Page

21 Desember 2019

ULASAN BUKU IQ84 - Jalinan Cinta di Dunia yang Berbahaya

Pengarang: Haruki Murakami
Penerjemah: Ribeka Ota
Tahun Terbit Asli: 2009 (jilid 1 dan 2), 2010 (jilid 3)
Tahun Terbit Terjemahan: 2013 (cetakan pertama)
Penerbit Indonesia: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Ketika melihat judul buku IQ84, ingatan saya langsung meluncur ke novel George Orwell 1984 yang terkenal itu. Kenyataannya memang Haruki Murakami mengambil inspirasi dari mahakarya tersebut. Novel ini dibagi ke dalam tiga jilid. Setiap jilidnya berkisar 500-an halaman (buku terjemahan( sehingga totalnya 1500-an halaman! Wow.

Jika Anda membaca deskripsi belakang buku, Anda tidak akan mendapat secuil informasi yang jelas tentang apa sih novel ini.

Latar waktu cerita adalah tahun 1984. Cerita dibuka dengan Aomame yang terjebak macet di jalan tol saat menumpangi taksi. Karena ada urusan penting, Aomame mendapat saran dari sopir taksi untuk turun melalui tangga darurat. Setelah turun dari sana, Aomame yang memiliki ingatan saat bagus menyadari dunia sekitarnya telah berubah. Ia lalu menyebutnya dunianya saat ini sebagai IQ84.

Nun jauh dari tempat Aomame, seorang guru matematika yang berambisi menjadi penulis bernama Tengo diminta Komatsu, editor sebuah majalah, untuk menulis ulang naskah berjudul Kepompong Udara, yang dikarang oleh gadis berusia 17 tahun.

Kisah Tengo dan kisah Aomame nantinya akan saling bertaut. Novel jilid pertama dan kedua akan saling bergantian menceritakan kehidupan Aomame yang cenderung kelam dan kehidupan Tengo yang biasa-biasa saja. Keduanya mendapati bahwa kehidupan mereka tidak lagi sama. Sesuatu akan mengancam mereka.

Tema keagamaan mendapat sorotan utama dari novel ini. IQ84 menyorot sebuah organisasi keagamaan yang kaku, yang mengalienasi perilaku anggotanya dari kehidupan sosial masyarakat. Nantinya kita akan diperkenalkan dengan detektif partikelir bernama Ushikawa. Organisasi keagamaan ini akan meminta Ushikawa menyelidiki sebuah pembunuhan yang melibatkan Aomame dan juga Tengo.

Ini pertama kalinya saya membaca novel Murakami. Saya akui Murakami sangat terampil dalam menulis deskripsi tokoh, latar belakang tokoh, serta tingkah laku tokoh. Bahkan, menurut saya sangat teramat detail. Adegan pergi buang air kecil saja sampai ditulis di novel ini. Maka, meski novel ini terbilang tebal, sebetulnya tidak terlalu membosankan untuk dibaca. Tidak seperti dialog serial J-drama yang cenderung sulit, dialog-dialog IQ84 mengalir dengan lancar dan mudah dipahami. Terjemahan novel ini pun sangat baik.

 Hanya saja, saya menemukan beberapa kesalahan ketik:
  • Pada jilid pertama, halaman 109, di paragaf terakhir, Komatsu berbicara kepada Tengo, "Lakukanlah, Tengo. Aku mengandalkanmu. Kamu dan aku bekerja sama mengantarkan suami dan anaknya ke stasiun dengan mobil. Siang itu rencananya dia akan datang ke apartemen menggulingkan dunia." Paragraf ini terasa aneh dan benar saja, kalimat Komatsu yang saya cetak tebal terulang lagi pada paragraf selanjutnya. Pukul 9 lewat . . .  setelah dia mengantarkan suami dan anaknya ke stasiun dengan mobil. Siang itu rencananya dia akan ke apartemen Tengo. . .
  • Pada jilid kedua, halaman 401, kata setelah ditulis setela.3h
  • Pada jilid ketiga, halaman 309, tanda persentase (%) diberi spasi setelah angka, padahal seharusnya tidak usah.
  • Pada jilid ketiga, halaman 509, bergeraknya ditulis bergerakny (kurang 1 huruf).

Terlepas kesalahan ketik kecil itu, bagi kalian yang senang membaca novel tebal dan sedikit mengandung misteri dan thriller, novel ini cocok untuk Anda yang sudah dewasa.

Banyak Adegan Dewasa

Kata dewasa memang perlu saya tebalkan. Di dalam forum Goodreads, seorang pembaca mempertanyakan tentang hiperseksualitas dalam kisah IQ84. Memang banyak sekali adegan seks dalam buku ini yang ditutur secara frontal sehingga novel ini kurang cocok untuk dikonsumsi anak maupun remaja.

Adegan yang absurd adalah hubungan seks antara seorang gadis remaja, bahkan praremaja, dengan orang dewasa. Timbul perdebatan adegan ini di internet. Sebagian besar mengatakan hal tersebut terkait dengan jalan cerita. 

Sebagian justru terganggu dengan fantasi seksual berlebih dari sang penulis. Entah apa alasannya Murakami sepertinya memiliki obsesi dengan buah dada wanita. Penjelasan ukuran buah dada banyak diperbincangkan di buku ini.

Novel Romansa, Bukan Novel Thriller

Sudah saya singgung di paragraf-paragraf awal: "Sedikit mengandung misteri dan thriller..." Jilid pertama sebenarnya sudah menarik. Kita akan dibawa ke dalam misteri buku yang ditulis Tengo dan kehidupan rahasia Aomame. Tensi meningkat di jilid kedua. Tengo dan Aomame benar-benar masuk ke dalam situasi berbahaya.

Tetapi, masuk ke dalam jilid ketiga. Cerita menjadi antiklimaks, dan menurut saya pribadi, membosankan. Kita hanya mendapati Aomame dan Tengo terjebak dalam rutinitas menjemukan di lokasi yang itu-itu saja. Untunglah kehadiran Ushikawa sebagai tokoh sentral di jilid ketiga menjadi penghangat kebosanan.

Menjelang akhir jilid ketiga, saya malah tidak mau berharap banyak dengan ending-nya seperti apa. Sudah saya duga lubang besar pasti akan sengaja ditinggalkan. Simpulan akhir terserah pembaca saja, barangkali begitu jawaban Murakami jika ditanya.

Jadi, ini cerita romansa. Ini adalah kisah antara Aomame dan Tengo yang terjebak dalam dunia yang berbahaya.

Bukan Dunia yang Baik-Baik Saja

IQ84 tidak seperti 1984. Tidak ada Big Brother yang mengawasi. Tetapi, yang mengawasi adalah seseorang dalam diri masing-masing. IQ84 adalah sebuah realita yang lebih kejam. Murakami seakan ingin mengatakan bahwa dunia sesungguhnya tidak pernah baik-baik saja. Selalu ada kegelapan di balik nurani yang bersih.

Bukankah kita sering membaca, seorang pemimpin agama yang seharusnya menjadi teladan malah menyalahgunakan kharismanya untuk melakukan aksi pencabulan? Isu ini disentil Murakami. Bukan hanya itu, organisasi keagamaan yang membatasi, perselingkuhan, kekerasan rumah tangga, hubungan orang tua-anak, hingga perasaan kesepian merupakan tema-tema yang diangkat pada buku ini, dan Murakami membuatnya lebih jelas.

16 Desember 2019

ULASAN FILM Frozen 2 - Sudah Bagus Semoga Tidak Dilanjutkan Lagi


Poster rilis. Sumber: en.wikipedia.org
Sutradara: Chris Buck dan Jennifer Lee
Pengisi Suara: Kristen Bell, Idina Menzel, Josh Gad, Jonathan Groff
Rumah Produksi:Walt Disney Animation Studios
Tahun Produksi: 2019
Durasi: 103 menit

Ketika gema film Frozen (pertama), saya tidak menontonnya di bioskop, malah menontonnya di rumah teman saya. Tentu saja mohon maaf, saya menonton versi bajakan.

Intermezzo sedikit. Untuk film yang tidak terlalu bikin saya penasaran, saya biasanya tidak tertarik menonton di bioskop. Lebih baik menunggu keluar di aplikasi film streaming berbayar atau errr (mohon maaf lagi) yang ilegal. Menurut saya, film-film besutan Disney apalagi bertemakan tuan puteri dan kerajaan pasti hanya menceritakan romansa pria-wanita, happy ending. Bisa ditebak jalan ceritanya. Bagi pria, premis cerita seperti ini kurang menarik untuk adrenalin kami. It's not a guy movie.

Biarpun begitu, saya cukup kepincut dengan lagu Frozen yang berjudul Let It Go. Saya tahu lagu ini karena sempat trending di Youtube dan banyak orang yang meng-cover-nya. Harus saya akui lagu Let It Go sangat catchy, apalagi dinyanyikan dalam bermacam-macam bahasa.

Oke, balik lagi ke film Frozen pertama.

Sesudah menonton di rumah teman saya, prasangka saya langsung berubah. Harus saya akui, premis ceritanya agak unik, bukan romansa pria-wanita yang ditonjolkan, melainkan persaudarian (sisterhood). Semakin menarik karena film Frozen juga menampilkan beberapa aksi laga. Cerita tentang puteri-puterian, tetapi ada bumbu-bumbu sihir. Keren.

Dan yang paling menarik adalah lagu-lagunya. Beberapa film Disney selalu populer berkat lagu soundtrack-nya. Tetapi, Frozen ini beda. Lagu-lagu yang dihadirkan jumlahnya lebih dari satu. Seluruhnya lagunya disajikan dalam bentuk teatrikal (khas Disney), tetapi sangat menghibur.

Akhirnya, saya paham kenapa Frozen bisa meledak di pasaran. Lagu yang enak didengar dan jalan cerita yang tidak biasa. Saya yakin Elsa, Anna, dan Olaf menjadi tokoh-tokoh yang melekat di hati anak-anak generasi 2000-an. Kelihatannya Disney cukup berhasil meramu sebuah dongeng baru.

Keberhasilan film pertama tentu ingin dilanjutkan kembali oleh Disney. Frozen 2 dirilis di pasar Indonesia pada 20 November 2019.

Maka, saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Kali ini saya benar-benar ingin menikmati Frozen 2 melalui layar lebar.

Ending film Frozen pertama sudah berakhir dengan bahagia. Kita lantas akan bertanya-tanya: Apa lagi yang mau ditawarkan dari Frozen 2? Tidak cukupkah Disney mengganggu kita (orang tua) dengan nyanyian Let It Go?

Cerita yang Lebih Gelap

Ketika cuplikan film keduanya muncul, kita diberikan suguhan adegan Elsa dalam pekatnya malam sedang berusaha mengarungi ombak ganas.

Dari situ saja, kita sudah tahu bahwa film Frozen 2 memiliki tema cerita yang lebih gelap dan dewasa dari film pertamanya. Toh, wajar-wajar saja. Film ini dirilis 6 tahun sesudah film pertamanya. Anak-anak yang menonton pada saat itu pasti sudah lebih besar.

Jalan ceritanya sendiri bermula dari suara-suara misterius yang mengusik Elsa sampai kemudian terjadi bencana yang menghancurkan Kerajaan Arandelle. Elsa memutuskan mencari sosok di balik suara-suara misterius itu. Elsa tidak sendirian bertualang. Ia masih ditemani adiknya Anna, boneka salju Olaf, Kristoff bersama rusa kutub sahabatnya Sven. Tidak ada tambahan tokoh baru yang signifikan. Cerita masih berkutat di antara kelima tokoh tersebut.

