31 Desember 2011
Back To December
Desember adalah bulan liburan, bulan sukacita, termasuk bulan perenungan.
Maka, melihat tahun 2011 sudah mau lewat, untuk postingan kali ini, saya mau kilas balik di tahun 2011 apa yang pernah terjadi di hidup saya sekilas aja.
Januari
Dapat pekerjaan sebagai guru privat di Kelapa Gading. Capek minta ampun. Jarak jauh. Mengajar setiap hari. Keluarga yang berisik. But, I think this is the beginning of my career.
Februari
Saya menghentikan pekerjaan pertama saya. Alasannya, amat berhubungan dengan pernyataan yang sudah saya sebutkan di atas. Cuman 20 kali pertemuan pada pekerjaan pertama. Terima kasih Natalia yang pengertian dengan saya. Kalau saya tidak berhenti bekerja, apa jadinya skripsi saya nanti.
Maret
Nothing special. I continue to do my thesis (baca: skripsi)
April
Saya dan Yonathan membantu Bu Nina menyebar kuesioner penelitian teman Bu Nina. Bertambah pengalaman saya tentang suasana kantor dan kerja. Saya juga mendapat pekerjaan kedua saya sebagai guru privat di daerah PIK. Tetapi, setelah hari pertama mengajar, saya dipecat karena ketidakmahiran saya dalam berbahasa Inggris. Sorry, Natalia. This is totally my fault, not you, because I lack of self-confident to convince the kid's mom. My first sadness about myself.
Mei
Rupanya saya tidak cukup kuat menarik dukungan untuk Lerenz menang sebagai Ketua BEM. So sad. My second sadness about myself. Di bulan ini, saya memutuskan suatu ide gila. Saya mencoba membuat penelitian selain skripsi untuk diikutkan ke Temu Ilmiah Nasional 2, sebelum akhirnya dialihkan ke International Conference di UI di bulan September nanti. Terima kasih sebesar-besarnya untuk orang-orang yang membantu saya menyukseskan penelitian unik ini.
Juni
My third sadness. Saya gagal mendapatkan kesempatan untuk maju sidang Juli 2011. Otomatis saya tidak bisa diwisuda dengan teman-teman saya di tahun 2011. Saya harus rela wisuda tahun 2012, meskipun mendapat kesempatan lulus sebagai lulusan mahasiswa terbaik. Was it the truly sadness?
Juli
Saya mendapat pekerjaan ketiga sebagai guru privat di daerah PIK. Awalnya agak sulit, tetapi saya berusaha menikmati. Banyak momen menyenangkan dan tidak menyenangkan yang saya alami bersama kedua bocah murid saya. Tidak terasa tahun depan, Januari 2012, saya nanti akan meninggalkan mereka. Bisa dibilang inilah pekerjaan pertama terlama saya.
Agustus
Nothing special. I still continue to do my thesis (baca: skripsi). I finally gathered all data that I need. Now, it's time to analyze.
September
Pengalaman pertama mempresentasikan makalah dengan bahasa Inggris. Agak menegangkan juga. Haha. Pada bulan ini, saya diperbolehkan sidang oleh pembimbing saya, meskipun skripsi saya (dengan jujur) masih belum sempurna.
Oktober
Sidang skripsi dan yudisium. Saya lulus dengan nilai A dan resmi menjadi alumni (bukan lagi mahasiswa). "Sufren... Kita tidak dinilai dari apa yang di dalam diri kita, tetapi juga apa yang di luar diri kita," pesan Ibu Ros kepada saya di akhir sidang.
November
Pertama kalinya saya menraktir teman-teman saya dalam rangka ulang tahun. Terima kasih untuk kehadiran kalian. Kalian membuat saya bahagia.
Desember
Bulan penuh liburan, tetapi cukup menyibukkan saya. Saya mesti membantu skripsi teman saya. Saya kembali memutuskan untuk ikut fitness demi memperbaiki tubuh saya (menggemukkan badan). Haha. Semoga berhasil ya. Dari teman lama saya, saya mendapat kesempatan untuk berdagang. Semoga usaha dagangan saya bisa sukses. Di bulan ini, saya mendapat ilham untuk memulai bisnis saya sendiri, selain membuat buku bersama sahabat karib saya.
