les pelajaran dan les-les lainnya. Hanya dua kali saya ikut les, yaitu kelas 1 SMA dan kelas 3 SMA menjelang Ujian Nasional. Itu pun hanya les matematika. Dan itu pun karena saya meminta. Alasan saya tidak dileskan karena alasan finansial. Orangtua saya tak mau buang uang percuma memasukkan anak-anaknya ke tempat les. Untunglah, saya bukan anak susah diatur dan dapat bertanggung jawab sejak kecil. Untuk urusan PR, saya bisa mengerjakannya sendiri. Untuk urusan ulangan, saya bisa belajar mandiri tanpa dibantu. Jika ada kesulitan, saya proaktif mengandalkan teman-teman sebagai tempat bertanya.

Akan tetapi, ketika sudah dewasa, sedikit banyak saya menyesal juga. Memang sih, saya bisa menggunakan waktu luang saya sepulang sekolah untuk menonton kartun, jalan-jalan bersepeda, atau membaca komik. Tetapi, saya seperti anak yang kekurangan keahlian di luar bidang pelajaran sekolah, entah itu bidang olahraga atau seni.

Hmm.... Mari kita skip saja curhat tentang diri saya...

Seperti saya sudah katakan memasukkan anak ke tempat les bukanlah dosa besar. Menurut saya, ada beberapa alasan orangtua memasukkan ke tempat les:

1. Kedua orangtua sibuk bekerja sehingga tak bisa memantau kegiatan belajar anak di rumah.
Alasan seperti ini masih bisa diterima mengingat mengandalkan penghasilan salah satu pihak saja terasa tidak cukup untuk kehidupan zaman sekarang. Tetapi pada kasus yang ekstrem, orangtua tersebut begitu percaya pada guru les sehingga sampai-sampai ia tak mau tahu atau tak mau terlibat dengan perkembangan akademis anak. Ada lho yang kayak gini. Hari libur adalah hari untuk keluarga, hari untuk anak bermain. Karena dianggapnya anak sudah belajar bersama guru les, tidak perlu lah anak belajar lagi bersama orangtua. Wah, wah... kacau sekali.... Anak bisa pintar kan bukan tanggung jawab guru, tetapi tanggung jawab orangtua juga.

2. Meski Mama/Papa di rumah, Mama/Papa tidak bisa mengajari anak pelajaran tersebut.
Alasan seperti ini masih boleh diterima mengingat bobot pelajaran anak zaman sekarang terasa lebih berat daripada waktu saya sekolah dulu. Tetapi sebenarnya alasan ini masih bisa disanggah. "Ini sih ortunya aja yang malas untuk ikut belajar bersama anak." Jika mau sedikit capek saja, ikut membaca dan memahami isi pelajaran anak, mau membantu anak belajar, sesungguhnya hal ini bisa memperat hubungan orangtua dan anak.

3. Ortu ingin memberikan sebuah investasi mulia kepada anak.
Les Mandarin sedari kecil, les piano sedari kecil agar anak itu punya kemampuan lebih, tidak bernasib naas menjadi orang dewasa yang medioker (seperti saya ini). Tentu ini adalah baik. Sayangnya, kadang orangtua terlalu memaksakan kehendaknya kepada anaknya. Anak itu jelas-jelas tidak suka bermain piano, tidak suka pelajaran mandarin, tetapi tetap saja dipaksa-paksa untuk ikut les. Sayang duitnya, katanya sih begitu. Harusnya orangtua menyesuaikan bakat dan minat anak terlebih dahulu ketika memasukkan anak ke tempat les non mata pelajaran.

Peranan orangtua bukan hanya membesarkan dan merawat anak, tetapi juga sebagai guru bagi anak di rumah. Bahkan, sebenarnya menjadi guru seumur hidup bagi anak. Menjadi guru memang tidak mudah. Tidak semua orang bisa menjadi guru yang baik dan hebat. Karena itu ada sekolah, karena itu ada tempat les yang tugasnya membantu mendidik dan mengajari anak berbagai macam hal.

Karena les bukan sesuatu yang sifatnya wajib, tentu harus disikapi secara bijak, apakah les akan menjadi sesuatu yang menyenangkan atau memberatkan bagi anak? Apakah Anda (calon ortu) sudah memikirkan mengenai kegiatan anak ketika ia sudah bersekolah, les apa yang dia akan ikuti atau ia tak perlu lah les sama sekali?

5 April 2014

Teman Lokasi

Saya pernah berkata kepada seseorang, "Ketika kita sudah selesai kuliah, akan kelihatan mana yang sesungguhnya teman, mana yang bukan..."

