Page

7 Juni 2014

Hidup dalam Kekinian

Sumber: ronniespirit.com
Sepanjang saya lahir hingga sekarang, saya cuman belajar satu agama saja: Agama Buddha. Saya tidak tahu secara detail dan jelas filosofi agama lain seperti apa. Tetapi, dalam buddhis, saya belajar sebuah filosofi yang saya sukai, meski sulit dipraktikkan. Filosofi itu adalah mindfullness. Dalam buku-buku buddhis sering diterjemahkan sebagai "penyadaran penuh". Dengan kata lain, sadar sepenuhnya dengan segala laku dan pikiran kita.


Contoh nyata praktik mindfull adalah hidup di saat ini. Buddha mengajarkan kepada umatnya untuk hidup dalam kekinian (living in a present moment). Artinya, tidak larut dalam lamunan masa lalu dan tidak cemas dengan khayalan masa depan. Karena yang berlalu, sudah berlalu. Sementara yang belum datang, belum dapat dipastikan. Hiduplah kini dan di sini (here and now).

Okelah, saya harus ingetin blog ini bukan blog dakwah. Saya tidak sedang berkotbah. Saya cuman mau menjelaskan lebih lanjut konsep kini dan di sini dari sudut pandang saya.

Seberapa penting sih hidup dalam kekinian? Penting banget kalau menurut saya. Banyak orang yang punya masalah psikologis atau masalah-masalah lain terkait hidupnya biasanya bersumber dari masa lalu. Orang-orang yang punya fobia biasa karena mereka punya pengalaman kurang menyenangkan terhadap objek fobianya. Atau, orang-orang yang kurang percaya diri juga biasa dikarenakan ada pengalaman yang kurang enak di masa lalu (mungkin karena kerap mendapat verbal abuse, diremehkan, atau ditolak). Orang-orang seperti ini tanpa sadar membawa benih-benih masa lalu ke dalam memori sehingga membentuk diri dan perilaku mereka seperti saat ini. Sebagian dari mereka sadar dengan masa lalunya, apa yang mereka alami saat itu, tetapi mereka adalah orang-orang yang hmm... pakai istilah gaul, gagal move on. Mereka gagal beranjak dari masa lalu.

Lalu, orang yang terus mencemaskan masa depan juga bukan orang yang dibilang sehat. Kita belum tahu apa yang terjadi, eh tetapi kita sudah ketakutan duluan. Biasanya suka dialami pelajar yang mau menghadapi ujian nih. Bolak-balik mereka membuka halaman-halaman buku mereka bahkan di detik-detik ujian mau dimulai masih saja membaca catatan, karena mereka takut lupa atau takut bila soal itu susah. Padahal belum tentu sesusah yang dibayangkan. Orang-orang yang terlalu mengkhawatirkan apa yang terjadi bisa dibilang juga... gagal move on. Gagal melangkah menghadapi masa depan yang tak pasti.

Jadi, bagaimana seharusnya menghadapi hidup? Yang harus kita lakukan ya itu tadi... hidup dalam kekinian. Banyak orang yang terlalu sibuk memikirkan masa lalu atau masa depan sampai lupa apa yang sedang ia lakukan saat ini. Saat mereka terbangun dari lamunan dan khayalan itu (baca: tersadar), waktu telah berlalu begitu cepat. Lalu... nyesel.

Dalam bidang psikologi, ada terapi yang dikenal terapi Gestalt. Terapi ini meminta klien untuk melihat dan memahami apa yang sedang ia rasakan dan apa yang sedang ia pikirkan. Kemudian, terapis akan menuntun klien untuk dapat menangani masalahnya dengan penuh rasa tanggung jawab. Terapi Gestalt ini jelas mengandung pemikiran bahwa seseorang harus hidup dalam kekinian.

Terus, pertanyaannya: Jadi apakah boleh memikirkan masa lalu? Tentu saja boleh. Masa lalu adalah pelajaran. Soekarno pernah mengatakan jas merah yang berarti jangan sekali-kali melupakan sejarah. Keberadaan kita tak pernah lepas dari masa lalu. Setiap detik yang kita lewati sebetulnya sudah jadi masa lalu.

Apakah boleh memikirkan masa depan, semisal merencanakan karir? Tentu saja boleh. Bahkan, Buddha yang mengajarkan hidup dalam kekinian juga memperbolehkan manusia punya keinginan, seperti keinginan untuk hidup kaya atau terlahir di surga.