Begitu saja serba-serbi kejadian penting yang terjadi di sepanjang kehidupan saya tahun 2011. Hehe.
Desember juga adalah bulan menyambut semangat dan harapan baru. Harapan saya di tahun 2012, saya bisa mendapat pekerjaan baru (bukan pekerjaan mengajar) dengan suasana, partner kerja, dan gaji yang layak. Semoga bisnis kecil-kecilan saya bisa lancar. Semoga buku saya bisa terbit. Dan... semoga saya bisa menjalin hubungan baik dengan siapa pun... Yang lebih penting, semoga harapan yang sudah ditulis tidak menjadi harapan kosong, tetapi bisa menjadi kenyataan. Paling-paling penting adalah saya bisa kembali ke bulan Desember 2012. Yeah, back to December. The journey of my life cannot finish now.
12 Desember 2011
White Lie
Kebohongan baik yang sering kita lakukan, mungkin saat kita diminta memberi penilaian atau komentar mengenai penampilan/busana seseorang. "Bagus gak bajunya?" tanya temanmu. "Oh, ya. Bagus kok," mungkin begitu jawaban kamu demi untuk tidak melukai perasaannya, padahal dalam hatimu, baju itu mungkin itu tidak cocok untuknya. Atau, dalam kasus orangtua yang seringkali menakut-nakuti anak. "Kalau gak cepat-cepat tidur, nanti malam-malam ketemu setan lho." Maksudnya si orangtua adalah untuk membuat anaknya segera tidur, tetapi secara tidak langsung malah mengajari anak mereka sebuah ketakutan yang tidak realistis. Dan masih ada contoh-contoh lain yang lebih banyak lagi.
Tetapi, benarkah kebohongan yang baik itu benar-benar baik? Dalam hal ini, kita harus bisa membedakan mana yang disebut "tindakan", mana yang disebut "tujuan". Mungkin tujuan berbohong kita adalah baik, tetapi perlu juga diingat bahwa tindakan kita adalah suatu tindakan bohong yang notabene semua agama yang bisa saya pastikan itu adalah dosa.
Analoginya, mungkin seperti ini. Ada sebuah sungai yang tidak terlalu dalam dan Anda dapat menyeberangi sungai tersebut dengan sebuah jembatan yang sudah disediakan. Haruskah memakai jembatan? Oh, tidak. Karena Anda sudah tahu sungai itu tidak dalam, jadi Anda bisa nekat menyeberang langsung tanpa perlu repot-repot memakai jembatan. Pada akhirnya, memakai atau tidak memakai jembatan, tujuan Anda tercapai. Sungai itu terseberangi. Hanya yang membedakan, jika tidak memakai jembatan, celana Anda akan kebasahan. Itu saja.
Begitulah para pembohong putih. Mereka mendapat tujuan baik dari kebohongan mereka. Tetapi, mereka tetap "basah" atas tindakan mereka itu. Bagaimana pun, tindakan bohong bukanlah tindakan benar, sebaik apa pun tujuannya. Bohong mungkin adalah salah satu dosa manusia yang sulit dihindari. Namun, saya kira kita perlu sadar, kita tidak boleh membohongi "tindakan kebohongan" baik yang sudah kita lakukan.
13 November 2011
Harapan II
Saya merasa banget perayaan ultah saya cukup berkesan, meski tidak ada kue. Bukannya tidak ada, tetapi tidak boleh ada karena saya merayakannya di tanggal 12 November. Ultah saya masih keesokan harinya. Saya juga bingung kenapa tidak boleh potong kue sebelum hari H, mungkin bisa bikin pendek umur kali ya. Hehe.