Sebagian dari kita tentu masih ingat ketika masa sekolah, ada orang-orang yang sering diajak berkumpul bersama, pergi ke suatu tempat bersama, makan bersama di kantin, lalu bermain-main atau saling bercanda saat istirahat, sampai meminta orang-orang itu menuliskan biodatanya dalam sebuah buku bernama diari, menuliskan untaian kata persahabatan, diakhiri dengan kalimat friends forever.

Di masa kuliah kata-kata semacam friends forever mungkin terdengar hiperbola. Tetapi, sebagian dari kita tentu masa ingat semasa kuliah ada orang-orang sering diajak berkumpul bersama untuk makan bareng atau mengerjakan tugas bareng, saling menguatkan ketika mengerjakan tugas akhir.

Di masa-masa seseorang mulai bekerja tidak ada lagi cerita tentang nilai IPK atau ke mana saja ketika liburan semester tiba. Sebagian dari kita yang sudah bekerja di sebuah kantor tentu masih ingat ada orang-orang sering diajak makan siang bersama, membahas tugas-tugas kantor, sampai bergosip tentang teman sekerja.

Setelah pindah kantor, orang-orang yang sering diajak makan siang menjadi berbeda.... Termasuk beda menu makannya, tempat makannya, suasananya, sampai pembicaraannya....

Pertanyannya, ke manakah orang-orang itu? Saya ingin kembali ke momen itu, tetapi rasanya-rasanya sudah jarang bertemu dan berkumpul bersama-sama, apalagi berhubungan via SMS atau media sosial. Sudah sibuk dengan urusan masing-masing, begitulah jawaban standarnya.

Hidup ini tidak sekadar berjalan, tetapi berpindah. Kita berpindah-pindah dari suatu masa ke suatu masa, dari suatu tempat ke tempat lain. Setiap kali berpindah dari suatu tempat, kita mendapat pengalaman baru juga teman baru. Teman-teman lama di masa-masa sekolah, di masa-masa kuliah, atau di kantor lama (entah satu, dua atau tiga kantor lama) arti kehadirannya akan menyusut, meski tidak hilang atau terlupakan.

Kalau saya membuka Facebook, ada ribuan teman saya. Meski tidak semuanya, saya masih ingat sebagian besar orang ini, saya bertemu dengannya dalam kegiatan ini. Teman yang satu ini saya kenal karena bersama-sama ikut dalam organisasi ini. Lama kelamaan ada yang hampir mulai terlupakan, "Aduh, saya kenal orang ini dari mananya? Atau mungkin saya tidak pernah bertemu dengannya sama sekali (saya tidak mengenalnya, mungkin dia yang mengenal saya). Atau kita hanya secara tidak sengaja menjalin pertemanan di Facebook."

Berkurangnya atau hilangnya interaksi dengan teman-teman lama memang tidak bisa kita hindari. Karena setiap orang merangkai pilihan hidupnya masing-masing. Sebagian dari mereka memilih untuk tidak kuliah selepas lulus sekolah, mungkin langsung bekerja membantu orangtua. Sebagian dari mereka baru memilih bekerja selepas kuliah. Sebagian lagi memilih melanjutkan kuliah. Sementara sebagian lagi memilih untuk menikah. Jelas kalau sudah menikah, waktu yang dihabiskan lebih banyak untuk keluarga tercinta.

Pernah dengar istilah cinlok? Cinlok atau cinta lokasi sering dipakai dalam dunia hiburan. Dua artis karena syuting bareng, karena sering bertemu dalam lokasi yang sama kemudian jatuh cinta dan jadilah mereka sepasang kekasih. Maka saya rasa ada juga yang bernama temlok atau teman lokasi. Teman yang hadir sebatas lokasi.

Contohnya, ketika masa kuliah, kita punya teman dekat bernama A, B, C. Lalu setelah lulus kuliah, kita memiliki teman baru: D, E, F. Ke mana si A, B, C? Karena sudah tidak berada di lokasi yang sama (kampus), jadinya pertemanan itu merenggang dan tidak pernah berhubungan lagi.

Lokasi memang salah satu penentu terjadinya hubungan. Tak jarang, waktu kita SD, teman dekat kita adalah teman sebangku kita, atau teman yang ada di samping kiri, kanan, depan, belakang tempat duduk kita. Orang yang lebih dekat duduknya dengan kita akan lebih memungkinkan untuk jadi teman dekat, meski tidak selalu.

Apakah pertemanan hanya sebatas lokasi? Tidak juga. Tentu saja ada teman yang tak terpengaruh lokasi, teman yang tak terikat ruang dan waktu. Mungkin inilah teman sesungguhnya. Atau istilah lainnya "sahabat sejati".