Frozen 2 akan mendekatkan kita pada latar belakang keluarga Arandelle. Tokoh-tokoh utama digambarkan lebih dewasa. Kita akan dibuat terpingkal dengan aksi Kristoff yang mencoba merayu Anna. Olaf lebih bawel di film kedua ini. Bahkan ada adegan kocak dari Olaf, yaitu saat Olaf mengenang kembali cerita Frozen pertama dan saya yakin pasti akan mengundang tawa kalian. Kalau ada pemeran pendukung terbaik, saya akan lebih memilih Olaf daripada Anna atau Kristoff.

Oke, dengan premis cerita seperti ini, apakah Frozen 2 menjadi lebih baik?

Secara umum, tidak bisa dikatakan lebih baik. Dari segi special effect, jauh lebih keren. Sihir es Elsa kali ini jauh lebih memukau dan bikin berdecak kagum. Tetapi, plot ceritanya agak mudah ditebak. Malah, ada sedikit kesamaan antara plot cerita Brave (karya Pixar) dan Frozen 2.

Disney kelihatannya mengerti benar tentang kekuatan sebuah lagu. Maka, lagu-lagu dijejalkan sejak pembukaan film, termasuk lagu andalannya Into The Unknown yang bisa kita didengar di awal-awal. Sebetulnya lagu-lagu OST Frozen 2 lebih bagus dan lebih bertenaga, tetapi perlu diakui memang masih kalah catchy dengan lagu Frozen pertama.

Konflik yang Kurang Mengigit

Pada dasarnya film Frozen bukan film petualangan sejati. Memang sih ada beberapa aksi laga, yang kali ini lebih sengit. Apa yang membuat saya memasukkan Frozen ke dalam film keluarga, karena film Frozen tidak memiliki antagonis kuat seperti dalam cerita Aladdin atau Aurora.

Coba ingat-ingat siapa antagonis film Frozen pertama? Si mantan kekasih Anna? Bukan, bukan dia. Antagonis film Frozen sesungguhnya adalah Elsa sendiri. Bahkan di film kedua ini, tokoh antagonis masih terlihat samar. Bahkan, kita seolah-olah sedang menyaksikan Elsa sedang bertarung dengan dirinya sendiri. Kata "fear"atau ketakutan beberapa kali disebut, baik itu di film pertama maupun film kedua.

Film heroik mudah "terangkat" dengan kehadiran antagonis yang superkeren. Sementara itu, film keluarga sangat mengandalkan konflik yang terjadi antara para tokoh utama. Itulah mungkin satu titik lemah dalam film Frozen 2. Tidak seperti film pertama, di sekuelnya ini tidak ada konflik yang membuat kita jadi bersimpati. Malah, mungkin di penghujung cerita, kita akan bergumam, "Oh jadi begitu saja..."

Benar-Benar Film Keluarga

Melihat Elsa, saya jadi teringat dengan Avatar: Legend of Aang. Elsa ini mungkin bisa disebut sebagai pengendali es. Saya lalu membayangkan Elsa dengan kekuatan esnya mengalahkan seorang penyihir dengan kekuatan api. Bakal terlihat keren. Tetapi, kalau nanti seperti itu, saya yakin malah akan merusak genre cerita. Jadi, lebih tidak, tidak, dan tidak.

Frozen adalah benar-benar film keluarga. Benar-benar film tentang persaudarian.

Saya malah sedikit gemas dengan tingkahnya Anna. Saya yakin Anna ini benar-benar puteri sejati. Bahkan, main pedang pun pasti tidak bisa. Tetapi, kok berani-beraninya mencoba melindungi Elsa? Lalu, kehadiran Kristoff sebagai satu-satunya pria tidak banyak membantu. Bukannya melindungi kedua tuan puteri ini, malah sibuk dengan urusannya sendiri.

Oya, yang agak saya bingung, kenapa Ratu dan Tuan Puteri bisa berjalan-jalan ke luar istana tanpa pengawalan ketat? Apakah Arandelle cuman sebesar kelurahan? Lalu, kenapa Kristoff bisa masuk ke dalam lingkungan istana dengan hanya berbekal peran pacar tuan puteri?

Ah sudahlah, tidak usah dipusingkan. Film keluarga sebaiknya tidak usah berbelit-belit. Sekarang mari kita biarkan saja Anna dan Elsa menjalani kehidupan normal sebagai tuan puteri. Jangan kita ganggu mereka dengan konflik remeh, seperti rebutan suami, rebutan warisan, atau masyarakat Arandelle yang berdemo karena kenaikan harga pangan.

Ending Frozen 2 menurut saya sudah bagus dan sepantasnya seperti itu. Lebih baik kita sudahi akhir cerita Frozen seperti ini, dan berharap jangan ada kelanjutannya lagi.

By the way, di akhir film Frozen 2, ada post-credit scene, tetapi jika mau dilewatkan pun tidak ada masalah kok.

25 April 2019

ULASAN FILM Avengers: End Game - Sebuah Akhir yang Hebat

Saya berani jamin 100 persen TIDAK ADA SPOILER. 

Theatrical Poster Movie. Source: wikipedia

Sutradara: Anthony Russo dan Joe Russo
Pemeran: Robert Downey Jr., Chris Evans, Mark Ruffalo, Chris Hemsworth, Scarlet Johansson
Rumah Produksi: Marvel Studios
Tahun Produksi: 2019  
Durasi: 181 menit


Baru kali ini saya ada bioskop yang buka pagi-pagi gara-gara sebuah judul film. Bahkan, tiket untuk penayangan di minggu pertamanya banyak yang ludes. Luar biasa banget. Film Avengers: End Game (2019) memang dinanti-nantikan tidak hanya publik di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Saking ditunggu-tunggunya film ini, pihak Marvel melalui akun Instagram mereka harus menulis pesan peringatan: Jangan bocorkan cerita End Game. #DontSpoilTheEndgame.

Cerita End Game sendiri merupakan kelanjutan dari Avengers: Infinity War (2018). Superhero yang tersisa mencoba mencari cara untuk menyelamatkan kawan-kawan mereka, termasuk mengalahkan Thanos. Ya seperti itu saja sih inti ceritanya. Simpel. Tetapi penggambarannya sangat memikat.

Ingatan tentang Buku Harry Potter Ketujuh

Saya jadi teringat novel Harry Potter. J.K Rowling, sang penulis, sudah memastikan kisah Harry Potter akan tamat di seri yang ke-7. Maka, seri ke-7 menjadi seri yang ditunggu-tunggu para fans Harry Potter di seluruh dunia. Banyak spekulasi bermunculan pada saat itu apakah Harry Potter akan mengorbankan nyawanya?

Karena Harry Potter adalah sebuah buku, terjemahannya tentu saja butuh waktu sampai ke tangan pembaca luar negeri seperti saya ini. Kalau tidak salah, butuh waktu satu tahun novel terjemahan ketujuh ini terbit di Indonesia. Selama setahun saya harus menahan diri untuk tidak mencari  tahu bagaimana akhir dari bocah penyihir berkacamata ini. Meski pada akhirnya, saya "kebelet" juga. Saya kemudian membalik halaman terakhir novel Harry Potter yang berbahasa Inggris di sebuah toko buku. Untunglah pada saat itu media sosial belum segencar sekarang. Kalau buku Harry Potter hidup di zaman sekarang, saya jamin bakalan banyak yang kepo memposting bocoran cerita.

Dan ini terjadi di serial Avengers ini. Bagi yang belum menonton dan tidak suka spoiler, jangan coba-coba membaca kolom komentar di media sosial atau review berita. Sebaiknya jangan. Jika tidak suka spoiler, sebaiknya tonton sesegera mungkin.

Campur Aduk

Saya sendiri sudah menonton dan rasanya campur aduk setelah menonton film ini. Drama di awal dan tensi di akhir cerita sangat berimbang. Meski saya merasa greget dengan dua jam pertama film ini. Gregetnya karena miskin laga. Ya namanya film superhero, tentu saya berharap jedar-jeder sejak awal seperti di seri sebelumnya Avengers: Infinity War (2018). Bagaimana pun saya sadar karena film ini merupakan film pamungkas serial Avengers, dua jam pertama di film ini adalah penting untuk menyimak perjalanan (membangkitkan memori) para superhero Marvel. Yang benar-benar sudah mengikuti cerita buatan Marvel dari film Iron Man hingga sekarang akan dibuat nostalgia sejenak dengan beberapa adegan dan dialog cerita.

Di film ini alm. Stan Lee, si kreator, tetap muncul sebagai cameo. Sayang sekali mungkin beliau tidak sempat melihat hasil akhir dari film yang menakjubkan ini.

Sama lah dengan kisah Avengers, apakah ada tokoh utama yang mengorbankan nyawa? Isu kematian tokoh utama selalu menjadi isu menarik. Jika di Harry Potter, isu kematian Harry Potter gara-gara pernyataan J.K. Rowling yang ingin membunuh karakter utamanya. Kemungkinan pernyataan ini muncul mungkin (sekali lagi mungkin) J.K Rowling  tidak mau ada kisah lanjutan Harry Potter setelah seri yang ketujuh. Menutup sebuah serial yang panjang dengan kematian tentu adalah penutupan yang menarik.

Tapi, lain dengan serial film Avengers ini. Aktor atau aktris yang memerankan tokoh cerita terus menua, meski sudah ada teknologi yang canggih untuk membuat wajah aktor dan aktris terlihat muda. Jadi, pada akhirnya kita harus sadar para pemeran film ini harus menemui akhir dari kontrak mereka, hehehe. Toh, mereka juga pastinya ingin mencari karir di bidang film lain.

Sesuai namanya, End Game adalah akhir dari sebuah perjalanan film yang hebat. Saya tidak akan berharap lebih lagi, lebih dari ini tentang kelanjutan film Avengers sesudah ini: Apakah menjadi lebih baik atau lebih buruk? Apa pun nantinya ke depan, Avengers: End Game sudah menjadi salah satu torehan film yang hebat dan saya bersyukur merupakan salah satu orang pernah menyaksikan sejarah serial film ini.

Sudah itu saja yang bisa saya sampaikan. Daripada keterusan, nanti bocor juga. Kan sudah diwanti-wanti sama yang bikin film tidak boleh membocorkan cerita. Haha.

18 Maret 2018

Apakah Benar Orang-Orang Jakarta Suka Nyampah?


Kemarin saya membaca berita tentang Teluk Jakarta yang penuh dengan sampah. Miris sekali siapa pun yang pasti membacanya. Namun, miris tinggal miris. Tak usahlah jauh-jauh membahas sampah di lautan, sering saya amati sambil berkendara dengan motor, saya melihat sopir-sopir angkutan umum dengan mudahnya membuang sampah plastik ke jalan raya. Sedikit kesal melihatnya.

Kesal saya tidak hanya ke sopir tadi, tetapi merembet juga ke seorang kawan. Kawan saya yang senang merokok dengan entengnya membuang puntung rokok di jalan. Dalam satu hari dia bisa merokok lebih dari satu batang. Berarti bisa 2-3 puntung yang dia buang ke jalan. Waktu saya menegur, kurang lebih jawabannya begini, “Ah, nanti juga dibersihkan.” Saya tidak begitu tahu pendidikan sopir angkutan umum tadi, yang pasti kawan saya ini berpendidikan (baca: S1).

Ada lagi kawan saya lain, pernah saya tegur karena membuang sampah plastik ke jalan waktu berada di mobil. Dengan tanpa nada penyesalan, jawabannya begini, “Banyak juga yang buang sampah di jalan…” Kawan saya ini berpendidikan juga. Bisa saya tambahkan satu hal lagi: Rajin ibadah.

Pernah gak kadang-kadang kita merasa malas bertengkar dengan kawan sendiri hanya karena persoalan buang sampah? Kayak gak ada urusan yang lebih penting aja.