Hidup dalam kekinian bukan berarti tidak memikirkan masa lalu atau masa depan sama sekali. Hidup dalam kekinian bukan berarti juga hidup seperti tidak memiliki tujuan. Sebenarnya hidup dalam kekinian adalah hidup yang bertujuan.

Sebenarnya bagaimana sih menerapkan hidup di saat ini atau hidup di dalam kekinian? Caramya dengan menanyakan kepada diri sendiri, "Sedang apa aku sekarang?", "Apa yang harus aku lakukan ke depannya?", "Apa yang harus aku lakukan saat ini?" Kebanyakan orang tidak sadar dia telah menghabiskan waktunya dengan kegiatan tak berguna, seperti melamun dan berandai-andai.

Misal "Sedang apa aku sekarang? Aku sedang mengerjakan tugas sekolah/kuliah. Apa yang harus aku lakukan ke depannya? Aku harus mengerjakannya sampai tuntas. Jadi, apa yang harus aku lakukan saat ini? Aku mengerjakan tugas-tugas ini sekarang juga."

Atau, kasus lain. "Aku sedang patah hati, baru saja diputuskan pacar. Apa yang harus aku lakukan ke depannya? Aku ingin mengatasi kesedihan ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang untuk mengatasi kesedihan ini? Aku perlu menghubungi teman-temanku untuk bercerita. Jadi yang ku lakukan sekarang adalah mengambil ponsel dan menghubungi salah satu dari temanku."

Orang yang hidup di saat ini adalah orang yang jelas-jelas memiliki tujuan. Mereka sangat fokus dengan apa yang sedang mereka kerjakan.

Jangan biarkan pikiran disibukkan dengan hal-hal yang sudah berlalu atau pun hal-hal yang belum datang. Ibarat mau ke pantai seberang, celakanya tak bisa maju-maju. Rupanya karena kita masih belum melepas jangkar dari perahu kita. Atau, pas kita sudah menaiki perahu, tetapi lagi-lagi kok tak maju-maju. Rupanya karena kita selalu terbayang-bayang badai yang ada di depan. Orang yang tak bisa maju-maju ini bisa disebut... lagi galau. Jadi lakukan yang terbaik untuk saat ini.


1 Juni 2014

Ini Ceritaku dan Karyaku

Selamat datang bulan Juni 2014. Tidak seperti bulan Mei, bulan Juni 2014 adalah bulan yang tidak ada tanggal merahnya selain hari Minggu. Begitulah nasib para pekerja. Selalu mendambakan hari libur lebih dari Sabtu dan Minggu.

Belakangan ini saya mulai aktif meng-update blog. Kebanyakan isi blog ini lagi seputar tentang pengasuhan anak (parenting). Itu karena saya kerja di sebuah tempat les sehingga banyak bersinggungan dengan dunia anak dan dunia parenting. Saya mengamati orangtua zaman sekarang agak frustrasi dalam mendidik anak. Sebenarnya saya juga sih (maaf, ikutan curhat). Pertama-tama, pelajaran sekolah sekarang lebih susah. Mosok anak kelas 4 SD sudah harus belajar tentang tugas-tugas presiden, DPR, MPR, DPD, BPK, dan lain-lain. Kayaknya dulu saya enggak deh. Saya sendiri yang sekarang sudah sarjana saja tidak begitu menguasai masalah tata negara.

Lalu, perilaku anak sekarang pun (kebanyakan yang saya temui sih) lebih susah diatur. Hal yang memprihatinkan bagi saya selanjutnya: anak-anak sekarang seperti kebanyakan les/belajar. Bahkan, anak usia 3 tahun pun sudah dileskan atau disekolahkan. Apakah benar belajar sejak dini memberikan manfaat kepada anak, entah itu secara intelektual, gerak motorik, atau psikologis? Adakah yang bisa berikan tanggapan? Silakan jika ada...

Ya itu sekelumit tentang dunia yang sedang saya hadapi. Tulisan-tulisan seperti itu kelihatannya masih akan bertambah. By the way, blog saya memang agak sedikit random. Kadang isinya tentang curhat, kadang isinya tentang humor, kadang isinya tentang motivasi, dan macam-macam. Blog saya ibarat cap cai atau gado-gado kali ya. Hehe.