Teman-teman yang meski sudah tidak berada di lokasi yang sama, tetapi masih sering bertemu (jalan-jalan bareng) atau sekadar menanya kabar. Teman-teman yang meski sudah tidak berada di lokasi yang sama, namun masih ingat dengan ultah kita atau malah memberikan kejutan di hari ulang tahun kita. Meski usia sudah kepala 2 atau kepala 3, tapi dengannya yang sudah kita kenal sejak kepala 1 masih keep in touch, masih saling bertemu dan saling kontak. Pertemanan yang luar biasa. Kita setidaknya memiliki satu atau dua orang seperti itu.

Teman-teman ini, orang-orang ini, tidak datang dan pergi begitu saja. Kita harus bersyukur dengan kehadiran mereka. Teman-teman seperti ini adalah aset yang berharga. Mereka menjadi orang-orang yang bisa kita percaya dan andalkan ketika kita berada dalam masa-masa yang sulit atau masa-masa yang sepi.

Sementara itu, orang-orang yang datang dan pergi begitu saja, apakah mereka begitu hina? Tentu saja tidak. Ibarat cerita novel, ada tokoh-tokoh utama, ada pula tokoh-tokoh pendukung. Teman-teman lokasi itu memang tidak menjadi tokoh-tokoh utama dalam cerita hidup kita, tetapi mereka akan selalu menjadi tokoh-tokoh pendukung terbaik yang pernah kita temui. Dengan mereka, kita belajar banyak dari rasa kebersamaan hingga rasa kehilangan. Dengan mereka, kita juga harus bersyukur karena telah mendapatkan pengalaman dan kenangan yang bisa menjadi kisah-kisah lucu atau kisah-kisah sedih di masa depan.

Sumber: picslava.com

P.S.: Tulisan ini TIDAK mendiskreditkan atau menyinggung orang-orang tertentu, kesannya seolah-olah saya sedang dikhianati atau kesepian. Tulisan ini cuman membahas fenomena bahwa ada sejumlah orang yang entah bagaimana caranya selalu berada dekat dengan hidup kita, sedangkan sebagian lainnya tidak demikian.

30 Maret 2014

Beli Minuman Di Sini Harus Ngutang

Saya mau posting lagi sebuah gambar lucu. Kali ini gambarnya saya dapatkan secara tidak sengaja.

Sumber gambar: Gambar milik pribadi. Lokasi pengambilan gambar: Hmm... kasih tahu enggak ya.
            











Maksud tulisan yang menempel pada kulkas tersebut apa ya? Mungkin kira-kira begini bacanya....

Minuman bayar cash dilarang!!!!

Ooh... mau beli minuman dalam kulkas itu dilarang atau gak boleh bayar cash tuh. Jadi bayarnya gimana?

Ngutang.......!!!!

Bayarnya mesti ngutang ternyata....  Atau sekalian gak usah bayar aja gimana, hehehe.

29 Maret 2014

Selingkuh Udah Nggak Zaman

Sesekali sepertinya saya ingin mem-posting isi tulisan yang tidak serius-serius amat. Baca blog orang jangan sampai kayak baca jurnal ilmiah gitu... Penting juga buat orang tahu Sufren itu sebetulnya humoris. Ehm.

Saya mau share sebuah gambar yang saya culik dari Path seseorang.


Wah, benar banget kata entah siapa yang tulis. Pastinya calon atau mungkin pelaku tukang selingkuh. Saya juga setubuh.... eh, setuju.... Selingkuh emang udah gak zaman, karena selingkuh sudah jadi tren masa kini. Lho?!

28 Februari 2014

Bahasa Cinta

Sebelum mengakhiri bulan Februari yang katanya penuh cinta ini, saya mau sharing sedikit mengenai bahasa cinta yang dikemukakan oleh Dr. Gary Chapman.

Di dunia ini ada lima bahasa universal tentang cinta. Kelima bahasa ini dapat dipraktikkan kepada siapa pun, untuk orangtua, untuk saudara, untuk sahabat, untuk pasangan, dan lain sebagainya. Berikut adalah kelima bahasa cinta tersebut:

1. Kata-kata positif
        Yang paling mudah dalam mengungkapkan cinta adalah melalui kata-kata. Misal, “Aku sayang kamu”. Kata-kata positif tidak selalu harus ada kata “sayang”. Kata-kata positif juga dapat berupa pujian. Intinya, ungkapkan cinta dengan kata-kata yang dapat memberi rasa percaya diri kepada seseorang.

2. Waktu untuk bersama-sama
        Rasanya agak aneh apabila orang-orang yang saling mengasihi tidak dapat menghabiskan waktu bersama. Sempatkanlah untuk meluangkan waktu dengan orang yang kita sayang, seperti makan bersama, bermain bersama, atau rekreasi ke tempat-tempat hiburan.

