Page

15 Februari 2014

Sepotong Cerita Cinta di 14 Februari

Ada satu tanggal di bulan Februari membuat orang sibuk mengumbar cinta dengan berbagai macam cara. Tanggal 14 Februari, sejumlah orang menyebutnya Hari Valentine. Hari Valentine bukan hari nasional tetapi dirayakan secara nasional. Tanggal penting bagi sebagian orang yang sudah punya pasangan. Cokelat, bunga, kencan adalah aktivitas yang lazim dilakukan. Lalu, sebagian orang mengecamnya, bahwasanya jangan hanya mengungkap cinta kepada pasangan. Ingatlah juga memberikan tanda sayang kepada orangtuamu, saudaramu, temanmu. Sebagian orang lainnya lagi dengan tegas mengatakan Hari Valentine tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia, jadi tak pantas dirayakan.

Meski ada pro kontra, Hari Valentine belum dicekal di Indonesia. Untunglah. Saya sendiri menganggap Hari Valentine hari biasa-biasa saja. Sampai kini, entah dikarenakan belum punya pasangan, saya tak pernah sibuk membeli cokelat atau bunga untuk diberikan kepada siapa pun. Meski begitu, saya tetap mendapat cokelat dari cewek. Yaa... cokelat persahabatan sih. Haha. Di tahun ini pun saya tetap mendapat cokelat dari teman kerja saya, bahkan murid-murid saya.

Jauh dari ibu kota, ada bencana menyertai Hari Valentine tahun ini. Gunung Kelud di Jawa Timur meletus di tanggal 13 Februari 2014. Sampai hari ini abu vulkanik tersebar ke mana-mana (di antaranya ke kota Jogja, Solo, Madiun, Kediri), menutupi jalan hingga menghentikan penerbangan. Bahkan, abu vulkaniknya sampai melawat ke Bandung dan Bogor. Hari Valentine 2014 bolehlah dijadikan momentum berbagi rasa kemanusiaan kepada mereka yang tertimpa bencana Gunung Kelud. Mari berdoa semoga tidak ada petaka lain yang melanda negeri ini.

Walau saya tidak merayakan Hari Valentine secara spesial, di tanggal 14 Februari saya mendapat undangan ngumpul-ngumpul dari salah satu teman kampus saya. Undangan ngumpul-ngumpul-nya tidak berkaitan dengan Hari Valentine sih. Tetapi, menjadi spesial karena ajang ngumpul-ngumpul terakhir untuknya dengan status lajang. Minggu depan statusnya akan berubah.

Keputusannya untuk menikah mengejutkan banyak orang. Namun, sebagai sahabat, saya mendukung penuh keputusan dan kehidupan yang dia jalani. Melihat satu per satu teman saya telah atau akan melenggang ke altar pernikahan... Ah, saya malas bertanya, "Kapan giliran saya?"

Yang bisa saya katakan, kehidupan di sekitar saya semakin dewasa.

Kartu undangan pernikahan

31 Desember 2013

Napak Tilas 2013

Tahun 2013 ada hal yang menyenangkan dan ada hal yang menyedihkan. Sebenarnya sih itu wajar saja. Karena hidup bagai naik rollercoaster. Kadang di puncak, kadang di lembah.

Secara singkat ada beberapa kejadian menarik yang saya alami di tahun 2013. Pertama, dibuka dengan musibah banjir yang melanda di Jakarta pertengahan bulan Januari. Rumah saya di daerah Pluit hanya terendam air sehari saja. Tetapi, wilayah perumahan Pluit yang lain terendam selama seminggu dan langusng berubah menjadi danau.

Bagi yang ingat dengan peristiwa banjir ini, banjir Pluit menjadi headline di berita-berita, sampai Pak Jokowi, Pak Ahok, Pak Jusuf Kalla, Kapolri turun tangan ke wilayah Pluit untuk membantu korban banjir. Jarang-jarang ya, pejabat-pejabat penting mengunjungi kawasan paling utara Jakarta yang mayoritas penduduknya beretnis Tionghoa. Peristiwa banjir ini segera ditanggapi oleh Pak Jokowi dengan pengerukan sungai di Pakin dan penggusuran perumahan liar di waduk Pluit yang sempat kontroversial. Mari kita berdoa, semoga tindakan cepat Pak Jokowi benar-benar berhasil menghalangi banjir kembali datang ke wilayah Pluit.