Blog ini memang tidak dikhususkan untuk berbicara satu topik. Blog ini memang dibuat untuk mendokumentasikan pikiran-pikiran saya. Saya senang berpikir dan senang menulis sejak dulu. Bahkan waktu kecil saya ingat saya sering mencoret-coret sesuatu di kertas, lalu habis itu saya buang. Hehe. Banyak ide/curahan hati yang sering muncul, terlintas begitu saja, biasanya sih paling sering muncul pas menjelang tidur. Sayang juga kalau ide-ide atau curahan-curahan itu tidak dituliskan. Oleh sebab itu, saya gak pernah pusing apakah blog ini dibaca atau enggak, dikomentari atau enggak. Syukur-syukur kalau ada yang diam-diam ngefans tulisan saya. Hehehe.... Blog ini sengaja dibuat hanya demi menyimpan buah pikiran atau buah perasaan saya. Amit-amit... barangkali saya amnesia suatu hari nanti. Blog ini bisa mengingatkan siapa saya, apa sepak terjang saya di kala dulu.

Blog ini bisa dibaca oleh siapa saja, jadinya saya gak akan menulis sesuatu yang sifatnya terlalu pribadi atau terlalu aib di sini. Yang lebih aib, lebih rahasia saya punya semacam catatan tersendiri yang gak boleh dibaca siapa pun...

Orang yang pandai melukis membuat lukisan. Orang yang pandai bermain alat musik membuat lagu. Setiap orang punya keahliannya masing-masing. Jadilah, saya sebagai orang yang pandai menulis membuat tulisan. Sebenarnya dibilang pandai, gak juga sih. Cuman daripada menggambar atau memainkan instrumen musik, ya kemampuan saya merangkai kalimat masih lebih baik lah.

Saya mau cerita sedikit mengenai apa yang terjadi di tahun 2013 yang mungkin belum sempat diceritakan. Sebagian besar kawan saya di Facebook sudah mengetahui saya telah menghasilkan satu karya yang telah dipublikasikan. Di tahun 2013 itu sebenarnya saya juga sudah menghasilkan sebuah novel komedi. Saya berikan hard copy novel komedi ini ke beberapa teman terdekat saya. Komentar dari mereka sih, katanya lucu dan menghibur. Iseng-iseng saja, saya mengajukan novel ini ke dua penerbit besar. Hasilnya saya mendapat surat cinta penolakan dari kedua penerbit itu. Haha. Saya sih gak sedih waktu mendapat surat cinta penolakan. Soalnya saya juga gak merasa itu novel yang bagus. Toh, Debbie (teman saya yang penulis betulan) yang saya daulat untuk baca memberikan komentar langsung di depan muka saya. Katanya, dia sama sekali gak dapat pesan setelah baca novel itu. Lalu novel itu garing, katanya. Bermaksud lucu tetapi gak lucu sama sekali. Tuh kan benar. Gak bagus. Tetapi dia menyemangati saya. Katanya, saya pasti bisa menulis lebih dari itu. Ya, Deb. Suatu hari, gue akan buktikan gue bisa menulis novel yang nantinya membuat lu terpukau.

Ah, bicara tentang membuat novel, yang saya idam-idamkan sejak dulu, kadang-kadang ya bikin saya sakit kepala juga. Meski ide besar sudah ada, tetapi meramunya menjadi matang... ah susah sekali. Passion oh passion. Mengejarnya bak mengejar bintang di langit.

Nah, di tahun 2013 itu saya juga sempat membukukan karya-karya saya ke dalam bentuk naskah yang dijilid. Ada dua. Saya beri judul 25 Karya Kumpulan Puisi dan 25 Karya Kumpulan Tulisan. Naskah itu saya berikan secara gratis ke beberapa teman terdekat saya sebagai hadiah pertemanan. Mengapa 25 karya? Itu untuk memperingati usia saya yang ke-25 di tahun 2013. Kalau lihat jumlahnya, wah... sudah banyak ya, tulisan-tulisan saya. Belum lagi tulisan di blog, tulisan di majalah kampus, dan tulisan di catatan pribadi tentunya.... banyak banget ya... Hahaha....

Sekarang saya mau ceritakan kesibukan saya. Sehabis lulus kuliah, ngapain saja? Kerja. Tapi, mosok kerja-kerja saja. Ya enggak lah. Sekarang saya lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca dan menonton film di internet. Untuk selingan, bermain game dan ngemil. Kalau hari Minggu, sesempat-sempatnya pergi ke tempat ibadah.