Ketika kamu menraktir teman-teman kamu, dan mereka mau datang, itu tandanya kamu masih dipedulikan, diperhatikan, dan disayangi. Untuk teman-teman saya yang baik hati yang sudah hadir dalam perayaan ultah sekaligus kelulusan, saya berterima kasih sekali untuk semua rasa sayang dan kepedulian kalian itu. Semoga saya semakin baik di tahun ini seperti yang kalian harapkan di kartu-kartu ucapan itu :)
6 November 2011
Harapan
Wisuda saya masih menunggu tahun depan. Di wisuda saya, saya nantinya adalah mahasiswa kebetulan-akan-jadi lulusan terbaik. Kenapa kebetulan? Ya, itu karena yang terbaik di atas saya sudah diwisuda November tersebut. Hehehe. Tepat di bawah mereka adalah saya. Otomatis, sayalah lulusan terbaik di periode wisuda ke 59. Dan lulusan terbaik akan memberi bunga kepada Dekan, kata Yonathan. Kata Yonathan lagi, "orangtuamu pasti bangga, Fren." Entahlah, mereka akan bangga atau tidak ya. Saya sendiri cuek aja dengan itu. Hehe.
Saya sebetulnya tidak mengharapkan menjadi yang terbaik. Lebih baik wisuda kemarin (meski tak akan jadi terbaik) daripada menunggu terlalu lama begini. Tapi, takdir sepertinya mengharuskan saya mendapatkan titel lulusan terbaik. Dan titel tersebut semakin mengusik saya.
Saya merasa, hanya merasa... Orang-orang mengekspetasi saya terlalu tinggi. Ini dimulai dari pernyataan Pak Bonar ketika saya berpartisipasi menjadi pemakalah di konferensi psikologi di UI," saya sangat berhadap besar padamu sebagai representasi alumni F.Psi. yang amat baik, most outstanding. Go on..." Harapan besar yang dilontarkan kepada Pak Bonar membuat saya bertanya-tanya, apakah saya bisa memikul harapan itu? Apakah saya bisa menjadi teladan seorang alumni Fakultas Psikologi Untar yang baik?
Jauh sebelum harapan besar Pak Bonar dan pertanyaan-pertanyaan itu datang. Dua tahun yang lalu, ada harapan kecil saya akan menjadi pemimpin sebuah majalah psikologi di kampus saya. Setahun yang lalu, ada harapan amat besar bahwa saya dapat menjadi pemimpin senat mahasiswa. Meskipun kedua harapan itu akhirnya kandas. Yang saya sebutkan terakhir, saya sendiri yang memilih untuk mengkandaskannya tanpa menjelaskan lebih dulu sebuah alasan (kepada mereka yang berharap). Kecewa. Ya, banyak yang kecewa.
Saya tidak tahu bagaimana ekspetasi/harapan orang-orang setelah tahu saya adalah mahasiswa (kebetulan) lulusan terbaik di wisuda nanti. Harapan-harapan itu sejujurnya menyenangkan saya, tetapi juga membuat saya heran. Apakah saya pantas mendapatkannya? Kata Yonathan, saya pantas mendapatkannya. Oh ya, Yonathan ini sahabat yang seringkali memuji (atau memuja?) saya.
Jika ditinjau dari komentar-komentar sejumlah teman kepada diri saya, banyak sekali sisi positif yang saya miliki. Teman saya, Darwin sempat-sempatnya iri kepada saya. Iri dengan IPK dan kecerdasan saya. ("Oh, Darwin... gue juga iri karena lo bisa bermain alat musik...") Mungkin itulah asal-muasal banyaknya harapan yang diberikan kepada saya.
Itulah saya. Saya adalah orang baik yang memilih tidak menjadi yang terbaik. Saya mungkin terkadang membingungkan bagi sebagian orang. Maafkan saya.
Saya ingin berterima kasih kepada orang-orang yang pernah meletakkan "sesuatu" di pundak saya. Tetapi, saya juga mau meminta maaf sekali lagi apabila pundak saya tidak cukup kuat menahan "sesuatu" itu. Saya tidak akan tahu kelak 10 tahun lagi saya akan menjadi seperti apa. Sesuatu yang besar atau sesuatu yang kerdil? Tetapi, jika kalian mengharapkan saya menjadi sesuatu yang besar, hmm... mungkin sudah saatnya saya harus lebih serius kepada diri saya.