Pendidikan dan rajin beribadah memang tidak ada kaitannya dengan perilaku menjaga kebersihan. Saya masih ingat ketika saya SMP, saya pulang-pergi rumah sekolah dengan bus jemputan. Namanya anak-anak sekolah sering jajan dan membawa jajanan ke dalam bus. Sering sopir bus ini mengingatkan agar anak-anak tidak buang sampah ke luar jendela. “Buang sampah di dalam bus saja!” Sebuah pendidikan moral yang bagus. Lebih baik buang sampah sembarangan di rumah sendiri, daripada di tempat umum. Eh, memangnya ada yang suka buang sampah sembarangan di rumah sendiri?

Mengatakan semua orang Jakarta suka nyampah tidak benar sepenuhnya. Pernahkah kalian melihat mall besar di Jakarta, koridornya penuh dengan sampah? Atau pernahkah kalian lihat orang-orang buang sampah sembarangan di mal. Sebuah keanehan bukan? Bisa bersih-bersih di dalam mal, tetapi kok susah bersih-bersih di jalan. Padahal sama-sama tempat umum.

Saya menemukan teori yang bagus untuk menjelaskan fenomena ini, namanya Broken Windows Theory. Teori ini menjelaskan pengrusakan ruang publik (perilaku antisosial) dan kejahatan tercipta karena rendahnya pengawasan dan penegakan aturan. Istilah Broken Windows (Jendela Pecah) diambil untuk menggambarkan bahwa ketika ada kerusakan di suatu tempat (katakanlah ada rumah yang tidak ditempati dengan jendela-jendela yang pecah) akan memicu masyarakat untuk melakukan aksi pengrusakan yang sama (ikut memecahkan jendela) dikarenakan persepsi tempat itu pantas dan aman untuk dirusak. Dengan kata lain, ketika suatu lingkungan dibiarkan rusak atau kotor, akan muncul persepsi bahwa lingkungan itu layak dirusak atau dikotori.

Mari kita amati kembali perilaku buang sampah sembarangan. Orang-orang di Jakarta harusnya pernah belajar waktu di sekolah membuang sampah sembarangan itu tidak boleh. Hanya saja, karena sering melihat orang-orang di sekitar membuang sampah ke jalan namun tidak ditegur dan dihukum, hal ini akan muncul persepsi bahwa membuang sampah adalah hal yang wajar dan diperbolehkan. Jadi bukan karena tidak tahu malu atau tidak punya rasa bersalah, tetapi karena masalah konformitas (ikut-ikutan).

Ini menjadi alasan mengapa di mall besar begitu bersih dan bebas dari sampah. Mudahnya karena ada pengawasan dan penegakan aturan. Coba-coba saja buang sampah sembarangan di mall. Mungkin Anda akan ditegur oleh security. Sekali pun Anda tidak ditegur (katakanlah tidak ketahuan), pasti akan ada cleaning service yang akan memungut sampah tersebut dan membersihkannya. Karena sudah ada standar SOP, mall harus bersih. Selain itu, sudah menjadi norma sosial, orang-orang yang datang ke mall tidak akan berani membuang sampah begitu saja ke jalan.

Maksud dari Broken Windows Theory adalah ketika seseorang berada di suatu lingkungan yang selalu diawasi kebersihannya, akan muncul rasa segan untuk mengotorinya. Kita bisa menggunakan teori ini untuk perilaku antre. Mungkin kita suka kesal melihat pengendara motor dan mobil di Jakarta suka serobot sana-sini apalagi pas lampu merah. Tetapi, menjadi anomali ketika berada di loket pembayaran bank, orang-orang di Jakarta langsung berubah menjadi super taat.

Jadi, mengatakan orang-orang Jakarta (atau orang-orang Indonesia) tidak bisa buang sampah pada tempatnya atau tidak bisa antre adalah salah besar. Ini hanyalah masalah pembiasaan.

Saya membaca di situs berita yang mengabarkan bahwa Pemprov DKI Jakarta berencana memasang jaring-jaring untuk menangkal sampah masuk ke laut. Usaha pencegahan ini perlu diapresiasi, tetapi sebetulnya usaha pencegahan paling benar adalah yang menyentuh sisi perilaku manusia, yaitu mencegah orang-orang untuk membuang sampah di mana pun dan ke mana pun. Aturan dan pengawasan harus selalu ditegakkan. Tidak boleh ada kompromi. Bisa itu karena dibiasakan.

Lalu, cobalah untuk selalu ingat, “Jika bisa bersih-bersih di rumah sendiri, mengapa tidak bisa bersih-bersih di tempat umum.”

Atau mungkin kita perlu lelucon seperti ini, “Yaudah besok-besok gue buang sampah ke rumah lo aja ya. Toh nanti juga dibersihkan sama lo…”

18 Februari 2015

Menjadi Tua = Anugerah

Tulisan ini saya posting sewaktu saya berulang tahun yang ke-26.

Sumber gambar: www.beautyanalysis.com
"Kamu sudah tua." Tiba-tiba saja kata "tua" menjadi sebuah ledekan di dalam sebuah obrolan, terutama kalau mengobrol persoalan usia. Orang-orang yang sudah tua sering dianggap sebagai sosok yang tak berdaya, perlu dikasihani, dan perlu dibantu. Maka, dibilang tua rasanya seperti cobaan berat.

Lalu, apakah salah menjadi tua? Menjadi tua bagi saya justru adalah anugerah. Karena mereka yang sudah tua, sudah pasti pernah muda. Sementara itu, yang masih muda, belum tentu menjadi tua.
Banyak orang sepertinya takut dibilang tua apalagi kalau dia diminta menyebut berapa usiannya saat ini. Tak heran sebagian orang berusaha mencari kosmetik terhebat untuk menutupi keriput-keriputnya. Ada juga yang mencari obat penghitam rambut untuk menutupi uban di kepalanya. Dandanan di luar tak boleh ketinggalan, biar tua, tampilan tetap harus segar dan muda. Semua itu dilakukan hanya berusaha membuat satu kesan, "Aku masih muda." Lucunya ketika mereka melakukan hal itu semua, mereka masih meniup lilin ulang tahun, mereka masih merayakan pesta ulang tahun mereka. Bukankah merayakan ulang tahun berarti Anda mengakui Anda sudah tidak muda lagi? Bukankah ulang tahun sebetulnya adalah satu langkah lebih dekat menuju pintu kematian?

Menjadi tua bukanlah keburukan, melainkan pengalaman berharga, karena kita mendapat kesempatan lebih lama untuk dapat hidup menyaksikan perubahan zaman. Begitulah sedikit ulasan saya tentang menjadi tua...

15 Februari 2015

Tentang Profesi Guru

Gelar akademik itu tidak menentukan pekerjaanmu kelak. Bukan hal yang aneh sekarang (atau mungkin sejak dulu), lulusannya apa, tetapi pekerjaannya kok beda. Lulusan psikologi, tapi malah kerjanya jadi sales. Lulusan akuntansi, tapi malah kerjanya jadi wartawan. Lulusan arsitektur, tapi malah jadi agen asuransi. Ada juga nih lulusan teknik, tapi malah jadi... ibu rumah tangga atau bapak rumah tangga! Kalau dibahas mengapa kok bisa begini, bisa menjadi pembahasan yang lebih panjang nih. Tetapi saya cuman mau mengambil satu contoh profesi yang kelihatannya bisa digeluti tanpa background sesuai dengan jurusannya (atau sebenarnya tidak ada jurusan terkait dengan profesi ini?)

Dulu (sewaktu SD) saya berpikir menjadi guru itu harus kuliah Jurusan Keguruan, Pendidikan Guru, atau apa pun itu lah namanya. Tetapi setelah dewasa dan mulai sedikit banyak menyelami dunia pendidikan, baru tahu saya tidak semua orang yang jadi guru berangkat dari latar belakang pendidikan guru yang sesuai. Misal guru matematika. Belum tentu guru matematika ini dulu kuliah jurusan matematika. Bisa saja dia dulu kuliah jurusan teknik. Yaa... ada sih yang kuliah jurusan matematika akhirnya menjadi guru matematika. Tapi, bisa dibilang macam-macamlah latar belakang mereka yang jadi guru, ada yang berasal dari jurusan psikologi, arsitektur, akuntansi, sastra, dan lain-lain. Menjadi guru seolah mendapat satu perlakuan unik: Tidak penting lah jurusannya apa, yang terpenting kamu bisa transfer ilmu ke peserta didik, bisa berkomunikasi dengan peserta didik dengan baik dan luwes, punya sikap yang baik (kamu enggak mau kan peserta didikmu meniru sikap burukmu kelak dan apakah kamu mau bertanggung jawab atas hal ini?), dan paling penting di atas segala-galanya, kamu punya wawasan dan pengetahuan yang oke sip. Jangan konyol lah, mau jadi guru fisika, tetapi ditanya rumus, jawabannya adalah lupa!

Jadi kalau guru-gurumu itu dulu berasal dari berbagai macam latar belakang pendidikan, mengapa harus heran kalau pekerjaanmu saat ini tidak ada kaitan dengan gelar akademikmu. Sebagai peserta didik yang baik, kan kita harus meniru jejak guru kita. Haha.

Sekarang saya mau masuk ke pembahasan yang lebih serius. Bekerja itu bagian dari kehidupan manusia. Manusia yang menganggur (tidak bekerja atau melakukan hal yang produktif) itu katanya bermasalah secara psikologis, kata pakar psikologi mana gitu. Seingat saya seperti itu. Koreksi saya jika saya salah. Macam-macamlah motivasi orang melamar kerja. Ada yang karena uang, karena kepepet (soalnya lamar sana-sini gak dapat pekerjaan, jadi embat saja pekerjaan yang ada), karena coba-coba (ingin mencari tantangan baru atau problem baru?), atau karena kecintaannya pada pekerjaan itu.

Balik lagi ke soal profesi guru, bagaimana mungkin jika seorang guru yang berasal dari latar belakang "gado-gado" itu bisa memahami peran seorang guru? Apakah jurusan Sastra mengajarkan lulusannya tentang peran sebagai guru? Jurusan Teknik? Jurusan Akuntansi? Sudah perannya saja tidak tahu, alasannya melamar sebagai guru karena... coba-coba. Apa!??? Tidak punya passion menjadi guru ditambah juga belum menghayati sepenuhnya perannya sebagai guru. Apakah tidak mampus pendidikan negara kita kalau guru kita diisi orang-orang semacam ini? Tolong doakan semoga orang-orang kayak gini tidak banyak jumlahnya.

Saya mulai bertanya-tanya: Apa jadinya pendidikan jika orang-orang yang menjadi guru adalah mereka yang tidak total dalam mengajar, hanya datang menyapa, lalu memberikan materi PR yang banyak, tanpa memberi feedback yang jelas? Apa jadinya pendidikan jika mereka yang jadi guru yang hanya menetapkan standar ketuntasan yang tinggi tanpa memperhatikan keunikan dan kualitas peserta didik secara individu? Apa jadinya pula pendidikan jika para guru ini adalah orang-orang yang tidak mengerti perkembangan psikologis peserta didik, yang dikejar hanya target nilai dan nilai? Dan apa jadinya jika mereka yang menjadi guru sebenarnya tidak pernah membayangkan diri mereka akan bekerja sebagai guru, tapi karena kepepet, akhirnya mengambil haluan menjadi guru? Orang-orang yang sesungguhnya tidak memiliki passion bekerja sebagai guru tetapi malah ditarik paksa menjadi guru hanya karena dituntut mengisi lowongan yang ada.