Bila orang-orang bertanya kepada saya, ngapain ke tempat ibadah? Masuk surga? Ah, enggak lah. Terlalu jauh. Gak kepikiran sampai ke sana. Dapat pahala? Ah itu kok tujuannya terdengar egois amat ya. Saya akan jawab begini: Untuk mengingatkan diri saya untuk selalu berbuat baik. Manusia gak pernah lepas dari kesalahan kan ya. Menurut saya, kita ke tempat ibadah untuk menyadarkan kita bahwa kita sebagai manusia seharusnya berbuat hal-hal yang baik, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Terus, kalau ada jodoh, saya akan pergi hangout dengan teman-teman saya. Tetapi, kalau enggak jodoh, ya sudah saya habiskan waktu saya sendirian dengan cuci mata ke mall terdekat. Kehidupan setelah lulus kuliah memang berbeda dengan kehdupan ketika kuliah.

Sekarang orang-orang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ada yang sibuk berbisnis, ada yang sibuk les bahasa, ada yang sibuk dengan anak-anaknya. Yang dulunya dekat, sekarang gak dekat lagi. Tetapi, biasanya akan ada sedikit orang yang masih dekat dengan kita.

Oh, saya mesti cerita, teman baik saya di Tangerang telah menikah Februari lalu dan dalam waktu dekat ini akan punya anak. Teman saya ini dari jomblo, putus... eh sekarang menikah dan bakalan jadi seorang Ibu. Kalau saya.... masih jomblo-jomblo saja. Haha...

Hidup ini memang berubah. Gak cuman saya, ya kamu juga berubah. Lalu mereka dan semuanya. Yang merasakan gak cuman saya, yang lain juga begitu. Nih saya temukan satu gambar menarik dari Path.


Kurang-lebih itu dulu yang saya bisa saya ceritakan. Besok hari Senin soalnya. Hehe... nantikan tulisan-tulisan saya berikutnya ya...

27 Mei 2014

Anakmu, Anakku, atau Anak Kita

Mungkin ada yang pernah (atau sering) mendengarkan pernyataan seperti ini di keluarga, "Mami... anakmu ini gak bisa bantu orangtua," keluh seorang ayah. Atau, kali ini giliran ibu yang berkata, "Papa... Anakmu itu lho... nonton TV terus kerjaanya," Yang saya tekankan di sini adalah kata anakmu.

Terdengar lucu ya, padahal anak itu adalah anak mereka. Anak hasil bikinan berdua. Kok, pakai kata anakmu? Harusnya kan anak kita. Hehe.

Secara alamiah, manusia memang paling senang menyalahkan orang lain. Jadi, ketika mengalami sebuah masalah, yang disalahkan ialah orang lain. Ketika anak bermasalah, lalu menuding adalah kesalahan itu adalah karena salah satu pihak, "Anakmu..." Coba kalau anak itu membanggakan, misalnya dapat juara kelas, maka yang dikatakan adalah, "Ini baru namanya anak Papa...", "Hebat nih anak Mama..." Tuh kan. Kalau yang bagus-bagus, diakui sebagai hasil jerih payah usahanya. Yang jelek-jelek, kasih ke orang lain saja. Hehehe.

"Anakmu" atau "anakku" bukanlah istilah yang tepat. Harusnya itu "anak kita". Mungkin terlalu berlebihan saya memperkarakan istilah "anakmu" dan "anakku". Yang ingin saya sorot di sini adalah saya sekadar mengingatkan bahwa anak adalah hasil buah cinta Ayah dan Ibu, dari soal fisik hingga soal perilaku. Baik-buruk anak adalah bentukan dari Ayah dan Ibunya. Tidak bisa menyalahkan salah satu pihak.

Masyarakat yang masih konvesional memang berpendirian Ayah adalah pencari nafkah sementara Ibu adalah pengurus rumah tangga dan pengasuh anak. Karena itu ada sentimen bila anak tidak bertumbuh kembang dengan baik, pastinya itu salah asuh Ibunya. Tidak mengherankan bila anak lebih dekat dengan Ibu daripada Ayah. Tetapi, apakah itu mengharuskan Ayah cuek-cuek saja dengan perkembangan perilaku anak, entah itu persoalannya di sekolah, persoalannya di rumah, maupun di tempat lain?

Namun di kehidupan modern sekarang menuntut Ibu juga harus menjadi pencari nafkah. Karena kehidupan keluarga zaman sekarang tidak cukup bila hanya mengandalkan pemasukan salah satu pihak. Nah, kalau kasus yang begini, siapakah yang harus terlibat dalam membesarkan dan merawat anak?