18 Oktober 2011
Dari Sejarah Menuju Sejarah
1. Kembalinya saya terjun ke dalam dunia mendidik tunas bangsa (baca: mengajar les privat) yang cukup menguras pikiran, emosi, dan tenaga.
2. Proyek membuat riset mengenai sinetron dan drama Korea yang dicetuskan oleh saya sendiri, yang awalnya sekadar iseng, eh malah membuahkan cerita manis tersendiri. Cerita manis itu dapat dibaca di sini.
3. Dan, yang menjadi tumbal di balik menghilangnya saya, sesungguhnya adalah skrip**** (coba tebak apa?). Kalau tidak tahu, tidak apa-apa kok... Intinya itu skripsi deh. Hehe.
Tetapi kok, sekarang saya bisa menulis blog lagi. Ada apa dan mengapa?
Yaa... itu karena saya sudah dinyatakan lulus sebagai seorang mahasiswa. Cihui.
Meskipun belum menerima ijazah, sudah dinyatakan lulus sudah menjadi nikmat tersendiri bagi seorang mahasiswa. Percaya deh. Masih terkenang di benak saya, hari-hari awal kuliah psikologi dibombardir dengan mata kuliah filsafat, antropologi, dan statistik. Lho, kan kuliah jurusan psikologi, mana psikologinya? Oh, tenang-tenang... Ada kok, mata kuliahnya satu saja, bernama psikologi umum. Satu-satunya mata kuliah berbau psikologi bagi mahasiswa F. Psi. Untar di semester pertama. Belajar apa? Banyak sih, seperti perkembangan manusia, memori, learning, dan tentu saja tidak ketinggalan berkenalan dengan aliran, tokoh-tokoh, dan sejarah psikologi. Hehehe.
Aliran. Tokoh. Sejarah psikologi. Semua dapat ditemui melalui buku berjudul "Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi", buku bersampul merah, yang dikarang Sarlito W. Sarwono (salah satu profesor di bidang psikologi sosial yang lumayan terkenal). Buku karangan Mas Ito ini (sapaan akrab beliau, padahal saya gak akrab, lebih tepatnya gak kenal beliau) merupakan salah satu buku wajib yang perlu dibaca (sebenarnya perlu dibeli karena masuk sebagai bahan ujian sih. Haha) oleh para mahasiswa F. Psi. Untar. Meskipun berbahasa Indonesia, kebanyakan mahasiswa semester awal pasti pusing membaca isi buku tersebut. Udah pake bahasa Indonesia aja pusing, apalagi jika disajikan dalam bahasa Inggris ya. Dasar mahasiswa ya! Itulah kami. Hehe
Buku kecil bersampul merah dengan sejumlah halaman terlepas ke sana ke mari (belinya yang bajakan soalnya, upss) menemani perjalanan saya di awal-awal semester, kemudian tercampakkan begitu saja setelah lulus mata kuliahnya. Dalam hati, rugi banget beli buku yang cuman ditenteng selama 6 bulan. Itulah nasib buku yang dibeli hanya sebagai "sahabat di kala menghadapi ujian". Sampai kemudian, saya terus naik tingkat ke semester delapan dan malah rupanya harus berakhir di semester sembilan. Tiada buku bahasa Indonesia lagi yang menemani, melainkan jurnal-jurnal yang kebanyakan berbahasa Inggris. Hiks.
Melalui proses perjuangan yang sangat berat ditambah dengan doa, usaha, kata-kata menghibur, kata-kata pemberi semangat, keberuntungan, debu, asap, kertas HVS, tinta printer.... *lho-lho. Tetapi, emang bener sih.. Hahaha... Saya pun dinyatakan lulus dari Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, tepatnya Senin 17 Oktober 2011 pada jam 2-an di R301. Lulus, sungguh lulus. Alhamdulillah, sesuatu banget... Hehehe.