3. Pelayanan
        Yang dimaksud pelayanan adalah melakukan sesuatu untuk orang lain. Saya ambil contoh di dalam keluarga, seperti anak dapat membantu Ayah atau Ibu membersihkan rumah. Ayah atau Ibu dapat membantu anak dalam mengerjakan PR. Kalau untuk pasangan, misalkan mengantar-jemput, membantu pekerjaannya, dan lain-lain. Alangkah indahnya dunia apabila hidup dapat saling membantu.

4. Sentuhan fisik
        Sentuhan fisik ini dapat berupa rangkulan, kecupan, belaian, atau pelukan. Berikan sentuhan sewajarnya. Jangan berlebihan.

5. Pemberian hadiah
        Bukan berarti harus memberikan barang-barang mahal atau mewah. Berikan barang yang berkesan atau barang yang ia suka.

Inilah kelima bahasa cinta yang harus diterapkan jika Anda mencintai seseorang, siapa pun dia yang Anda cimtai. Namun, perlu diingat level bahasa cinta setiap orang tidak sama. Ayah, Ibu, bahkan anak memiliki level bahasa cinta yang berbeda. Anak sangat senang bila diberi hadiah. Ibu lebih senang bila diberikan waktu untuk berkumpul bersama daripada hadiah. Ayah mungkin lain lagi. Ayah lebih senang bila anak dapat membantu Ayah, misal membawakan tas atau minum daripada harus setiap hari menghabiskan waktu dengan anak. Untuk kasus orang yang berpacaran pun sama. Ada pasangan yang lebih senang diberi hadiah kejutan, ada pasangan yang lebih senang bila dirangkul, namun ada juga yang lebih mengutamakan waktu untuk bersama-sama. Kenali bahasa cinta setiap orang.

15 Februari 2014

Sepotong Cerita Cinta di 14 Februari

Ada satu tanggal di bulan Februari membuat orang sibuk mengumbar cinta dengan berbagai macam cara. Tanggal 14 Februari, sejumlah orang menyebutnya Hari Valentine. Hari Valentine bukan hari nasional tetapi dirayakan secara nasional. Tanggal penting bagi sebagian orang yang sudah punya pasangan. Cokelat, bunga, kencan adalah aktivitas yang lazim dilakukan. Lalu, sebagian orang mengecamnya, bahwasanya jangan hanya mengungkap cinta kepada pasangan. Ingatlah juga memberikan tanda sayang kepada orangtuamu, saudaramu, temanmu. Sebagian orang lainnya lagi dengan tegas mengatakan Hari Valentine tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia, jadi tak pantas dirayakan.

Meski ada pro kontra, Hari Valentine belum dicekal di Indonesia. Untunglah. Saya sendiri menganggap Hari Valentine hari biasa-biasa saja. Sampai kini, entah dikarenakan belum punya pasangan, saya tak pernah sibuk membeli cokelat atau bunga untuk diberikan kepada siapa pun. Meski begitu, saya tetap mendapat cokelat dari cewek. Yaa... cokelat persahabatan sih. Haha. Di tahun ini pun saya tetap mendapat cokelat dari teman kerja saya, bahkan murid-murid saya.

Jauh dari ibu kota, ada bencana menyertai Hari Valentine tahun ini. Gunung Kelud di Jawa Timur meletus di tanggal 13 Februari 2014. Sampai hari ini abu vulkanik tersebar ke mana-mana (di antaranya ke kota Jogja, Solo, Madiun, Kediri), menutupi jalan hingga menghentikan penerbangan. Bahkan, abu vulkaniknya sampai melawat ke Bandung dan Bogor. Hari Valentine 2014 bolehlah dijadikan momentum berbagi rasa kemanusiaan kepada mereka yang tertimpa bencana Gunung Kelud. Mari berdoa semoga tidak ada petaka lain yang melanda negeri ini.

Walau saya tidak merayakan Hari Valentine secara spesial, di tanggal 14 Februari saya mendapat undangan ngumpul-ngumpul dari salah satu teman kampus saya. Undangan ngumpul-ngumpul-nya tidak berkaitan dengan Hari Valentine sih. Tetapi, menjadi spesial karena ajang ngumpul-ngumpul terakhir untuknya dengan status lajang. Minggu depan statusnya akan berubah.

Keputusannya untuk menikah mengejutkan banyak orang. Namun, sebagai sahabat, saya mendukung penuh keputusan dan kehidupan yang dia jalani. Melihat satu per satu teman saya telah atau akan melenggang ke altar pernikahan... Ah, saya malas bertanya, "Kapan giliran saya?"

Yang bisa saya katakan, kehidupan di sekitar saya semakin dewasa.

Kartu undangan pernikahan