Pendapat saya, sebagaimana anak diciptakan karena kerja sama antara Ayah dan Ibu plus ditambah cinta, demikianlah membesarkan juga mendidik sang anak haruslah kerja sama antara Ayah dan Ibu.

Ayah, Ibu jangan menuding kesalahan kepada salah satu pihak bila itu terkait dengan anak. Marilah saling berkomunikasi lalu mengupayakan yang terbaik untuk anak.

24 Mei 2014

Sejenak Curhat

Aku tak pandai berkata-kata
Aku tak pandai mengungkapkan perasaan

Tapi,
Ketika kau berada di sebelahku
Atau berada jauh dariku sekalipun
Aku memperhatikanmu
Aku mendengarkanmu

Aku cuek ya, tapi aku peduli kok

17 Mei 2014

Kemandirian Itu Dipelajari

"Anak saya ini gak bisa mandiri..."

Tersenyum dalam hati saja saya mendengarnya. Lho, senyum dalam hati, maksudnya gimana toh? Hehehe. Karena saya bekerja di tempat les anak-anak, sedikit banyak saya mendengarkan curhatan atau keluhan orangtua. Salah satunya seperti bunyi kalimat di atas.

Mengapa saya senyum-senyum mendengarnya? Menurut saya, anak tak akan bisa mandiri jika ia tak pernah diajari untuk mandiri.

Adakah anak yang setelah ia lahir bisa cebok duburnya sendiri sehabis buang air besar? Tidak ada.
Adakah anak yang setelah ia lahir bisa makan sendiri tanpa disuapi? Tidak ada.
Adakah anak yang setelah ia lahir bisa berhitung, membaca, dan menulis? Tidak ada.

Dunia ini serba belajar. Anak bisa cebok sendiri sehabis buang air besar, makan sendiri, menyusun buku sendiri, sampai ia belajar tanpa perlu diteriaki dulu semuanya itu adalah pembelajaran. Tentu saja, ada pihak yang membantu mengajari anak itu untuk dapat seperti itu.

Kemandirian seperti halnya keahlian berhitung, membaca, menulis. Semuanya adalah proses belajar. Sayang sekali, kebanyakan orangtua agak menyepelekan hal ini. Mereka pikir mungkin belum saatnya anak saya untuk mandiri. Makanya, bisa-bisanya ada orangtua dengan sangat baik hati membawakan tas anaknya ke sekolah. Ya kalau sangat berat, mungkin masih dimaklumi. Ini tas isinya ringan dan anak bisa bawa dengan tenaga sendirinya, mengapa harus repot-repot dibawakan. Ada pula orangtua yang menyuapi anaknya ketika ia makan. Kalau bayi, masih wajarlah. Ini anak sudah besar, tangannya sudah bisa menggunakan sendok, mengapa juga masih disuapi. Terlalu baik terhadap anak bisa menjadi masalah tersendiri lho.

"Kamu sudah mau kelas enam. Sudah harus punya tanggung jawab", begitu teriak orangtua kepada anaknya. Dalam hati saya, iya sih, benar. Dia sudah mau kelas enam dan harusnya bertanggung jawab. Tetapi Bu, anak ini kan gak bisa bertanggung jawab dengan sendirinya kalau ia tidak pernah diusahakan untuk bertanggung jawab. Sama saja dengan kemandirian atau sifat-sifat lainnya. Anak tidak bisa paham kemandirian bila ia tidak pernah diajarkan demikian.

Anak itu makhluk egosentris seperti yang sudah saya bahas di beberapa postingan sebelumnya. Anak sedari kecil ketika ia masih bayi, apa-apa selalu disediakan, apa-apa selalu dibantu, kalau ada apa-apa selalu dilayani. Ketika ia sudah masuk usia sekolah, tiba-tiba saja ia harus mengerjakannya sendiri. Dia harus membawa tasnya sendiri, dia harus menyusun bukunya sendiri, dan lain sebagainya. Tentu ini menimbulkan rasa frustrasi tersendiri untuk anak.

Tetapi, kita sebagai orangtua tidak boleh menyerah hanya karena kasihan terhadap anak-anak kita. Kemandirian adalah bentuk kedewasaan. Kemandirian adalah bentuk pertahanan hidup. Orang pada satu momen tidak bisa terus-terus mengharapkan bantuan orang lain.

Jadi apa yang harus kita lakukan? Kita harus memberi kepercayaan kepada anak-anak kita untuk mengerjakan sesuatu dengan sendirinya. Dan kita harus sabar dengan amat-sangat mengamati proses kemandiriannya.