Oya, saya sempat menyebut soal passion. Pembahasan tentang passion ini bisa jadi pembahasan panjang tersendiri juga. Intinya, pekerjaan yang dilandasi dengan passion akan memberi output yang berbeda dengan pekerjaan yang hanya dilandasi oleh nilai-nilai eksternal, seperti uang, ketenaran, gengsi, dsb. "Mengajar itu butuh passion tersendiri," begitulah kata kandidat yang pernah saya wawancarai. Saya pun menyetujuinya.

Pendidikan bagi saya itu penting sekali. Karena pendidikan adalah tonggak kehidupan. Pendidikan lah yang memampukan manusia hidup berbudaya. Maka itu, pendidikan dan kebudayaan memang tidak bisa dipisahkan. Pendidikan yang bagus lahir dari guru yang bagus. Guru yang bagus akan melahirkan peserta didik yang bagus.

Menurut saya, menjadi guru bukanlah profesi main-main. Sekali saja kamu jadi guru, jadilah kamu guru seumur hidup. Coba kamu ingat-ingat kembali wajah-wajah gurumu dulu. Betapa kamu merindukan momen-momen di saat dia mengajarmu atau mungkin memarahimu. Jika kamu bertemu lagi dengannya di tengah jalan, tak sungkan kamu mengucap Pak atau Bu. Jika kamu adalah sosok guru yang baik, yakinlah kamu akan terus diingat oleh muridmu. Dan percayalah, terdengar aneh jika kita mengatakan, "Eh, itu dia mantan guruku" atau "Itu bekas guru saya". Jadi cap guru itu adalah cap yang bisa menempel seumur hidup. Bagaimana dengan bos-bosmu dulu di kantor? Mantan-mantan bos itu (nah ini lebih cocok kan!)... lupakan saja lah. Please, jangan samakan bos dengan guru.

Karena begitu mulia dan sekaligus beratnya tugas seorang guru, seharusnya memang ada kriteria khusus tentang profesi guru ini. Mungkin sejalan dengan pemikiran saya (eh, kok jadi sombong), pemerintah mencetus ide tentang sertifikasi guru. Tetapi malah muncul keluhan bahwa sertifikasi guru ini hanya merepotkan dan menyulitkan mereka yang ingin bekerja sebagai guru. Sudah gajinya pelit, lho mau kerja kok ya sulit. Saya kurang tahu sih tentang pedoman pelaksanaan sertiifkasi guru ini. Yaaa... mungkin saja prosedurnya yang harus disederhanakan. Tapi bagi mereka yang telah mencintai pekerjaannya, harusnya menjadi tidak sulit dalam memperjuangkannya.

Sebagai penutup, saya tidak sedang menyinggung atau mengkritik siapa pun, apalagi yang bekerja sebagai guru. Toh, saya pernah mengemban profesi ini juga. Tetapi bagi mereka yang sedang menggeluti karir sebagai guru dengan alasan apa pun, teruskanlah... jika itu bisa diteruskan dengan sepenuh hatimu. Lakukan yang terbaik di atas yang terbaik. Perlu diingat, peserta didik itu tidak memiliki banyak kuasa dalam memilih gurunya. Dalam contoh perkuliahan, mahasiswa terkadang harus pasrah karena mata kuliah tertentu harus ketemu dengan dosen yang tidak disukainya. Mereka itu sudah pasrah memilihmu, lalu ditambah uang pendidikan yang makin kurang ajar, mereka tentu berharap mendapat pengajaran yang menarik. Jadi bayarlah keringat usaha mereka (lebih tepatnya sih keringat usaha orangtua yang membayar uang pendidikan mereka) dengan harga yang setimpal.

31 Januari 2015

Jangan Hidup di Social Media Saja

sumber gambar: queenscouncilarts.org
Dulu waktu zaman awal-awal munculnya Facebook (FB), rasanya seperti mendapat mainan baru. Orang-orang sibuk ke warnet cuman untuk buka FB. Malah, saya masih ingat sewaktu pengisian jadwal kuliah via online, satu angkatan bisa hampir semua online FB (padahal kan mau isi mata kuliah, mengapa kok buka FB?). Sekarang teknologi semakin canggih, ide pun semakin kreatif. Aplikasi social media berkembang pesat, dari sekadar yang hanya bisa berbagi video, berbagi foto, cuman bisa punya sedikit teman... ada semua. Lalu, sekarang saya malah jadi pusing. Misal, mau update status. Enaknya di LINE, di BB, atau di Twitter? Kan repot kalau semua situs social media di-update statusnya satu per satu. Sementara kita ngebet mau kasih kabar gembira nih. Kulit pepaya sekarang ada esktraknya. Okelah, ini tidak lucu.

Update status cuman satu hal. Ada hal (tidak) lucu lain yang pernah saya alami. Ceritanya saya mau SMS seseorang. Maksudnya pakai SMS karena sinyal internet di lokasi saya saat ini memang tidak stabil. Jadi berharap saya dibalas pakai SMS juga. Eh, yang terjadi. Dia malah balas saya pakai WhatsApp. Untung saja masuk. Kalau tidak? Ribut nanti. Ada lagi cerita lain. Saya kirim pesan pakai WhatsApp, malah dibalasnya pakai BBM. Aneh banget kan ya.

Memang sekarang banyak banget saluran untuk berkirim pesan, sampai saya bingung, enaknya ngobrol pakai ini atau pakai itu. Nanti coba deh kapan-kapan saya tulis pesan pakai surat. Awas saja, jangan-jangan dibalasnya pakai... email! Hahaha. Tetapi tetap saja dengan banyaknya situs social media, kualitas pertemanan yang sesungguhnya hanya bisa dilihat secara nyata di dunia nyata. Akrab di FB, belum tentu akrab di dunia nyata. Menurut saya, FB, Twitter, dkk itu cuman miniatur kehidupan sosial. Interaksi manusia secara langsung itu tak pernah terganti.

29 Januari 2015

Banyak Pilihan Tidak Selalu Baik

Mungkin sebagian orang senang bila diberikan pilihan, sehingga ada perbandingan. Namun, ada banyak pilihan apakah selalu baik? Terkadang dalam posisi tidak ada pilihan tidak lah dikatakan buruk.

Misalnya saja, memilih sekolah untuk anak. Ada macam-macam sekolah di Indonesia, yakni sekolah nasional, sekolah nasional plus, dan sekolah internasional. Untuk sekolah yang sama, katakanlah sama-sama sekolah nasional plus, buku acuan belajar yang dipakainya bisa tidak sama. Okelah, masalah kurikulum, mungkin saja orangtua tidak terlalu pusing. Tetapi ada orangtua yang melihat sisi pemilihan sekolah dari sisi lain. Semisal, bagaimana biaya sekolah anak? Fasilitas sekolah itu apa saja? Lalu, bagaimana pengajaran bahasa asing di sekolah tersebut? Perlu diingat, bahasa mandarin dan bahasa Inggris hampir ada di setiap sekolah. Yang membedakan adalah bobot materinya. Semakin ditambah pusing ketika baru saja sudah yakin memilih sekolah A, tetangga di sebelah sudah telanjur mengoceh, "Jangan sekolah A, karena bla-bla-bla....". Waduh pusing ya.

Banyak pilihan hanya memberikan kepusingan.

Contoh lain deh, memilih ponsel baru. Sekarang ponsel sudah bukan menjadi barang mewah. Anak-anak balita saja sekarang sudah pandai mengoperasikan ponsel, seperti itu mainan saja. Ketika mau beli ponsel baru, percayalah pasti Anda akan perlu waktu lama berpikir. Entah itu memikirkan merknya, memikirkan kapasitas baterai, kualitas kameranya, atau sistem operasinya.

Banyak pilihan juga bisa memberikan kebingungan. Istilah gaulnya, galau. Waktu bisa terbuang percuma untuk memikirkan mana pilihan yang mau diambil.


Berbicara soal sistem operasi, kita tahu setidaknya ada empat sistem operasi ponsel yang sedang mendunia. Mohon koreksi saya bila ada yang lain. Empat sistem operasi itu adalah Android, iOS, Windows, dan Blackberry OS. Saya percaya di antara Anda yang membaca tulisan kebanyakan memakai ponsel Android. Android menawarkan banyak keragaman. Lebih tepatnya ada di mana-mana. Anda bisa mencari ponsel Android di merk Samsung, Sony, Lenovo, LG, dan masih banyak lagi yang memakai sistem operasi Android. Lalu, iOS? Hanya ada satu, yaitu iPhone. Tak ada pilihan lain. Bahkan peluncuran seri terbarunya paling keluar satu atau dua. Tidak seperti ponsel dengan inisial merk S atau L, dalam satu tahun bisa keluar banyak. Kalau Anda ingin membeli ponsel iOS pasti lebih cepat memilih daripada harus mencari ponsel Android.

Rupanya sedikit pilihan mempercepat pengambilan keputusan.

Mari saya berikan contoh lain yang dekat dengan kehidupan para remaja dan dewasa, yaitu masalah as-ma-ra. Kalau Anda lagi senang dengan satu orang, terus... entah ini beruntung atau memang Anda lihai, Anda bertemu sosok lain: putih, menarik...  katakanlah begitu. Anda juga senang sama dia. Ada dua orang yang disenangi dan dua-duanya eh memberi lampu hijau. Bingung kan mau pilih yang mana? Sementara punya pasangan lebih satu sepertinya susah diterima di Indonesia. Kalau Anda sudah menikah, lalu ingin memilih pasangan lain, ehm.... semoga pasangan Anda merestui.

Kalau Anda senang memilih, senang dengan banyak pilihan, coba dipikir dulu. Pilihan-pilihan memang benar bisa memberikan perbandingan. Tetapi terlalu banyak juga tidak baik.

Coba ingat-ingat ketika Anda atau Anda sedang menemani teman wanita Anda membeli baju. Wah, pasti pernah menggerutu seperti ini, "Lama sekali...". Coba ini, coba itu pada akhirnya tidak juga beli apa-apa.

Banyak pilihan rupanya tidak selalu memberi kebaikan. Terkadang malah memberikan kesulitan tersendiri. Jika saja hanya sedikit pilihan, katakanlah dua atau tiga, atau malahan tidak ada pilihan sama sekali, justru memudahkan kita lebih cepat mengambil keputusan.

19 Januari 2015

Facebooker Sejati

Bangun tidur tidak terus mandi
Atau pun pergi gosok gigi
Tapi buka dulu Facebook
Meski mata masih mengantuk

Hari-hari kini mulai berubah
Satu aktivitas telah bertambah
HP dan komputer selalu sibuk
Semua itu karena demi Facebook

Akulah Facebooker sejati
Facebook telah kucinta mati
Update status tanpa henti
Tak login sehari paling anti

Lagi di jalan kena macet
Lagi di bus kena gencet
Lagi di kampus atau di toilet
Facebook tetap selalu di-update

Memang Facebook tempatku curhat
Biar saja semua orang bisa melihat
Satu komentar datang dengan cepat
”Ayo semangat!” seru seorang sahabat

Akulah Facebooker sejati
Facebook buat aku jatuh hati
Update status tanpa henti
Tak login sehari ku bisa mati

Memang Facebook bisa jadi tempat
Tepiskan duka dan sedih sesaat
Facebook memang tempat senang-senang
Namun, kini perlu hati-hati sekarang

Perlu waspada jika mau update status
Jangan yang buat emosi meletus
Salah-salah nanti bisa diringkus
Baiknya yang begitu segera dihapus

Perlu waspada jika mau update status
Jangan asal sembarang sebut
Karena ada yang mati terhunus
Cuman dibilang dia gendut

Baru logout sebentar
Buka Facebook lagi
Aku kaget setengah mati
”Dasar kurang ajar!!!”