Emang sesuatu banget lho. Dari seseorang yang awalnya tidak tahu sama sekali tentang... bahkan arti psikologi (saya tak tahu definisi psikologi.. suerr), kemudian mempelajari aliran, tokoh, dan sejarah psikologi, dan sekarang ia bisa dibilang telah menorehkan sebuah catatan bersejarah di hidupnya sendiri, dan mungkin di hati orang lain.
Kalimat pada bagian yang terakhir itu terdengar mantap ya!? Ya, emang mantap kok. Memuji diri sendiri.
Berawal dari belajar sejarah, kemudian saya telah menjadi sejarah itu sendiri. Bukan bermaksud berlebihan sih, begitu yang ingin saya katakan. Kepada mereka yang telah menjadikan saya sebagai sebuah sejarah, saya ucapkan terima kasih sedalam-dalam samudera dan sebesar-besar gunung. Orang-orang yang berjasa dalam hidup saya sudah saya sebutkan di Kata Pengantar dalam skripsi saya. Coba cek, apakah Anda salah satunya. Hahaha. Silakan cari tahu sendiri nanti ya di perpustakaan.
Lulus bukan akhir segalanya. Masih banyak tantangan ke depan yang akan saya hadapi. Masih banyak juga hal-hal yang harus saya benahi, terutama diri saya sendiri. Bicara tentang diri saya, saya teringat dengan sidang skripsi saya yang berjalan cukup lancar. Di akhir sidang, Ibu Meike, Ibu Naomi, dan dosen pembimbing saya, Ibu Ros memberi saran yang amat pribadi dan mendalam demi pengembangan diri saya. Terima kasih atas saran-saran yang begitu baik, begitu berharga. Semoga saya bisa menerapkan saran-saran itu. Dan, semoga saya bisa menorehkan sebuah catatan bersejarah lainnya.
12 Juli 2011
Sidang Skripsi dan Curahan Hati
Sidang, selalu menjadi kata-kata yang tidak mengenakkan. Semua orang tidak mau disidang, sama halnya Prita Mulyasari yang kalah di persidangan dan harus menerima hukuman penjara 6 bulan, akibat kasus pencemaran nama baik. *kenapa jadi ngomongin Prita Mulyasari? Tetapi, khusus untuk sidang skripsi, suka atau pun tidak, bagi seorang mahasiswa adalah tuntutan yang mesti dilewati. Jika kalah dalam persidangan, emang tidak sampai masuk penjara, palingan sakit hati karena mesti mengangsur biaya kuliah lagi, dan kembali memelototi tumpukan jurnal...
Mengapa saya sampai tidak bisa ikut sidang skripsi bulan ini? Jawabannya, karena saya orang yang perfeksionis, mengerjakan sesuatu teramat perfek, supaya hasil skripsi saya perfek, saya melanjutkan kembali mengerjakan skripsi di semester berikut. Haha. Tentu saja, ini hanya sebuah rasionalisasi. Alasannya, lebih rumit dari itu. Saya pun masih suka bertanya-tanya, "Kenapa saya bisa sampai terlambat menyelesaikan skripsi?" Kenapa begini, kenapa begitu... Banyak kata kenapa muncul, dan saya bingung pula menjawabnya.
Saya jadi teringat dengan ucapan Fabio Capello, pelatih timnas Inggris di Piala Dunia 2010. Ketika itu, timnas Inggris agak terseok-seok di babak penyisihan, nyaris tidak dapat lolos ke putaran berikutnya. Ketika lolos ke putaran berikutnya, Inggris kalah telak melawan timnas Jerman. Don Fabio lalu mengomentari permainan timnas Inggris, "Saya tidak mengharapkan hasil yang terbaik, tetapi juga tidak mengharapkan hasilnya akan menjadi seburuk ini." Jika disangkut-pautkan dengan skripsi , maka saya pun juga ingin mengatakan hal yang sama dengan Anda, Don... "Saya tidak mengharapkan skripsi saya akan mendapatkan nilai A, tetapi saya juga tidak berharap skripsi saya harus tertunda untuk disidangkan."