Setelah peristiwa banjir, saya mencoba mencari pekerjaan baru. Ada jeda yang cukup lama dari Januari sampai dengan Juni, artinya enam bulan menganggur. Rupanya benar, kata teman kerja saya di Hard Rock Cafe Jakarta, "Bekerja itu tidak enak. Tetapi, lebih tidak enak lagi mencari pekerjaan." Well, sebenarnya saya sempat mendapat tawaran dan diterima di beberapa tempat, namun saya tolak karena idealisme saya. Setelah kejadian ini, saya sadar bahwa hidup tidak bisa mengandalkan idealisme semata.

Apa yang saya lakukan di masa pengangguran? Saya mencoba melanjutkan novel pertama saya yang sempat dibuat di tahun 2007, lalu berhenti di tengah jalan. Novel ini selesai di bulan April, sempat dibaca oleh beberapa orang dan mendapat komentar yang beragam. Ada yang bilang kocak, ada yang bilang jayus. Ini novel komedi soalnya sih. Sayang sekali, novel ini ditolak oleh sebuah penerbit besar. Meski tidak berekspetasi besar, ada sebersit harapan novel ini bisa terbit dan dibaca banyak orang.

Setelah menyelesaikan novel pertama saya, secara tidak sengaja saya mendapatkan "berkah" untuk dapat menerbitkan buku tentang SPSS yang ditulis oleh teman saya. Sebuah ide iseng yang akhirnya mewujudkan salah satu mimpi saya: jadi penulis buku.

Selanjutnya, saya mengambil kursus di Hellomotion Academy dan mempelajari seni merekayasa gambar dengan Adobe Photoshop dan Adobe Illustrator. Ilmu memanipulasi gambar ini rupanya menarik sekali. Susah-susah gampang sebetulnya. Saya cukup menikmatinya dan saya masih berniat mengasah kemampuan saya dalam bidang ini. Saya berandai-andai mungkinkah saya akan bekerja di bidang desain? Kayaknya saya lebih cocok dengan bidang ini deh.

Barulah di bulan Juli, saya mulai bekerja di Kidtozz, sebuah bisnis bimbingan belajar yang dibangun oleh sahabat kampus saya, Natalia. Pekerjaan sehari-hari saya terbilang ringan, tetapi menghadapi anak-anak di sana perlu mental yang tangguh. Beneran lho. Ini serius.

Mengajar itu melelahkan, tetapi lebih sulit mendidik anak. Karena itu, saya salut dengan mereka yang ingin menikah cepat apalagi memiliki anak. Saya katakan terus terang, mengasuh anak itu tidak semudah yang dibayangkan. Wajah anak-anak memang lucu. Kepolosan mereka, tingkah laku mereka memang bisa membuat orang dewasa tertawa. Namun, ingatlah anak-anak lucu ini adalah penerus bangsa. Di tangan para orangtua lah, ada tanggung jawab membangun anak-anak itu menjadi generasi yang tangguh, tidak mudah menyerah, dan punya pola pikir untuk membangun negeri ini, bukan malah menjadi generasi yang hanya pintar memanfaatkan teknologi (baca: main game di tablet), jalan-jalan ke mall (baca: konsumtif), atau harus menunggu uluran tangan orang ketika ada masalah (baca: manja/tidak mandiri). Oleh karena itu, pekerjaan menjadi orangtua adalah pekerjaan seumur hidup dan sayangnya, tidak ada kursus bagaimana menjadi orangtua yang baik dan bijak.

Di bulan Agustus, saya mengalami nasib naas. Jatuh dari sepeda motor dua kali. Sudah dari SMA kelas 3, saya bisa menaiki motor, pernah beberapa kali jatuh tetapi tidak sampai berdarah. Kali ini 2013, saya mengalaminya. Pertama, jatuh dari motor karena menghindari kucing hitam. Dua minggu setelahnya (setelah luka pertama sudah membaik) jatuh lagi karena menghindari tabrakan dengan sebuah mobil yang muncul tiba-tiba dari samping. Jatuh yang kedua ini menghasilkan luka bakar. Cerita tentang jatuh belum selesai sampai di sini... nanti akan berlanjut.

Lalu di bulan November, saya menerima luka yang lain. Lukanya bukan di kaki atau tangan, melainkan luka di hati. Baru kali ini saya "dicampakkan" oleh seseorang setelah banyak hal yang saya lakukan untuknya. Dua jam menunggu hanya untuk dua menit ditinggalkan tanpa banyak kata-kata. Perpisahan macam apa itu.