Muncul foto mukaku paling ancur
Kemudian di-tag ke semua teman
Beribu komen segera meluncur
Meledek tanpa belas kasihan

Ada fotoku sedang tidur di kelas
Sekarang di-tag ke Bapak/Ibu Guru
Ledekan mengalir dengan deras
Entah ke mana simpan rasa malu

Memang Facebook mampu tampung sejuta foto
Terangkum semua dalam berbagai album
Yang jadul, yang lucu, dan yang heboh
Di-upload semua untuk buat orang kagum

Kamu bisa kirim makanan atau minuman
Bahkan kamu juga bisa kirim senyuman
Walau semua itu tidak nyata
Hanya perhatianku semata

Demo ke jalan itu zaman dulu
Facebook tawarkan sebuah cara baru
Kalau tak puas dengan pemerintah
Cukup bikin gerakan satu juta

Sejak punya Facebook, jadi sibuk
Padahal dulu aku gak terkenal
Kini tiap hari bisa semalam kuntuk
Kayak selebriti ngadepin penggemar

Banyak yang mengajakku berteman
Tapi mutual friend-nya kok gak ada
Mungkin dia ini seorang siluman
Di-ignore saja yang mengada-ada

Karena ada banyak cerita edan
Lewat Facebook si cewek kenalan
Ia mendadak pergi ke Medan
Lalu, gak pernah pulang-pulang

Mungkin ia mau ikut jejak Bang Toyib
Tapi Facebook memang ajaib
Bisa mengumbar segala aib
Atau nyawamu yang jadi raib

Lagi komen sana-sini tanpa jenuh
Sampai notif jadi penuh
Lagi komen sana-sini satu per satu
Eh, kulihat ada sesuatu

Status temanku berganti in a relationship
Sudah kuduga mereka tak sekedar gosip
Ternyata sekarang mereka jadian betulan
Beri ucapan selamat, berharap ada traktiran

Lagi komen sana-sini tanpa jenuh
Sampai notif jadi penuh
Lagi wall post teman satu per satu
Eh, kulihat ada sesuatu

Ada event di kolom bagian kanan
Undangan reuni di sebuah pesta
Facebook pun sanggup mempertemukan
Teman yang hilang tanpa berita

Kalau bosan dan butuh hiburan
Banyak game yang bisa dimainkan
Banyak aplikasi bisa dicoba pula
Awas! Jangan sampe ketagihan gila

Mau game yang santai coba main Mafia Wars
Mainnya gampang tinggal klik dengan sabar
Selesaikan job demi job
Sampai energimu drop

Atau mau tahu rasanya jadi maling
Coba saja game Barn Buddy
Aduh! Kok aku digigit anjing?
Makanya curinya hati-hati

Ingin tahu seberapakah kamu narsis?
Cari tahu jawabnya di salah satu kuis
Kenapa hasilnya aku kok dibilang najis?
Delete ah, hasil yang begini gak perlu di-publish

Biar temanmu dapat diekspos
Coba kamu main Friend Expose
Jawab saja pertanyaan dengan jujur
Walau jawabannya suka ngawur

Dari Facebook bisa kulihat
Pribadimu tanpa kenal dekat
Gak perlu kamu lagi berkaca
Dari statusmu saja bisa dibaca

Kamu manusia alay
Tulisanmu itu bikin mata gak sehat
Kamu manusia lebay
Bunyi statusmu kayak besok mau kiamat

”Jakarta panas; Aduh pengen libur!”
Kamu manusia tukang ngeluh
”Dikasih hape baru; Asik besok ke Singapore!”
Kamu manusia super angkuh

Manusia melankolis, sedih melulu
”Ku masih cinta meski kamu pergi”
Manusia bijak, beri nasihat selalu
”Jika gagal, mari coba lagi!”

Yang tiap hari ngetag baju dan sepatu
Dasar manusia pedagang
Kamu pikir ini Mangdu
Di mana pun ia mikirin uang

”Untuk kamu,” status singkat dan pendek
Penuh teka-teki si manusia misteri
Dan masih banyak lagi manusia aneh
Yang bisa kamu cari sendiri

Akulah Facebooker sejati
Tidak akan ku berpindah hati
Twitter hanya jadi istri kedua
Friendster hanyalah sahabat tua

Isi notes ini hanya lucu-lucu belaka
Tidak bermaksud buat efek dramatis
Jika isi notes ini kamu sangat suka
Angkat jempolmu, silakan klik “Like This”

Sebenarnya sudah dikonsepkan tahun 2010, lalu dirapikan pada tanggal 2 Maret 2013. Udah agak basi sih ya. Semoga bisa mengenang kembali masa-masa heboh menggunakan FB.

19 November 2014

Tentang Seseorang

Hari ini ulang tahunmu.
Tetapi, tidak ada sebaris ucapan selamat.
Tidak ada doa, tidak juga hadiah.
Yang ada hanyalah sebuah kalimat...
"Aku merindukanmu."

16 November 2014

Buku Kedua

Ketika buku pertama meluncur di rak-rak buku, sebenarnya saya tidak punya optimisme yang tinggi terhadap hasil penjualannya. Ah, buku semacam ini selain banyak pesaingnya, juga tidak akan selaku buku novel, begitu pikiran saya.

Rupanya saya salah. Dari data yang saya dapatkan dari PT Elex Media Komputindo, penjualan buku pertama itu hingga Juni 2014 sudah mencapai 1.550 eksemplar dari 2.000 eksemplar yang dicetak. Artinya, persentase penjualannya sudah mencapai sekitar 78%. Wow... fantastis.

Maka tidak heran bila saya kemudian ditawari PT Elex menulis kembali buku dengan topik sejenis. Kebetulan kami merasa kurang puas dengan buku pertama itu, terutama dikarenakan banyak kesalahan kecil (bagi pembaca yang merasa bingung dengan sejumlah instruksi atau penjelasan pada buku pertama itu, kami mohon maaf). Kemudian, kami bermaksud melakukan penyempurnaan buku tersebut.

Jadilah, buku kedua kami seperti yang dapat dilihat di bawah ini:



Perbedaan mendasar antara buku pertama dan kedua adalah ditambahkannya satu bab mengenai analisis perbedaan lebih dari dua kelompok dengan covariate.

Secara pribadi, saya menyukai layout tulisan dalam buku kedua ini. Tentu saja, saya berharap buku kedua ini bisa lebih laris dari buku pertama. Semoga...

13 Oktober 2014

Buka-Bukaan Artis Barat Di Depan Kamera

Saya baru saja menonton sebuah video klip sebuah grup band ternama. Grup band ini dari Amrik. Namanya pun sudah populer di Indonesia. Tak usah lah disebutkan namanya. Di dalam video klipnya itu mengandung sejumlah adegan vulgar di antaranya adegan penuh darah dan ketelanjangan.

Yang mau saya sorot saat ini adalah tentang ketelanjangan di video klip. Saya melihat belakangan ini, bukan belakangan ini sih, tetapi sudah cukup lama, ada tren baru dari video klip artis-artis barat, yaitu adegan buka-bukaan. Lebih "mematikan" lagi, buka-bukaannya bisa dikombinasikan dengan adegan goyang pinggul atau pun adegan di atas ranjang. Pasti "panas" dan bikin "gerah".

Rihanna, Miley Cyrus, Katy Perry, Lady Gaga lalu entah siapa lagi tidak malu-malu untuk buka-bukaan di depan kamera. Ada yang buka semua, ada yang buka sebagian. Berapa banyak yang dibuka mungkin tergantung dari bayarannya. Sebagian penyanyi bahkan tidak malu-malu untuk buka-buka sedikit (ya sedikit saja) di depan penggemarnya secara langsung.

Britney Spears enggak ada buka-bukaannya di video klip pada waktu dia ngehits di akhir tahun 90-an sampai awal 2000-an. Coba dikoreksi kalau saya salah. Tetapi sekarang ya lain cerita. Lagu terbarunya... hmm, tak usah lah diungkapkan. Judulnya saja sudah kasar apalagi videonya.

Saya sebagai orang yang sudah berumur seperempat abad tentu bisa lebih bijaksana dalam menyaksikan adegan semacam itu. Lalu, bagaimana dengan abege-abege? Saya tidak bilang semua abege tidak bijaksana. Namun, melihat karakteristik remaja, Anda tahu sendiri seperti apakah mereka.

Tidak sedikit abege-abege kita lebih ngefans sama artis barat ketimbang artis korea atau mungkin lokal. Dan untuk menyaksikan video klip artis-artis kesukaan kita, sekarang lebih mudah. Buka saja youtube. Yang jadul dan yang tergress tersedia semua. Coba bandingkan dengan kehidupan sebelum ada internet. Untuk menonton video klip, harus tongkrongin MTV, itu pun belum tentu full video alias bisa dipotong di tengah jalan karena paksaan iklan.

Begitu mudahnya menyaksikan video-video klip yang "panas" dan "gerah" itu, apakah generasi selanjutnya akan menjadi generasi berani buka-buka di depan kamera?

Sementara itu, saya lihat video klip artis lokal masih inferior kualitasnya dibandingkan dengan artis barat atau korea. Musiknya saja sudah dibuat seadanya dengan nada-nada mellow dan lirik membosankan, apalagi video klipnya. Tapi, tentu saja ada yang bagus, contohnya Noah, Maliq & D'essentials, atau Nidji. Grup-grup band yang saya sebutkan itu masih terbilang serius dalam menggarap lagu dan video klipnya. Setidaknya saya masih bersyukur, biarpun video klip penyanyi kita masih kalah keren dibandingkan dengan artis-artis luar, segerombolan penyanyi anak muda di tanah air ini masih belum sampai buka-bukaan di depan kamera.

11 Oktober 2014

Era Di Atas Tahun 2020, Bagaimana Jadinya

Era sebelum tahun 90-an: Papa saja sudah cukup menghidupi keluarga.

Era tahun 90-an sampai 2000-an: Rupanya Papa saja tidak cukup menghidupi keluarga, mesti ditambah Mama.

Era di atas tahun 2000-an: Rupanya Papa dan Mama masih saja tidak cukup menghidupi keluarga, mesti ditambah Anak.

Ah, yang bener lo Fren? Masak anak juga harus menopang perekonomian keluarga. Ini sih namanya eksploitasi anak. Begini ya... Lu gak ingat ya belakangan ini lagi ngetren acara kontes ini-itu yang pesertanya khusus anak-anak. Ada Idola Cilik, AFI Junior, Master Chef Junior, Da'i Cilik, The Master Junior, dan masih banyak lagi. Ada juga acara macam Indonesia Mencari Bakat yang pesertanya bisa dari anak-anak dan remaja selain orang dewasa. Terus lu masak lupa dengan kehadiran segerombolan anak muda yang hanya bermodalkan goyangan dan suara-suara seala kadarnya (karena kebanyakan nyanyinya lip sync) tapi bisa sampai bikin konser sendiri. Gak cuman satu, ada banyak. Ada yang mengatasnamakan diri sebagai boyband, girl band, idol group, atau apa lah namanya. Gue rasa honor mereka sudah cukup untuk bayar uang sekolah mereka. Percaya kan, kalau sekarang anak bisa juga menghidupi keluarga. Mungkin istilah KB bisa diganti. Kalau dulu singkatannya Keluarga Berencana, sekarang bisa jadi Keluarga Berkarir.

Era industri sekarang telah beralih ke era industri kreatif. Bukan mereka yang terlalu pandai yang bisa sukses (baca: menghasilkan banyak uang), melainkan mereka yang punya bakat dan kemampuan unik. Contohnya anak-anak yang ikut lomba ini-itu tadi. Jadi, hei para ortu, apakah mulai berpikir untuk mengembangkan bakat anak dalam bidang lain, misalnya kesenian?

Tapi mana tahu era di atas tahun 2020-an, Papa, Mama, Anak rupanya masih saja tidak cukup menghidupi keluarga, mungkin mesti ditambah Pembantu. Oh, tidak...!!! Jangan sampai itu terjadi.