Meskipun saya sudah mencoba mengikhlaskan (masalah itu), saya juga masih suka bertanya-tanya, kenapa masa depan (skripsi) saya harus mengecewakan seperti ini? Jujur, saya tidak sedih, karena saya tahu apa yang saya alami bukan serta-merta adalah kesalahan saya secara pribadi. Tetapi, sebagai orang biasa, saya merasa sedikit kecewa akan hal ini.
Well, saya memang tidak pernah menyangka jika saya akan mengalami hal seperti ini. Saya biasanya (meskipun tidak selalu) mengerjakan tugas kuliah dengan tepat waktu, tetapi kali ini saja, saya tidak berhasil. Masa depan saya... mengapa harus begini? Lalu, saya membuat sebuah simpulan tersendiri, mungkin masa depan itu adalah urusan Tuhan, sedangkan urusan manusia adalah di masa kini.
Kemarin, ketika Debbie, teman saya, bertanya "Sidang (hari) kapan? Pengujinya siapa?" Lalu, saya menjawab, "Gue gak sidang Juli ini. Haha" Dan Debbie membalas lagi, "Ooo. Jangan putus asa, Fren. Semua indah pada waktunya... Semoga sukses ya."
Indah pada waktunya? Ya, saya percaya bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya, meskipun saya tidak tahu pasti, kapan keindahan itu terjadi? Seperti yang saya sudah tuliskan sebelumnya, masa depan mungkin bukan urusan saya, itu urusan Tuhan; urusan saya adalah urusan masa kini, mengerjakan apa yang saya nikmati.
Terima kasih untuk virus optimisnya Debbie, dan selamat menjalani persidangan untuk teman-teman saya. Semoga lancar dan berjalan dengan sukses.
30 Mei 2011
Politik dan Kekuasaan
Berita olahraga sekarang santer memberitakan kisruh di tubuh PSSI, badan sepakbola tertinggi di negara kita. Kisruh bermula dari ketidakpuasan pencinta sepakbola terhadap era kepemimpinan Nurdin Halid (NH). Delapan tahun NH menjabat sebagai ketua PSSI (2003-2011) tidak menghasilkan sebiji prestasi untuk sepakbola kita. Hebatnya, NH pernah memimpin PSSI dibalik terali besi akibat kasus dugaan korupsi. Lebih hebatnya lagi, NH masih getol mencalonkan diri sebagai ketua PSSI berikutnya. Entah di mana rasa malunya? Tak ayal, para pecinta sepakbola tanah air berdemo menyuarakan reformasi PSSI, dengan mengusung nama George Toisutta (GT) dan Arifin Panigoro (AP) sebagai calon ketua dan wakil ketua. Belakangan, kisruh semakin memanas, meski FIFA sudah mengintervensi PSSI. Kisruh yang terjadi sekarang dikarenakan GT dan AP tidak diperbolehkan oleh FIFA menjadi calon ketua dan wakil ketua PSSI. Pada awalnya, kelompok simpatisan GT dan AP sangat mendambakan intervensi FIFA untuk menyelesaikan carut-marut sepakbola kita, tetapi sekarang malah berbalik menggugat FIFA. Pada awalnya juga, banyak kalangan memuja-muji GT dan AP, namun kini mulai banyak juga yang menghujat mereka, menilai mereka sebagai sosok ambisius, tak jauh beda dengan NH dan kroninya.
Saya hanya sebagai spectator dalam kasus PSSI. Saya tak punya pengetahuan memadai untuk menilai siapa yang salah dan siapa yang benar. Tetapi, satu hal yang saya ketahui adalah manusia memiliki motif untuk berkuasa. GT, AP, atau pun NH adalah cerminan dari motif manusia untuk berkuasa. David McClelland, seorang psikolog Amerika sudah memasukkan kekuasaan sebagai salah satu dari tiga kebutuhan manusia, yang dikenal sebagai need to power, selain kebutuhan berprestasi (need of achievement) dan kebutuhan berafiliasi (need of affiliation).