Untuk seseorang yang jauh di sana, perpisahan semacam itu bukanlah perpisahan yang aku inginkan. Ibarat bos ingin memecat karyawannya, dia harus memanggil karyawan itu ke ruangannya dulu dan baru memberitakan pemecatan. Itu baru namanya profesional. Perpisahan yang elegan. Tetapi, mungkinkah aku terlalu naif saat itu, mengharapkan sesuatu yang indah-indah. Mungkin salahku karena memaksamu menemuiku yang sebenarnya tak kau harapkan. Jika benar itu salahku pada saat itu, maafkan aku...

Tentang pemberian darimu yang kukembalikan, untuk kali kedua maafkan aku... Sebenarnya mudah bagiku menerimanya jika saja... Coba jadi aku. Apakah kamu bisa menyimpan benda-benda dari orang yang sudah membuatmu sakit hati? Lagipula, barang itu kan aslinya milikmu, bukan milikku. Adalah wajar jika dikembalikan ke pemiliknya saja.

Sebenarnya aku tidak suka mengakhiri hubungan ini, tetapi aku juga tidak bisa menjalin hubungan dengan orang yang tidak bisa memahamiku. Yang ketika banyak maunya, seakan peduli dengan orang lain. Ketika maunya terpenuhi, hilang kepedulian. Semoga hanya aku yang pernah mengalami hal ini karenamu. Yang bersedih itu pastinya aku, tetapi jangan mengasihaniku. Aku tahu bagaimana cara mengatasi perasaanku. Abaikanlah aku. Nikmatilah hidupmu.

Kejadian yang tidak menyenangkan di bulan November terhapus oleh satu kejadian yang menyenangkan. Masih di bulan yang sama aku merayakan ulang tahun bersama teman-temanku. Senang sekali bisa seharian berbicara banyak hal dengan teman-teman kampus. Mereka adalah sedikit orang yang bisa mendengarkan, tetapi tidak menghakimi. Justru, mendengarkan lalu memahami. Kualitas pertemanan seperti itu yang selalu kudambakan, untuk orang yang pernah mengalami krisis kepercayaan diri seperti saya.

Di suatu malam bulan Desember, ketika perjalanan pulang ke rumah diiringi dengan hujan gerimis, mendadak motor saya tergelincir (berarti ini jatuh yang ketiga). Meski tidak memberikan luka yang parah kali ini, jatuh yang nomor tiga ini membawa sedikit trauma. Kepercayaan diri saya mengendarai motor menurun. Saya jadi lebih hati-hati dan agak cemas dalam bersepeda motor. Sampai sekarang ini, saya masih mencoba untuk mulai merelaksasikan kondisi pikiran saya dalam mengendarai motor.

Masih di bulan Desember, saya sudah menempati rumah baru. Meninggalkan sebuah rumah yang telah saya tempati selama 25 tahun. Mama saya selalu bilang, usia rumah itu tidak jauh beda dengan usia saya. "Pas lu baru lahir beberapa bulan, kita pindah ke rumah itu," cerita Mama.

Rumah yang baru ini bukan rumah milik pribadi, tetapi rumah kontrak. Untuk masalah perpindahan tempat tinggal ini ada banyak konflik terjadi yang tidak enak untuk diceritakan di sini. Berarti status tempat tinggal saya masih nomaden alias tidak tetap.

Kata orang, rumah mempengaruhi aspek hoki seseorang. Saya sendiri tidak terlalu mempercayai feng shui. Tetapi, bicara soal hoki tidak hoki, ya saya tentu mengharapkan hoki di tahun baru 2014. Saya bukan orang yang senang buat target macam-macam. Saya hanya ingin menjalani hidup tanpa perlu banyak penyesalan dan ketakutan. Semoga yang terbaik menghampiri hidup saya. Bila yang terburuk datang, semoga bisa cepat-cepat jauh dari hidup saya. Akhir kata, mari sambut tahun 2014 dengan suka cita.

29 September 2013

Arti Sebuah Harga Diri

Saya kutip sebuah cerita dari yang di-share oleh seorang romo di Facebook-nya. Ceritanya sangat bagus.

Seorang biksu dengan pakaian dekil datang memohon sumbangan ke rumah seorang saudagar kaya. Saudagar kaya itu merasa sebal dengan penampilan si biksu dan mengusirnya pergi dengan kata-kata kasar.