15 September 2014

Pernikahan Bukan Perkara Cinta dan Agama Saja

Media nasional sedang dihebohkan oleh berita tentang gugatan hukum pernikahan di Indonesia. Seperti kita tahu bersama, salah satu aturan menikah di Indonesia harus seagama. Lalu, bagaimana nantinya jika kedua pasangan berbeda agama? Akhirnya yang harus dilakukan adalah salah satu pasangan harus mengalah. Dengan kata lain pindah agama, apakah ikut suami atau istri. Apakah pasangan tersebut hanya pindah agama sebatas meloloskan urusan administrasi (supaya pernikahannya sah) atau memang sudah mantap berpindah agama (berarti menjalankan keyakinannya yang baru) itu adalah lain persoalan. 

Kalau menurut saya, dilegalkan aturan pernikahan beda agama itu tidak masalah. Tuh, apa sih kerugian bagi negara bagi pasangan berbeda agama yang menikah? Tidak ada kan. Menikah beda agama juga bukan sebuah perbuatan kriminal. Lagi pula kita juga enggak tahu ke depannya akan bertemu dengan siapa, jatuh cinta dengan siapa, seperti kata orang ini.

Tapi, apakah dengan demikian pernikahan beda agama menjadi sesuatu yang mudah dijalani? Menurut saya tidak. Pernikahan di Indonesia (dan di negara-negara budaya Timur) bukan sekadar pernikahan antardua insan, melainkan pernikahan antarkeluarga besar. Jadi, saat kita menikahi seseorang, sebetulnya kita menikahi keluarganya. Mungkin pasanganmu yang beda agama bisa menerima keyakinanmu, tetapi apakah keluarga besarnya bisa menerima? Biasanya hubungan beda agama kerap mendapat tentangan atau tantangan dari orang-orang terdekat, keluarga salah satunya. Tapi, bisa juga dari sahabat.

Juga perlu diingat budaya Indonesia itu kental dengan kebersamaannya. Silaturahmi itu penting. Orang-orang Indonesia senang sekali kumpul-kumpul. Namanya kumpul-kumpul bukan cuman makan-makan dong, pasti cuap-cuap juga kan. Apa yang biasa dicuap-cuapkan? Ya macam-macamlah, "kapan nikah?", "kapan punya anak?" dan lain-lain. Misal saja, pada saat kumpul-kumpul entah itu pas Waisakan, Natalan, Lebaran, atau pun momen yang lainnya, mungkin bisa terdengar celetukan, "Kok, lakimu/binimu tidak diajak ke ... (nama tempat ibadah)? Sesekali biar dia bisa mengenal Tuhan bla-bla-bla..." Mungkin itu hanya basa-basi, tetapi kalau terdengar terus-menerus, bukankah itu tidak nyaman juga.

Perbedaan itu emang indah, tetapi ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Apa itu? Perbedaan itu indah, jika dapat saling menerima. Jika tidak bisa menerima, perbedaan ya cuman jadi perbedaan.

Terakhir yang penting digarisbawahi, pernikahan bukan hanya soal cinta, melainkan soal restu. Mau agamanya sama, warna kulit sama, bentuk hidung sama, atau ukuran mata sama, kalau tidak mendapat restu dari keluarga, ya sulit...

8 September 2014

Mau Marah-Marah di Situs Sosial Media? Baca Ini Dulu

Anda masih ingat kasus Dinda yang mencela ibu hamil hanya karena ia tidak mendapat tempat duduk di kereta, padahal ibu hamil yang datang telat bisa-bisanya mendapat tempat duduk? Atau Anda masih mengikuti kasus Florence yang menghina orang Jogja hanya karena ia tidak diperbolehkan mengantre bensin Pertamax di tempat pengisian bahan bakar mobil. Keduanya punya satu kesamaan. Sama-sama diawali dengan menuliskan uneg-uneg di Path, lalu di-screen capture, dan disebarluaskan.

Path, situs sosial media yang sedang populer di kalangan pengguna smartphone. Path, situs sosial media yang hanya bisa menjalin pertemanan dengan 150 orang (kabarnya sekarang sudah bisa mencapai 500 orang). Dibandingkan dengan Facebook atau Twitter yang bisa menjalin pertemanan lebih dari seribu orang, seharusnya pengguna Path bisa lebih selektif dalam memilih teman. Dalam artian, teman-teman kita di Path seharusnya adalah mereka yang benar-benar kita kenal dan ketahui.


Di sinilah letak persoalannya. Di dunia internet, "Orang bisa jadi anjing. Anjing bisa jadi orang." Tidak usah di sosial media, di dunia nyata saja, orang yang dekat dengan kita, bisa saja menjatuhkan kita. Lalu, salahkah orang yang memfoto tulisan kita sekaligus menyebarluaskan. Hmmm... mengapa tidak berkaca pada diri sendiri lebih dulu?


Pertama-tama, kita harus ingat Facebook, Path, Twitter, dan situs sosial media lainnya yang sejenis bukanlah BUKU HARIAN PRIBADI, termasuk situs Blogger ini. Kita harus ingat bahwa situs sosial media itu tempat di mana semua orang bisa membaca tulisan kita dan bebas berkomentar apa pun. Jadi, harusnya jangan marah kalau nanti tulisan kita diserang balik apalagi disebarluaskan. Kalau tak mau hal seperti itu terjadi, lebih baik berhati-hati dalam menulis di situs sosial media, misalnya menggunakan kalimat ambigu atau tidak menyebutkan secara terang-terangan nama, tempat, atau merk tertentu jika ingin menyudutkan seseorang/sesuatu.

Biarpun ada situs sosial media yang bisa membatasi jumlah teman atau mengatur tulisan yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang tertentu atau pun ada situs chat yang katanya bisa menghapus pesan sesudah lewat sehari, JANGAN LUPAKAN ponsel sekarang sudah bisa melakukan screen capture atau screen shot. Jadi adakah situs sosial media yang dapat menjaga privasi? Menurut saya, tidak ada. Semua situs sosial media tidak aman. Yang paling privasi tentu saja adalah tidak menceritakannya kepada siapa pun alias jadikan saja R-A-H-A-S-I-A.


"When you write something offensive, and your writing have been screen shot and shared, get ready if someday you will be shot and scared..." Saya tidak terlalu pintar berbahasa Inggris ya, hehe... Tetapi maksudnya adalah, kalau Anda menuliskan sesuatu yang menyerang/buruk, dan tulisanmu itu di-screen capture dan disebarluaskan, bersiap-siaplah jika suatu hari nanti Anda akan kena masalah.


Sekarang ini saja, juga lagi marak pemberitaan Ridwan Kamil, wali kota Bandung, melaporkan ke polisi sebuah akun di twitter hanya karena tulisannya yang menghina kota Bandung termasuk dirinya. Nah, lho. Jadi, salahkah mengekspresikan kemarahan lewat situs sosial media? Salah benar tentu tergantung siapa yang melihat masalah.


Begini deh. Kalau lagi ngumpul dengan teman-teman, kadang-kadang teman kita bisa saja tersinggung dengan ucapan kita, yang mungkin pada saat itu sedang bercanda. Ngumpul-ngumpul saja bisa berbuah perselisihan. Nah, bagaimana jika ada ratusan bahkan ribuan orang yang melihat tulisan Anda lalu merasa tersinggung? Jadi saya hanya bisa mengingatkan kalau marah-marah lewat situs sosial media, Anda juga harus siap sedia dengan risiko terburuk yang terjadi. Menurut saya sih, jika ada keluhan atau amarah atau dendam, sebaiknya dengan berbicara langsung kepada orang-orang terdekat atau pihak-pihak yang profesional, semacam psikolog atau pendeta (Syukur-syukur ucapan kita tidak direkam ya, hehehe). 


Jadi, hal yang harus kita ingat sekarang lidah bukan satu-satunya yang bisa jadi pedang, mulut juga bukan satu-satunya yang bisa jadi harimau. Jari-jemari kita sekarang pun bisa menjadi harimau dan pedang. Maka itu, bijaklah dalam menggunakan jari-jemari kita.

3 Agustus 2014

Sebuah Kisah Cinta Sejati: Seorang Wanita Karena Kanker Ingin Mencarikan Kekasih Baru Untuk Suaminya

Saya pernah membaca suatu pernyataan bahwa yang dinamakan cinta sejati itu sebetulnya bukanlah cinta yang memiliki, bukanlah cinta yang posesif, melainkan cinta yang melepas. Karena itu, ketika seseorang betul-betul cinta, dia harusnya membiarkan cintanya terbang sejauh mungkin mengejar apa yang dia inginkan. Bila dia memang benar-benar jadi milikmu, pasti suatu hari nanti dia akan kembali kepadamu.

Mencintai dengan hasrat memiliki, menurut saya, adalah cinta yang bercampur dengan nafsu. Sementara itu, mencintai tanpa rasa memiliki adalah level cinta yang paling tinggi. Sebuah cinta yang murni. Salah satu orang yang mempraktikkan cinta semacam ini adalah Bunda Teresa. Dengan setulus hati, beliau mau menolong orang-orang sakit di negeri India. Tak peduli siapa mereka, agamanya apa, dari mana mereka berasal, apa timbal balik yang kan beliau dapat, beliau hanya ingin mencintai mereka sepenuh hati.

Rupanya bukan hanya Bunda Teresa yang dapat mempraktikkan cinta semacam ini, nun jauh di negeri Tiongkok, seorang wanita ingin mencari kekasih baru untuk suaminya karena ia menderita kanker otak stadium 4. Untuk mengetahui kisah selengkapnya, coba klik link di bawah ini. Anda akan terhubung ke sebuah laman Facebook. Ada cuplikan videonya yang sudah diberi teks bahasa Indonesia.

Jangan lupa siapkan tisu bagi yang tak kuat menahan sedih.

Apakah Anda sudah selesai menonton? Terharu?

Penasaran dengan kelanjutan nasib Feng Ying, saya mencoba mencari tahu di internet. Dan, ternyata operasinya berhasil. Saya rasa ia mendapatkan kekuatan dan mujizat dari seluruh orang yang mendoakannya.

Keputusan Feng Ying untuk mencarikan kekasih baru untuk suaminya jelas sulit diterima bagi mereka yang menganut paham bahwa cinta adalah sehidup semati dan tak terpisahkan. Tetapi, bukankah cinta adalah memberi kebahagiaan bagi orang yang dicinta? Untuk apa Anda paksakan diri mencintai seseorang atau menjalin hubungan dengan seseorang, hanya diri Anda yang bahagia, tetapi pasangan Anda tidak. Bukankah itu menjadi sangat egois?

Saya enggak tahu apakah suami Feng Ying sudah tahu tentang impian istrinya? Sulit membayangkan reaksinya, apakah ia bisa menerima atau tidak? Tetapi, Feng Ying pastinya berpikir bukankah lebih baik suaminya bisa hidup bahagia dengan wanita lain yang sehat ketimbang dengannya yang hanya memberi banyak beban? Feng Ying pasti merasa saat itu dirinya terlalu buruk untuk dicintai suaminya yang sangat baik.

Jadi, jikalau pasangan Anda ketahuan selingkuh dengan orang lain, tidakkah Anda harus berbahagia? Atau jikalau pasangan Anda sudah tidak lagi mencintai Anda, malah lebih mencintai orang lain, tidak jugakah Anda harus berbahagia? Berbahagia karena ia lebih bahagia (menemukan kebahagiaannya yang lebih), meskipun tidak bersama dengan Anda.

Aah... Pastinya ini tidak semudah diucapkan. Hasrat manusia ingin selalu memiliki sesuatu/seseorang. Kita sudah memiliki naluri seperti ini sejak dari dulu. Tetapi, belajar untuk mencintai dengan ikhlas rela (tanpa rasa memiliki) patut diupayakan. Dan satu lagi, mencintai tanpa memiliki itu benar-benar ada, nyata, dan bisa diterapkan.