Misal, membiasakan anak menyusun buku-buku pelajarannya sendiri (termasuk alat tulis dan perlengkapan lainnya) untuk hari esok.
  • Kita beritahukan kepada anak bahwa inilah saatnya ia harus bertanggung jawab terhadap segala perlengkapan yang harus ia bawa untuk esok hari. 
  • Dia harus memeriksa sendiri buku-buku apa yang harus ia bawa termasuk alat tulis dan perlengkapan lainnya. Dia harus mencoba melakukannya sendiri. 
  • Mungkin awal-awal anak akan kebingungan dengan kewajibannya ini. Dia pasti tidak terbiasa. "Ah, malas," gerutu anak.
  • Jangan tegur dia terlalu keras. Katakan kepadanya bahwa kita sebagai orangtua akan membantunya, seperti membantunya mengambil dan mengeluarkan buku di dalam tasnya sembari meminta si anak juga tetap mengeceknya sendiri. 
  • Dalam proses inilah, kita harus sabar. Sabar itu maksudnya jangan cepat-cepat memarahi anak kala ia melakukan kesalahan, semacam ini "Salah, besok bawa buku mate, bukan buku Indonesia. Agendanya dicek dong!" Perkataan kayak begitu justru cuman membuat anak makin stres. Jika ada kesalahan, jangan langsung memarahinya apalagi dengan nada tinggi. Cukup katakan dengan nada lembut. Ingat, dalam proses belajar, pasti ada benar dan salah. Kebisaan muncul karena terbiasa.
  • Sesudah dua-tiga hari, barulah orangtua lepaskan bantuan dan biarkan ia melakukannya sendiri. 
  • Jika sesudah dilepaskan bantuannya, ia melakukan sebuah kesalahan (misal, salah membawa buku), katakanlah, mulai sekarang itu akan jadi kesalahannya. Dan bila ia dihukum guru karena kesalahannya sendiri, katakanlah bahwa ia harus dapat berlapang dada menerimanya.
Proses belajar menuntut kesabaran dan tidak pernah ada yang terjadi dalam waktu instan. Di sinilah letak keindahan dalam mendidik anak. Dari seorang bocah kecil yang tak bisa apa-apa dulunya, lalu ia bertumbuh kembang menjadi sosok yang luar biasa. Bukankah itu sangat membanggakan? Mengapa tidak kita mencoba mendidik anak kita menjadi demikian?

Susah? Tidak pernah susah selama kita mau terus berusaha dan bersabar. 

Daripada mengisi hari-hari anak dengan kata-kata, "kamu SELALU saja SALAH.... kamu TIDAK BISA apa-apa," dan kata-kata "menghukum" lainnya yang hanya membuat anak tidak percaya diri; daripada mengisi hari-hari anak dengan manjaan yang hanya membuat anak-anak menjadi egois dan selalu minta diperhatikan... bukankah lebih baik mendidik anak dengan dukungan, motivasi, dan apresiasi, serta ketegasan.

13 Mei 2014

Sepuluh Pelajaran Berharga di Usia 20-an

Pas di tempat kerja, iseng-iseng browsing internet, saya menemukan artikel yang menarik dan menginspirasi. Judulnya 10 Pelajaran Hidup Berharga di Usia 20-an yang saya baca dari vemale.com. Situs vemale.com memang lebih banyak membahas tentang dunia wanita. Begitu juga artikel yang saya baca itu memang lebih untuk wanita, tetapi para pria juga bisa mengambil pesan-pesannya.

Berikut intisari dari sepuluh pelajaran berharga tersebut. Tulisan di dalam kurung yang saya cetak miring adalah kata-kata tambahan dari saya.