Beberapa hari kemudian seorang biksu besar datang dengan jubah keagamaan yang mewah dan berkilauan, memohon sedekah ke saudagar kaya tersebut. Si saudagar kaya segera menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan makanan (vegetarian tentunya) mewah untuk si biksu. Lalu ia mengajak si biksu untuk menikmati makanannya.

Si biksu meninggalkan jubah keagamaannya yang mewah, melipatnya dengan rapi dan meletakkannya di atas kursi meja makan. Katanya, "kemarin AKU datang dengan pakaian usang dan anda mengusirku. Hari ini AKU datang dengan pakaian mewah, dan anda menjamuku. Tentunya makanan ini bukan untukKu tapi untuk jubah ini". Setelah berkata demikian si biksu tersebut berlalu, meninggalkan si saudagar yang kaget.

Lantas biksu itu menyimpulkan:
"Kalau ternyata bukan diriKu,
melainkan pakaianKu yang dihormati,
mengapa AKU mesti senang?"
"Dan, kalau ternyata bukan diriKu,
melainkan apa yang Kupakai yg dihina,
mengapa AKU mesti sedih?"

Demikianlah manusia, lebih sering menghormati yang melekat pada diri orang,seperti:
- apa yang dipakai atau pakaian yang dipakai atau
- kekayaan atau
- jabatan seseorang.

BUKAN PRIBADI keberadaan orang itu sendiri

Maka...
Jika engkau dihormati orang,
jangan bangga diri...
 

Dan kalau pun jika engkau tidak dihormati,
jangan kecewa dan bersedih diri,
sebab....
Engkau tetap sebuah harga.

Siapa pun yang merendahkan kamu saat ini... Jangan membuat kamu runtuh
 

Cerita di atas mengingatkan saya tentang uang yang jatuh ke got. Katakanlah nominalnya seratus ribu. Jatuh ke got yang sangat kotor. Anda mau ambil? Tidak mau? Lah, tetapi itu uang seratus ribu lho. Biarpun kotor dan dekil, ketika dipakai untuk bertransaksi, harganya tetap seratus ribu. Tak kan kurang. Masalah kotor, tinggal dicuci saja. Beres toh, repot amat.

Pada dasarnya semua manusia itu harganya tidak ada. Tidak ada bukan berarti tidak berharga sama sekali. Waktu seseorang lahir, kan tak ada yang melabeli, "oh ini manusia harganya sejuta, satu miliar." 

Sumber gambar: intentblog.com
Yang menentukan harga diri ini adalah diri sendiri. Anda mau hargai diri Anda berapa? Susahnya ketika orang-orang menentukan harga dirinya dengan apa yang dipakai dan apa yang dimiliki, termasuk penilaian orang (wah, kamu hebat, kamu cantik, kamu ganteng, kamu kaya, dsb).  

Keberhargaan diri manusia memang seringkali mengacu apa yang dipakai dan apa yang dimiliki. Banyak orang mengejar kemewahan: membeli gadget mahal, rumah besar, pakaian bagus. Sebagian lainnya mengejar pendidikan atau jabatan yang tinggi. Kesemuanya hanya untuk menambah keberhargaan diri ini. Namun, jangan sampai itu membuat kita angkuh atau terlena. Karena apabila itu semua hilang, habislah kita.

Jangan biarkan apa yang ada di luar menghancurkan kita. Lebih konyolnya, bila kita menghancurkan diri kita sendiri. Jadilah manusia yang berharga!

27 September 2013

Buku Pertama

Saya sering mengidam-idamkan membuat sebuah novel (buku fiksi), malah yang terjadi, saya lebih dulu menerbitkan buku nonfiksi, yang berjudul "Mahir Menggunakan SPSS Secara Otodidak". Saya tulis buku ini bersama sahabat kampus saya yang sekarang menetap di Karawang, Yonathan Natanael.



Perjalanan menulis buku ini terbilang unik. Awalnya tidak ada hasrat mengajukan buku ke penerbit, apalagi berangan-angan agar buku ini diterbitkan di penerbit PT Elex Media Komputindo. Ya, sama sekali tidak ada tujuan ke arah sana. Buku ini sebelumnya dibuat dalam versi yang terbilang "berani", yaitu Gaul dengan SPSS. Menuliskan buku tutorial dalam bahasa gaul. Haha. Sebuah ide yang aneh. Sebagian orang pun sudah pernah membaca tulisan awal itu.