29 Juni 2014

Anakku Tak Mau Belajar Di Rumah

"Anak saya kalau di rumah gak mau belajar" adalah keluhan orangtua yang saya dengar di tempat kerja saya.

Sebelum saya lanjutkan tulisan saya ini, saya teringat dengan sebuah ceramah di vihara yang dibawakan oleh seorang Suhu (dalam tradisi buddhis Mahayana, umat Buddha memanggil biksu atau biksuni dengan sebutan Suhu yang berarti guru). Dalam ceramah itu, Suhu tersebut prihatin dengan pendidikan keluarga zaman sekarang, salah satunya mengenai makan bersama. Menurut Suhu itu, "Yang namanya keluarga itu harus makan di atas satu panci yang sama. Artinya, apa yang disediakan itulah yang dimakan pada hari itu. Tapi kenyataannya sekarang ini anak bisa pilih-pilih makan. 'Ma, aku mau Indomie' atau 'Ma, aku mau makan nasi goreng'."

Lanjut Suhu, "Itu rumah atau restoran? Kok anak bisa-bisanya pilih makan sendiri." Saya tertawa geli mendengar pernyataan ini. Jadi, menurut Suhu tersebut, yang disebut rumah (keluarga), harus makan makanan yang sama yang sudah dimasak pada hari itu.

Kalau saya boleh ikut berkomentar, anak memiliki lidah yang lebih sensitif dibandingkan dengan orang dewasa, sehingga pahit sedikit atau asam sedikit, anak bisa rewel. Memang urusan makan, harus pintar-pintar orangtua mengatur dan membujuk anak agar dia mau makan yang menyehatkan meski tidak disukainya (misalnya, sayur)

Jadi, kalau saya boleh menggunakan analogi dari pernyataan Suhu itu, dikaitkan dengan urusan anak belajar di rumah, saya jadi ingin berkata seperti ini, "Itu rumah atau playground? Kok anak bisa-bisanya tidak mau belajar di rumah."

Kan aneh, meski anak belajar hampir setiap hari ke sekolah, anak tentu istirahat di rumah. Liburan pun mereka akan di rumah. Masak sih liburan ke sekolah!? Kan tidak. 

Orangtua harus berpikir mengapa anaknya lebih mau belajar di sekolah atau di tempat les, tetapi serasa enggan belajar di kamar atau rumahnya sendiri? Apakah karena di sekolah atau di tempat les ada guru galak sehingga anak jadi mau belajar? Tentu saja bukan itu jawabannya. Lebih tepatnya, orangtua tidak mau mengkondisikan rumahnya sebagai tempat belajar untuk anak.

Saya khawatir ada orangtua yang berpikir bahwa belajar (mengerjakan PR, me-review materi ulangan) itu adalah di sekolah atau di tempat les. Rumah bukan tempat untuk semacam itu. Rumah adalah tempat anak untuk istirahat dan bermain. Wah, kalau benar ada yang berpikir begitu. Itu sangat menyedihkan.

Pendidikan adalah sinergi, kerja sama antara guru di sekolah dan orangtua di rumah. Tidak bisa hanya dibebankan kepada salah satu pihak. Anak tidak selamanya berada di sekolah. Betul!? Suatu hari, dia akan keluar dari lingkungan sekolah dan berpindah ke lingkungan lain. Menurut saya, yang namanya belajar di rumah (mengerjakan PR, me-review materi ulangan) adalah suatu bentuk latihan kepada anak agar dia kelak nantinya bisa mengurus dirinya sendiri atau bertanggung jawab pada kewajibannya.

Mari lupakan dulu soal aspek hasil belajar. Mungkin ada anak yang sudah mati-matian belajar sendiri di rumah, tetapi hasilnya tidak seoptimal seperti dia belajar di tempat les. Tentu saja itu lain persoalannya. Persoalan itu lebih kepada pemahaman materi belajar. Di sini saya membahas lebih ke persoalan sikap belajar.


Kunci agar anak mau belajar di rumah adalah kedisplinan. Anak bukanlah superman yang tahu-tahu bisa sesuatu dengan sendirinya. Segala sesuatu itu dipelajari, termasuk persoalan mau belajar sendiri di rumah. Orangtua harus tegas, bahwa ini saatnya belajar, bukan saatnya bermain. Dan harus lebih tegas lagi, ketika anak tak mau belajar serius di rumah harus ada konsekuensinya, entah itu pemotongan uang jajan, larangan keluar rumah, dan lain sebagainya.

Kedisiplinan itu mengandung dua kata kunci: pembiasaan atau pembiaran. Kalau Anda membiarkan anak Anda bisa nonton seharian di rumah atau bermain game seharian di rumah, anak tak akan terbiasa untuk belajar. Sebaliknya, jika anak dibiasakan untuk belajar, anak tak akan membiarkan tugas-tugasnya sebagai seorang pelajar.

Dan di atas kata kedisplinan, ada satu kata lagi yaitu kesabaran. Proses belajar tak bisa dipukul rata. Ada anak yang cepat memahami, ada yang tidak. Termasuk juga memahami tanggung jawabnya. Orangtua harus sabar sesabar-sabarnya untuk mengajari anaknya untuk mengerti akan tanggung jawabnya.

26 Juni 2014

Ayah Ibu Kok Tidak Kompak

Dalam membesarkan anak, pernah saya bahas sedikit bahwa itu adalah kerja sama. Tidak bisa salah satu pihak saja. Begitu pun dalam mendisiplinkan anak, harus dilakukan berdua dan kompak jalan pikirannya.

Saya beri contoh kasus berikut:

Mama: Nak, jangan main game terus. Ayo belajar!
Anak: Sebentar Ma.
Mama: Gak ada kata sebentar. Belajar atau Mama buang game-nya.
Papa: Udah lah Ma. Kasih main sebentar dulu saja.

Kasus di atas menunjukkan ada perbedaan pikiran antara Ibu dan Ayah. Yang satu menuntut anak untuk belajar. Yang satu lebih santai, tak mau anaknya stres belajar. Hal-hal seperti ini bisa terjadi di kasus-kasus yang lain. Semisal, Ayah melarang anaknya memiliki ponsel sendiri. Tetapi, karena Ibu kasihan, makanya dia belikan juga anaknya sebuah ponsel. Ceritanya diperparah, karena Ibu membelikan ponsel tanpa ngomong dulu kepada Ayah. Memang si Ayah tidak marah besar, tetapi cukup memnacing konflik di antara Ayah dan Ibu. Yang kasihan tentu adalah anak, ketika ia mungkin saja tahu bahwa dirinya adalah sumber masalah antara papa dan mamanya.

Perselisihan di antara Ayah dan Ibu seringkali terjadi dikarenakan masalah anak. Perbedaan dalam membesarkan anak bukan persoalan jenis kelamin, melainkan persoalan siapa yang merasa lebih tahu yang terbaik kepada anak. Masing-masing merasa tahu benar harusnya anak dibesarkan dengan cara seperti apa, entah itu cara yang lembut atau cara yang tegas. Kalau tidak ada win-win solution atau jalan keluar yang terbaik di antara keduanya, tidaklah heran di kemudian hari bila nanti akan ada konflik-konflik antara pihak Ayah atau Ibu.

Oleh karena itu, dalam membesarkan anak harus ada komunikasi di antara orangtua dalam segala hal, baik itu urusan kedisiplinan, urusan pemberian hadiah, urusan sekolah, urusan les, dan lain sebagainya. Terkadang masalah dalam membesarkan anak bisa muncul adalah ketika Ayah dan Ibu sama-sama keras kepala, tidak mau mengalah, dan tidak mau mengkomunikasikan pendapat atau perasaannya dengan clear.

Jadi seperti apakah yang disebut kompak membesarkan anak. Contohnya sebagai berikut:
Mama: Nak, jangan main game terus. Ayo belajar!
Anak: Sebentar Ma.
Mama: Gak ada kata sebentar. Belajar atau Mama buang game-nya.
Papa: Iya Nak. Ayo belajar dulu.
Terlihat di atas antara Mama dan Papa sama-sama kompak. Mungkin Mama bicara dengan nada lebih tegas, sementara Papa lebih lembut. Tetapi inti pemikirannya keduanya sama, yaitu mau anaknya belajar dulu.

Mama dan Papa dalam satu rumah bisa saja tidak kompak. Apalagi jika ada pembantu, baby sitter, atau mertua di rumah? Wah, biasanya itu lebih rumit lagi. Oleh karena itu, membesarkan anak harus ada komunikasi di antara orang serumah.

7 Juni 2014

Hidup dalam Kekinian

Sumber: ronniespirit.com
Sepanjang saya lahir hingga sekarang, saya cuman belajar satu agama saja: Agama Buddha. Saya tidak tahu secara detail dan jelas filosofi agama lain seperti apa. Tetapi, dalam buddhis, saya belajar sebuah filosofi yang saya sukai, meski sulit dipraktikkan. Filosofi itu adalah mindfullness. Dalam buku-buku buddhis sering diterjemahkan sebagai "penyadaran penuh". Dengan kata lain, sadar sepenuhnya dengan segala laku dan pikiran kita.


Contoh nyata praktik mindfull adalah hidup di saat ini. Buddha mengajarkan kepada umatnya untuk hidup dalam kekinian (living in a present moment). Artinya, tidak larut dalam lamunan masa lalu dan tidak cemas dengan khayalan masa depan. Karena yang berlalu, sudah berlalu. Sementara yang belum datang, belum dapat dipastikan. Hiduplah kini dan di sini (here and now).

Okelah, saya harus ingetin blog ini bukan blog dakwah. Saya tidak sedang berkotbah. Saya cuman mau menjelaskan lebih lanjut konsep kini dan di sini dari sudut pandang saya.

Seberapa penting sih hidup dalam kekinian? Penting banget kalau menurut saya. Banyak orang yang punya masalah psikologis atau masalah-masalah lain terkait hidupnya biasanya bersumber dari masa lalu. Orang-orang yang punya fobia biasa karena mereka punya pengalaman kurang menyenangkan terhadap objek fobianya. Atau, orang-orang yang kurang percaya diri juga biasa dikarenakan ada pengalaman yang kurang enak di masa lalu (mungkin karena kerap mendapat verbal abuse, diremehkan, atau ditolak). Orang-orang seperti ini tanpa sadar membawa benih-benih masa lalu ke dalam memori sehingga membentuk diri dan perilaku mereka seperti saat ini. Sebagian dari mereka sadar dengan masa lalunya, apa yang mereka alami saat itu, tetapi mereka adalah orang-orang yang hmm... pakai istilah gaul, gagal move on. Mereka gagal beranjak dari masa lalu.

Lalu, orang yang terus mencemaskan masa depan juga bukan orang yang dibilang sehat. Kita belum tahu apa yang terjadi, eh tetapi kita sudah ketakutan duluan. Biasanya suka dialami pelajar yang mau menghadapi ujian nih. Bolak-balik mereka membuka halaman-halaman buku mereka bahkan di detik-detik ujian mau dimulai masih saja membaca catatan, karena mereka takut lupa atau takut bila soal itu susah. Padahal belum tentu sesusah yang dibayangkan. Orang-orang yang terlalu mengkhawatirkan apa yang terjadi bisa dibilang juga... gagal move on. Gagal melangkah menghadapi masa depan yang tak pasti.

Jadi, bagaimana seharusnya menghadapi hidup? Yang harus kita lakukan ya itu tadi... hidup dalam kekinian. Banyak orang yang terlalu sibuk memikirkan masa lalu atau masa depan sampai lupa apa yang sedang ia lakukan saat ini. Saat mereka terbangun dari lamunan dan khayalan itu (baca: tersadar), waktu telah berlalu begitu cepat. Lalu... nyesel.