Untuk mencapai kekuasaan, tidak jarang manusia menghalalkan segala cara. Maka, istilah omnivora yang melekat pada manusia, adalah benar adanya. Manusia memang omnivora, pemakan segalanya, termasuk ”makan” sesamanya. Thomas Hobbes mengatakan bahwa manusia itu seperti serigala yang menyerang sesamanya. Istilah ini dikenal sebagai homo homini lupus est.
Serang-menyerang, perang-berperang terlihat sudah jadi hakikat manusia. Ketika manusia masih hidup di dalam kesukuan, perang antarmanusia sudah bukan sesuatu yang asing. Tak heran Freud memasukkan agresi sebagai salah satu dorongan primitif manusia, selain seks.
Ketika terjadi perang, minimal akan ada dua kelompok yang saling bertempur memperebutkan kekuasaan. Kelompok pertama, adalah kelompok rezim, yaitu kelompok yang sedang berkuasa saat itu. Kelompok kedua, adalah kelompok yang menentang rezim. Saya menyebut kelompok kedua ini dengan istilah saya sendiri, yaitu kelompok reformis. Di dalam kasus PSSI, NH dan kroninya dianggap sebagai rezim. Masyarakat pencinta sepakbola sudah muak dengan rezim NH, yang selain sudah terlalu lama, tidak menuai hasil memuaskan sama sekali. Kemudian, masyarakat ini hendak melancarkan perubahan. GT dan AP adalah bagian dari kelompok reformis tersebut. Tiga belas tahun yang lalu di negara kita, pernah juga terjadi hal yang sama, rezim Soeharto dilengserkan oleh kelompok mahasiswa yang menuntut reformasi.
Ketika kelompok rezim digulingkan, dan kekuasaan diduduki oleh kelompok reformis, kelompok reformis akan beralih menjadi kelompok rezim. Kelompok rezim nantinya akan menjadi kelompok reformis, atau akan muncul kelompok-kelompok reformis yang baru. Begitulah, saling ribut dan saling rebut kekuasaan akan terus-menerus berulang.
Bagaimana kelompok-kelompok tersebut dapat tercipta? Timbulnya kelompok-kelompok dalam kehidupan manusia dikarenakan adanya persamaan pandangan dan tujuan, selain terkadang juga dikarenakan ada unsur persamaan nasib. Manusia-manusia yang merasa memiliki kesamaan selalu membentuk kelompok, karena sudah menjadi hakikatnya juga bahwa manusia adalah makhluk sosial, atau makhluk berafiliasi. Afiliasi ialah salah satu kebutuhan manusia, seperti yang sudah disebutkan oleh McClleland. Makanya, ada kelompok pecinta sepeda, kelompok pecinta fotografi, dan sebagainya. Negara pun adalah suatu kelompok, dan berdiri dengan cara yang sama pula, yaitu dikarenakan adanya persamaan-persamaan.
Di dalam teori sosiologi, W. G. Sumner menjelaskan adanya klasifikasi kelompok yang dinamakan in-group (kelompok dalam) dan out-group (kelompok luar). Saya pribadi menerjemahkannya dengan istilah kelompok ”kita” (in-group) dan kelompok ”mereka” (out-group). Klasifikasi Sumner inilah yang dapat menjelaskan mengapa seringkali terjadi pertentangan dan permusuhan antarkelompok, contoh sederhananya tawuran antarpelajar SMA. Ketika kita merasa ”satu” dan merasa ”sama” dalam kelompok (in-group), kita cenderung menjalin solidaritas dengan rekan-rekan sekelompok kita. Sebaliknya, kita cenderung menaruh perasaan bermusuhan dengan orang-orang yang di luar atau berbeda dengan kelompok kita (out-group), apalagi yang berbeda pandangan dan tujuan. Pada permusuhan di level kronis, tak jarang permusuahan itu diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, kaderisasi dilakukan untuk mempertahankan eksistensi kelompok.
Persaingan antardua kelompok atau lebih yang hendak memperebutkan kekuasaan, tak bisa lepas dari yang namanya politik. Politik adalah seni meraih kekuasaan. Salah satu teknik politik yang biasa digunakan adalah lobi, yaitu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk mempengaruhi orang lain, biasanya terkait dengan pemungutan suara menjelang pemilihan ketua organisasi.