Iseng-iseng, saya mengajukan "Gaul dengan SPSS" ini ke PT Elex Media Komputindo dan tentu saja hasilnya ditolak untuk diterbitkan. Tetapi, yang kemudian terjadi adalah kami ditawari membuat buku dengan judul baru. Itulah buku yang sekarang dijual di toko-toko buku.

Saya senang sekali melihat karya saya sendiri bisa dipegang dan dilihat oleh banyak orang. Cita-cita saya sejak dulu menjadi penulis kini telah terwujud. Tapi, ini hanya langkah awal. Karena masih banyak ide di kepala saya untuk dapat diwujudkan menjadi kenyataan, dan saya mau berkarya lebih banyak lagi.

15 September 2013

Kerja Keras

Kalau menyimak komentar teman-teman saya dulu, sepertinya saya ini dianggap sebagai orang yang cerdas. Tetapi, kalau diingat-ingat sewaktu saya SD dulu, saya pernah dapat ranking 1 baik di rapor bulanan maupun di rapor caturwulan. Perlu saya kasih tahu, semasa saya SD, saya tidak pernah les. Jadi, saya belajar sendiri. Untuk kategori orang yang tidak les, bisa ranking 1, luar biasa bukan? Dan itu terjadi pas kelas 4 SD, yang merupakan masa-masa jaya saya. Artinya, memang bawaannya saya pintar ya. Hehe.

Karena dapat ranking 1, saya menjadi sorotan. Dikagumi para guru dan teman (Hmmm.... sepertinya sih gitu :D). Ketika naik kelas 6 SD, terjadi penurunan nilai. Rasanya semenjak saat itu, saya tidak pernah mencicipi ranking 1, boro-boro dapat 3 besar. Lalu, masuk SMP, SMA, saya cuman jadi medioker.

Lanjut ke masa kuliah, saya menjadi sorotan lagi. Dikagumi para dosen, junior, dan teman seangkatan (Kayaknya sih, gitu ya :D). Saya punya nilai IPK yang memuaskan sampai kemudian berakhir menjadi lulusan terbaik di wisuda. Beberapa teman kampus saya mungkin iri dengan kepintaran saya (lagi-lagi sepertinya gitu ya). Ada teman kampus saya yang berkata jujur, dia iri dengan kepintaran saya, "Aduh, rasanya pengen deh punya otak pintar kayak lu."

Saya cuman menanggapi santai pernyataan lucu itu. Saya hanya menjawab, "Rasanya gue juga mau bisa pintar main musik kayak lu." Kebetulan teman saya yang bertanya ini piawai dalam memainkan instrumen musik.

Sebenarnya mudah sekali untuk punya otak pintar. "Belajarlah dengan tekun, hai kawan. Maka, kamu akan punya otak pintar sepertiku."

Banyak orang yang mengabaikan apa itu kerja keras. Saya percaya tidak ada instan di dunia ini. Semua butuh proses. Bahkan, memasak mie instan juga perlu proses. Orang-orang pintar semacam saya, janganlah beranggapan saya belajar hanya menghabiskan hitungan menit apalagi ditambah dengan keluhan-keluhan.

Segala sesuatu yang berhasil selalu diawali dengan sikap mau berhasil. Jadi, ketika kuliah dimulai, saya datang tidak terlambat apalagi pakai acara bolos. Saya menahan diri untuk mengobrol dengan teman sebelah, membuka handphone, dan mencoba mencatat atau mencerna sebanyak mungkin omongan dosen. Mengerjakan tugas kuliah pun dengan sungguh-sungguh. Tidak menyontek dan tidak seadanya. Yang penting tugas kumpul, nilai nomor sekian... ah... gak begitu cara pikir saya.

Ketika ujian, saya menghabiskan waktu belajar lebih lama, berjam-jam. Ada juga yang berhari-hari, artinya saya menyicil bahan dari hari-hari sebelumnya. Untuk istilah yang tidak saya mengerti, saya mencari tahu baik lewat Mr. Google atau membaca buku. Saya benar-benar fokus.

Buku-buku kuliah itu kebanyakan menggunakan bahasa Inggris. Orang-orang mengeluh pusing membaca buku bahasa Inggris. Tapi, saya tidak mau mengeluh. Istilah-istilah yang tidak saya mengerti, saya cari di kamus. Kadang-kadang saya baca berkali-kali sampai saya mengerti. Ada juga yang tidak saya mengerti, terus saya kira-kira sendiri saja artinya. Hehe.