  1. Anda bukanlah kegagalan atau perasaan terbuang yang Anda miliki. Pria (atau orang yang Anda cintai) di sana yang tidak mencintai Anda, pekerjaan (terutama pekerjaan impian atau melamar ke perusahaan impian) yang tidak berhasil Anda dapatkan, sekolah yang tidak berhasil Anda lalui tesnya. Kegagalan bukanlah hal yang mendefinisikan bagaimana kehidupan Anda kok. Justru saat satu pintu tertutup, Anda punya 1.000 pintu lain yang menunggu untuk dibuka.
  2. Membuang orang-orang yang mendorong Anda untuk membenci diri Anda adalah hal yang sulit. Tapi Anda perlu melakukannya. Barangkali rasa sesal pernah menyusup dalam diri Anda saat melakukannya, but you will ultimately rejoice in a toxic-free life.
  3. Milikilah keberanian untuk menjadi diri Anda sendiri, kapan pun (dan di mana pun)
  4. Tunjukkan cinta Anda kepada orang-orang di sekitar, terutama orang tua Anda. Sementara Anda semakin sibuk dengan pencapaian-pencapaian diri, orang tua Anda juga semakin menua. Sempatkan waktu berbincang dengan mereka setiap hari, don't waste the moment (duh... benar banget nih).
  5. Ketahuilah kapan Anda harus marah, harus terus berusaha, dan kapan harus berhenti.
  6. Setiap orang punya kisah dan jalan hidupnya sendiri, jadi jangan membandingkan diri Anda dengan kisah hidup orang lain. Respect yourself.
  7. Tuhan akan "berbicara" pada Anda melalui orang lain, mimpi-mimpinya, pengalaman hidupnya, bahkan lagu yang dinyanyikan oleh orang lain kepada Anda. So, listen it. (lagu-lagu galau itu sama sekali tidak membunuh kok...)
  8. Tidak ada kata terlambat untuk berubah dan bertumbuh.
  9. Belajar memaafkan, memaafkan diri sendiri, dan orang lain.
  10. Anda memang harus memaafkan orang lain yang menyakiti hati Anda, tetapi memberikan mereka kesempatan kedua untuk hadir kembali ke kehidupan Anda adalah pilihan. So, you decide :)

11 Mei 2014

Mendisiplinkan Anak

Mendisiplinkan anak itu gampang-gampang susah. Gampang sebetulnya asal ada kemauan. Tetapi susahnya itu suka berbenturan dengan hati nurani. Wajarlah orangtua selalu ingin yang terbaik untuk anak, termasuk menjadi orangtua yang baik. Tetapi kadang perlakuan baiknya suka berlebihan (baca ini).

"Anak itu tidak boleh dikerasin, anak tidak boleh digalakkin, anak tidak boleh dihukum". Semuanya itu menurut saya salah besar. Perilaku anak haruslah dibentuk dan dikendalikan. Anak tidak paham mana yang benar, mana yang salah ketika ia lahir. Ia hanya bertingkah laku sesuai dorongan-dorongan yang ada di dalam dirinya. Bahasa kasarnya, ia bertindak sesuai dengan nalurinya. Kedisiplinan bertujuan supaya anak dapat berperilaku yang tepat sesuai dengan waktu dan keadaan. Sebagai contoh, anak tahu kapan waktu belajar, kapan waktu bermain. Ketika waktunya belajar, ia akan belajar. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Hal-hal seperti ini dibentuk melalui kedisplinan. Kedisiplinan juga bertujuan membangun karakter dan perilaku yang baik pada diri anak. Tanpa kedisiplinan, anak akan menjadi liar dan berperilaku sesuka-sukanya.

Kedisiplinan bukan berarti hukuman. Kedisplinan justru adalah ketegasan. Ketegasan inilah yang sayangnya dilupakan oleh banyak orangtua. Bagaimana cara menerapkan ketegasan? Menurut saya caranya adalah penegakkan aturan yang jelas dan konsistensi dalam menerapkannya.

Menghadapi Rengekan Anak

Anak seringkali merengek-rengek dan kadangkala orangtua pusing menghadapinya. Saya beri contoh kasus sebagai berikut:

Anak: Ma, pergi ke mall.
Mama: Enggak. Minggu lalu sudah pergi. Hari ini di rumah dulu. Belajar.
Anak: Pengen pergi... pengen pergi! (merengek-rengek sambil menangis)
Pilihan apa yang Anda ambil ketika anak sudah merengek-rengek bahkan sambil mengamuk?

A: Ya sudah, nanti pergi, tetapi cuman sebentar saja.
B: Sekali Mama bilang enggak tetap enggak. Hari ini kamu belajar.
Kalau Anda orangtua tegas dan tahu yang terbaik untuk anak, Anda akan pilih yang B.

Pilihan A hanya membuat anak belajar sesuatu: "Dengan merengek lalu menangis atau mengamuk, aku bisa membuat Mama mengubah keputusannya."

Pilihan B membuat anak belajar:  "Meski aku merengek, menangis, dan melakukan berbagai macam cara, Mama tidak mengubah keputusannya."