Politik sebenarnya sudah menjadi bagian dalam kehidupan manusia. Disadari atau tidak, saat kita mau mencari pasangan hidup, kita juga melakukan politik. Pedekate itu sebenarnya tak beda dengan kampanye atau ”menjual” diri. Contoh lain yang biasa dilakukan adalah lobi kepada calon mertua. Hanya saja, di politik pasangan hidup, adalah hati pasangan kita yang ingin kita menangkan dan kuasai. Tetapi, ada juga orang yang mencari pasangan hidup untuk menguasai harta keluarganya. Hal ini kembali ke individu masing-masing.
Di kampus juga ada politik, yang kita kenal sebagai politik kampus. Di Tarumanagara sendiri, saya mendengar ada isu mengenai beberapa kelompok mahasiswa underground yang ingin menguasai organisasi mahasiswa. Underground yang dimaksud di sini karena sifatnya yang memang rahasia, diam-diam, dan tidak terlegitimasi. Saya sempat menemukan nama-nama kelompok underground ini dari blog seorang mahasiswi Untar (bukan mahasiswi Psikologi). Tak perlu saya kasih link-nya, karena ketika saya telusuri kembali, posting-annya sudah dihapus. Mungkin dihapus karena komentar-komentar di posting tersebut. Ya, komentar-komentarnya sangat menyudutkan sang penulis blog tersebut. Mahasiswi ini dibilang ”sok tahu”, ”gak eksis ya”, ”kasian deh gak punya teman”, dan banyak lontaran caci-maki lainnya. Demi alasan keamanan diri saya, saya juga tidak mau menyebut nama-nama kelompok itu di sini. Hehehe.
Politik bukan sesuatu yang buruk. Politik ada di mana-mana. Ibarat pisau dapur, dia bisa digunakan untuk hal yang baik, maupun untuk hal yang buruk. Saya sempat menyinggung perlunya kita memiliki kecerdasan politik dalam tulisan di sini.
Politik erat kaitannya dengan kekuasaan. By the way, dari tadi saya membicarakan kekuasaan, atau bahasa Inggrisnya adalah power, mohon tidak menerjemahkan kekuasaan seperti raja yang ingin menguasai sawah petani, atau lintah darah yang ingin menguras harta seseorang. Saya tidak sedang membicarakan kekuasaan pada zaman pertengahan, tetapi kekuasaan pada zaman modern. Di zaman modern, orang-orang yang berkuasa bukanlah orang yang memiliki power dalam hal fisik atau finansial. Tapi, mereka adalah mereka yang punya pengetahuan, atau mereka yang pintar. Itu bahasa halusnya. Bahasa kasarnya, mereka yang punya kelicikan.
Saat kita bicara kekuasaan, kita tak bisa lagi mengenal kawan atau lawan, semuanya akan menjadi abu-abu. Itu karena power atau kuasa adalah bagian dari eksistensi manusia. Makanya tak salah jika urusan kekuasaan itu urusan eksistensi. Manusia kebanyakan ingin ”terlihat”. Dan, untuk ”terlihat”, manusia harus menunjukkan power-nya ke hadapan orang lain. Dan, siapa yang rela terus-menerus tunduk di bawah power seseorang? Untuk meraih eksistensi tersebut, menyingkirkan orang-orang yang menghambat kita untuk berkuasa, dan merekrut orang-orang yang mendukung kita untuk berkuasa adalah kewajaran.
Yang namanya persahabatan pun menjadi ilusi saat disandingkan dengan kata ”kekuasaan”. Sangat sulit untuk meraba ketulusan saat kita membicarakan kekuasaan, karena semua mengarah pada kepentingan-kepentingan tertentu. Tak heran, selain urusan eksistensi, kekuasaan juga dekat dengan urusan kepentingan. Kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok? Kepentingan positif atau negatif? Biar semua jawaban tersebut dikembalikan ke hati nurani orang-orang yang sedang berkuasa...