Dalam bidang psikologi, ada terapi yang dikenal terapi Gestalt. Terapi ini meminta klien untuk melihat dan memahami apa yang sedang ia rasakan dan apa yang sedang ia pikirkan. Kemudian, terapis akan menuntun klien untuk dapat menangani masalahnya dengan penuh rasa tanggung jawab. Terapi Gestalt ini jelas mengandung pemikiran bahwa seseorang harus hidup dalam kekinian.

Terus, pertanyaannya: Jadi apakah boleh memikirkan masa lalu? Tentu saja boleh. Masa lalu adalah pelajaran. Soekarno pernah mengatakan jas merah yang berarti jangan sekali-kali melupakan sejarah. Keberadaan kita tak pernah lepas dari masa lalu. Setiap detik yang kita lewati sebetulnya sudah jadi masa lalu.

Apakah boleh memikirkan masa depan, semisal merencanakan karir? Tentu saja boleh. Bahkan, Buddha yang mengajarkan hidup dalam kekinian juga memperbolehkan manusia punya keinginan, seperti keinginan untuk hidup kaya atau terlahir di surga.

Hidup dalam kekinian bukan berarti tidak memikirkan masa lalu atau masa depan sama sekali. Hidup dalam kekinian bukan berarti juga hidup seperti tidak memiliki tujuan. Sebenarnya hidup dalam kekinian adalah hidup yang bertujuan.

Sebenarnya bagaimana sih menerapkan hidup di saat ini atau hidup di dalam kekinian? Caramya dengan menanyakan kepada diri sendiri, "Sedang apa aku sekarang?", "Apa yang harus aku lakukan ke depannya?", "Apa yang harus aku lakukan saat ini?" Kebanyakan orang tidak sadar dia telah menghabiskan waktunya dengan kegiatan tak berguna, seperti melamun dan berandai-andai.

Misal "Sedang apa aku sekarang? Aku sedang mengerjakan tugas sekolah/kuliah. Apa yang harus aku lakukan ke depannya? Aku harus mengerjakannya sampai tuntas. Jadi, apa yang harus aku lakukan saat ini? Aku mengerjakan tugas-tugas ini sekarang juga."

Atau, kasus lain. "Aku sedang patah hati, baru saja diputuskan pacar. Apa yang harus aku lakukan ke depannya? Aku ingin mengatasi kesedihan ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang untuk mengatasi kesedihan ini? Aku perlu menghubungi teman-temanku untuk bercerita. Jadi yang ku lakukan sekarang adalah mengambil ponsel dan menghubungi salah satu dari temanku."

Orang yang hidup di saat ini adalah orang yang jelas-jelas memiliki tujuan. Mereka sangat fokus dengan apa yang sedang mereka kerjakan.

Jangan biarkan pikiran disibukkan dengan hal-hal yang sudah berlalu atau pun hal-hal yang belum datang. Ibarat mau ke pantai seberang, celakanya tak bisa maju-maju. Rupanya karena kita masih belum melepas jangkar dari perahu kita. Atau, pas kita sudah menaiki perahu, tetapi lagi-lagi kok tak maju-maju. Rupanya karena kita selalu terbayang-bayang badai yang ada di depan. Orang yang tak bisa maju-maju ini bisa disebut... lagi galau. Jadi lakukan yang terbaik untuk saat ini.


1 Juni 2014

Ini Ceritaku dan Karyaku

Selamat datang bulan Juni 2014. Tidak seperti bulan Mei, bulan Juni 2014 adalah bulan yang tidak ada tanggal merahnya selain hari Minggu. Begitulah nasib para pekerja. Selalu mendambakan hari libur lebih dari Sabtu dan Minggu.

Belakangan ini saya mulai aktif meng-update blog. Kebanyakan isi blog ini lagi seputar tentang pengasuhan anak (parenting). Itu karena saya kerja di sebuah tempat les sehingga banyak bersinggungan dengan dunia anak dan dunia parenting. Saya mengamati orangtua zaman sekarang agak frustrasi dalam mendidik anak. Sebenarnya saya juga sih (maaf, ikutan curhat). Pertama-tama, pelajaran sekolah sekarang lebih susah. Mosok anak kelas 4 SD sudah harus belajar tentang tugas-tugas presiden, DPR, MPR, DPD, BPK, dan lain-lain. Kayaknya dulu saya enggak deh. Saya sendiri yang sekarang sudah sarjana saja tidak begitu menguasai masalah tata negara.

Lalu, perilaku anak sekarang pun (kebanyakan yang saya temui sih) lebih susah diatur. Hal yang memprihatinkan bagi saya selanjutnya: anak-anak sekarang seperti kebanyakan les/belajar. Bahkan, anak usia 3 tahun pun sudah dileskan atau disekolahkan. Apakah benar belajar sejak dini memberikan manfaat kepada anak, entah itu secara intelektual, gerak motorik, atau psikologis? Adakah yang bisa berikan tanggapan? Silakan jika ada...

Ya itu sekelumit tentang dunia yang sedang saya hadapi. Tulisan-tulisan seperti itu kelihatannya masih akan bertambah. By the way, blog saya memang agak sedikit random. Kadang isinya tentang curhat, kadang isinya tentang humor, kadang isinya tentang motivasi, dan macam-macam. Blog saya ibarat cap cai atau gado-gado kali ya. Hehe.

Blog ini memang tidak dikhususkan untuk berbicara satu topik. Blog ini memang dibuat untuk mendokumentasikan pikiran-pikiran saya. Saya senang berpikir dan senang menulis sejak dulu. Bahkan waktu kecil saya ingat saya sering mencoret-coret sesuatu di kertas, lalu habis itu saya buang. Hehe. Banyak ide/curahan hati yang sering muncul, terlintas begitu saja, biasanya sih paling sering muncul pas menjelang tidur. Sayang juga kalau ide-ide atau curahan-curahan itu tidak dituliskan. Oleh sebab itu, saya gak pernah pusing apakah blog ini dibaca atau enggak, dikomentari atau enggak. Syukur-syukur kalau ada yang diam-diam ngefans tulisan saya. Hehehe.... Blog ini sengaja dibuat hanya demi menyimpan buah pikiran atau buah perasaan saya. Amit-amit... barangkali saya amnesia suatu hari nanti. Blog ini bisa mengingatkan siapa saya, apa sepak terjang saya di kala dulu.

Blog ini bisa dibaca oleh siapa saja, jadinya saya gak akan menulis sesuatu yang sifatnya terlalu pribadi atau terlalu aib di sini. Yang lebih aib, lebih rahasia saya punya semacam catatan tersendiri yang gak boleh dibaca siapa pun...

Orang yang pandai melukis membuat lukisan. Orang yang pandai bermain alat musik membuat lagu. Setiap orang punya keahliannya masing-masing. Jadilah, saya sebagai orang yang pandai menulis membuat tulisan. Sebenarnya dibilang pandai, gak juga sih. Cuman daripada menggambar atau memainkan instrumen musik, ya kemampuan saya merangkai kalimat masih lebih baik lah.

Saya mau cerita sedikit mengenai apa yang terjadi di tahun 2013 yang mungkin belum sempat diceritakan. Sebagian besar kawan saya di Facebook sudah mengetahui saya telah menghasilkan satu karya yang telah dipublikasikan. Di tahun 2013 itu sebenarnya saya juga sudah menghasilkan sebuah novel komedi. Saya berikan hard copy novel komedi ini ke beberapa teman terdekat saya. Komentar dari mereka sih, katanya lucu dan menghibur. Iseng-iseng saja, saya mengajukan novel ini ke dua penerbit besar. Hasilnya saya mendapat surat cinta penolakan dari kedua penerbit itu. Haha. Saya sih gak sedih waktu mendapat surat cinta penolakan. Soalnya saya juga gak merasa itu novel yang bagus. Toh, Debbie (teman saya yang penulis betulan) yang saya daulat untuk baca memberikan komentar langsung di depan muka saya. Katanya, dia sama sekali gak dapat pesan setelah baca novel itu. Lalu novel itu garing, katanya. Bermaksud lucu tetapi gak lucu sama sekali. Tuh kan benar. Gak bagus. Tetapi dia menyemangati saya. Katanya, saya pasti bisa menulis lebih dari itu. Ya, Deb. Suatu hari, gue akan buktikan gue bisa menulis novel yang nantinya membuat lu terpukau.

Ah, bicara tentang membuat novel, yang saya idam-idamkan sejak dulu, kadang-kadang ya bikin saya sakit kepala juga. Meski ide besar sudah ada, tetapi meramunya menjadi matang... ah susah sekali. Passion oh passion. Mengejarnya bak mengejar bintang di langit.

Nah, di tahun 2013 itu saya juga sempat membukukan karya-karya saya ke dalam bentuk naskah yang dijilid. Ada dua. Saya beri judul 25 Karya Kumpulan Puisi dan 25 Karya Kumpulan Tulisan. Naskah itu saya berikan secara gratis ke beberapa teman terdekat saya sebagai hadiah pertemanan. Mengapa 25 karya? Itu untuk memperingati usia saya yang ke-25 di tahun 2013. Kalau lihat jumlahnya, wah... sudah banyak ya, tulisan-tulisan saya. Belum lagi tulisan di blog, tulisan di majalah kampus, dan tulisan di catatan pribadi tentunya.... banyak banget ya... Hahaha....

Sekarang saya mau ceritakan kesibukan saya. Sehabis lulus kuliah, ngapain saja? Kerja. Tapi, mosok kerja-kerja saja. Ya enggak lah. Sekarang saya lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca dan menonton film di internet. Untuk selingan, bermain game dan ngemil. Kalau hari Minggu, sesempat-sempatnya pergi ke tempat ibadah.

Bila orang-orang bertanya kepada saya, ngapain ke tempat ibadah? Masuk surga? Ah, enggak lah. Terlalu jauh. Gak kepikiran sampai ke sana. Dapat pahala? Ah itu kok tujuannya terdengar egois amat ya. Saya akan jawab begini: Untuk mengingatkan diri saya untuk selalu berbuat baik. Manusia gak pernah lepas dari kesalahan kan ya. Menurut saya, kita ke tempat ibadah untuk menyadarkan kita bahwa kita sebagai manusia seharusnya berbuat hal-hal yang baik, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Terus, kalau ada jodoh, saya akan pergi hangout dengan teman-teman saya. Tetapi, kalau enggak jodoh, ya sudah saya habiskan waktu saya sendirian dengan cuci mata ke mall terdekat. Kehidupan setelah lulus kuliah memang berbeda dengan kehdupan ketika kuliah.

Sekarang orang-orang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ada yang sibuk berbisnis, ada yang sibuk les bahasa, ada yang sibuk dengan anak-anaknya. Yang dulunya dekat, sekarang gak dekat lagi. Tetapi, biasanya akan ada sedikit orang yang masih dekat dengan kita.

Oh, saya mesti cerita, teman baik saya di Tangerang telah menikah Februari lalu dan dalam waktu dekat ini akan punya anak. Teman saya ini dari jomblo, putus... eh sekarang menikah dan bakalan jadi seorang Ibu. Kalau saya.... masih jomblo-jomblo saja. Haha...

Hidup ini memang berubah. Gak cuman saya, ya kamu juga berubah. Lalu mereka dan semuanya. Yang merasakan gak cuman saya, yang lain juga begitu. Nih saya temukan satu gambar menarik dari Path.


Kurang-lebih itu dulu yang saya bisa saya ceritakan. Besok hari Senin soalnya. Hehe... nantikan tulisan-tulisan saya berikutnya ya...