Orangtua tidak boleh dengan mengubah keputusan awal atau mengabulkan permintaan anak hanya karena ia menangis atau melakukan perilaku-perilaku sulit lainnya (membanting-banting barang, marah-marah, dan sebagainya). Di sinilah letak ketegasan orangtua, yaitu konsisten dengan kata-katanya sendiri apa pun perilaku sulit yang ditunjukkan anak.

Di sinilah ketegasan orangtua juga dipertaruhkan, apakah mau mengalah dengan permintaan anak atau tetap teguh pada pendirian? Banyak orangtua yang tidak tahan dengan rengekan anak sehingga memilih mengalah. Pada akhirnya itu hanya menjadi bumerang bagi orangtua. Anak akan belajar menggunakan jurus rengekan ketika permintaannya tidak dikabulkan. Padahal kalau orangtua berani teguh dengan pendiriannya, percayalah rengekan anak akan hilang dengan sendirinya di kemudian hari. Dia akan belajar bahwasanya merengek tiada gunanya ketika orangtua sudah mengatakan TIDAK pada permintaannya. Ketika orangtua sudah bilang TIDAK, seratus persen tidak dan tak ada keputusan lainnya.

Pembiasaan vs Pembiaran

Perilaku itu dibentuk secara berulang-ulang melalui pembiasaan. Saya beri contoh kasus sebagai berikut:

Mama: Nak, habis main, rapikan mainanmu sendiri.
Anak: Ah, capek.

Dalam situasi seperti ini, pilihan apa yang sebaiknya diambil?

A: Duh, udah dibilang berkali-kali enggak ngerti juga (sambil ngomong demikian, sambil si Mama merapikan mainan anaknya).
B: Rapiin mainanmu segera. Kalau dalam 10 menit, Mama lihat mainannya gak rapi. Mainannya Mama buang saja!
Jika Anda memilih pilihan A, anak akan belajar: "Perintah Mama cuman gertak sambal, Mama kan baik. Mama selalu membantu aku."

Bagaimana jadinya jika sudah memilih B, berteriak dengan nada tinggi disertai ancaman, tetap anak tidak mau merapikan mainannya? Di sinilah kembali letak ketegasan orangtua dipertaruhkan, apa mau konsisten dengan kata-kata yang diucapkan?

Kalau Anda sudah mengancamnya akan membuang mainannya, tetapi tidak dilakukan (karena kasihan atau pertimbangan lainnya), ya percuma saja. Pada akhirnya, akan kembali lagi ke pilihan A. Anak akan belajar bahwa Mama cuman bisa ngomong saja, tetapi tidak berani berbuat lebih jauh.

Jika Anda sudah mengancamnya dalam 10 menit, dia tidak merapikan mainannya sendiri, ya Anda harus konsisten dengan apa yang Anda harus lakukan, yaitu membuang mainannya. Dengan demikian, anak akan belajar bahwa ada konsekuensi yang harus ia tanggung ketika ia bertingkah laku tidak sesuai dengan harapan orangtua. Anak akan belajar: "Kalau aku tidak merapikan mainanku segera, mainanku akan dibuang." Selain itu, anak akan belajar bahwa orangtua tidak main-main dengan ancaman dan hukuamnnya.

Dan hal ini harus dilakukan konsisten terus-menerus. Kala Anda menemui kasus semacam ini, Anda harus melakukan yang serupa, sehingga anak belajar untuk terbiasa merapikan mainannya sendiri.

Oleh karena itu, kedisiplinan adalah pembiasaan, bukan pembiaran. Untuk berperilaku baik, anak harus dibiasakan. Tetapi, terlebih dahulu orangtua harus terbiasa menerapkan aturan dan hukuman. Kita tidak boleh memaklumi perilaku anak yang seharusnya tidak perlu dimaklumi. Kita tidak boleh begitu saja membiarkan perilaku buruk anak, karena itu akan menjadi awal yang tidak baik untuk perkembangan anak untuk di kemudian hari.

Jika anak Anda protes dengan hukuman Anda, katakan saja, "Mama kan sudah memperingatkan..." Berikan penjelasan bahwa Anda sudah memperingatinya. Hal ini menunjukkan bahwa Anda sebagai orangtua sebetulnya memberikan kesempatan bagi anak untuk berubah. Namun, anak tidak mematuhinya sehingga ia harus menanggung konsekuensinya. Mungkin anak tidak akan senang dengan hukuman Anda, tetapi yakinilah bahwa Anda melakukan hal ini demi kebaikan anak Anda di masa yang akan datang.

Sumber: familyfrugalfun.com