Belajar lebih keras, belajar lebih lama, bukan artinya saya tidur jadi lebih sedikit. Salah besar. Saya juga tidur lebih lama kok. Apalagi saya ini yang tipenya suka bangun siang. Makanya, kuliah pagi-pagi saya sering ngantuk. Hehehe. Banyak orang belajar gila-gilaan. Bahan segepok dipelajari seharian penuh. Ya salah besarlah. Memang otak manusia itu robot, tidak butuh istirahat. Kerja keras itu benar. Tetapi, harus dipahami bahwa kita harus bekerja dengan cerdas pula.

Untuk soal ujian yang nantinya berbentuk Pilihan Ganda tentu punya strategi belajar yang berbeda untuk soal ujian yang berbentuk Esai. Kepandaian tidak datang dari soal besar usaha, tetapi juga menyangkut kecerdikan dalam mencari jalan keluar. Ketika satu cara tidak berhasil, segera cari cara baru. Begitulah. Jadi, orang yang pintar dengan orang yang bekerja keras itu saling berhubungan, bukan?

Untuk mencapai hasil yang lebih baik, sudah barang tentu ada pengorbanan yang setimpal. Saya yakin kepandaian teman saya itu dalam memainkan alat musik pasti juga lahir dari kerja keras. Andaikan ia juga menerapkan cara yang sama dalam belajar di dunia kuliah. Atau minimal ia mau meningkatkan sedikit kadar usahanya itu. Ahhh... Andai saja ya...

Seringkali kita mendengar istilah, "Semua indah pada waktunya." Ya, saya percaya semua akan indah... tetapi saya lebih percaya yang indah-indah itu baru bisa terjadi bila diusahakan. Semua indah pada waktunya bila kita mau bekerja keras.

26 Agustus 2013

Insomnia


Beberapa minggu yang lalu saya membantu mengetik hasil wawancara penelitian teman saya yang bertajuk insomnia. Mendengar percakapannya dengan pengidap insomnia membuat saya terkadang tersenyum geli. Geli karena mengetahui permasalahan mereka berinsomnia sebenarnya hal-hal yang sepele saja. Geli karena mereka yang insomnia sebenarnya sudah tahu akar permasalahannya, tetapi mereka tetap terjebak. Geli karena saya (meski saya belum fix pengidap insomnia) dan mereka tidak berbeda jauh masalah-masalah yang kita hadapi.

Insomnia adalah gangguan tidur ketika seseorang berkali-kali sulit untuk tertidur atau telah tertidur tetapi tidak bisa mempertahankan dirinya tetap tertidur. Dikutip dari tulisan wolipop, ada delapan hal yang membuat seseorang susah tidur: 1) Berolahraga sebelum tidur, 2) tidur siang, 3) khawatir akan kualitas tidur, 4) minum minuman beralkohol, 5) pencahayaan kamar kurang gelap, 6) tubuh masih mengandung kafein, 7) mengkonsumsi protein sebelum tidur, dan 8) kamar berantakan. Susah tidur memang tidak lantas membuat seseorang insomnia. Orang dikatakan insomnia bila ia mengalami masalah susah tidur dalam kurun waktu 3-4 minggu.

Jadi kedelapan penyebab yang telah disebutkan tadi, bila terjadi berulang-ulang terus, jangan kaget kalau Anda nanti jadi insomnia. Hehe. Saya sendiri pernah berkali-kali mengalami susah tidur dan penyebab-penyebabnya ada yang sesuai dengan delapan penyebab tadi. Persoalan susah tidur atau insomnia sebenarnya tidak hanya masalah gaya hidup yang tidak benar atau lingkungan yang tidak nyaman, tetapi juga mencakup masalah pikiran.

Kalau saya flashback, pas kecil (masa SD), saya jam delapan malam bisa langsung tertidur tanpa terbangun. Sekarang boro-boro jam delapan bisa tidur. Hehe. Saat orang sudah beranjak remaja, jam tidur orang akan bergeser. Masalah hormonal. Tetapi bukan itu juga sih. Kehidupan remaja lalu dewasa semakin complicated dan orang menjadi susah tidur, karena... karena memikirkan beragam masalah. Konyolnya, masalah yang dipikirkan bukan cuman masalah yang belum selesai, tetapi juga mencakup masalah yang sudah selesai atau masalah yang akan datang (masalah yang belum ada, tetapi diada-adain sendiri).

Saya sendiri pernah beberapa kali kejadian baru tidur jam empat pagi atau lima pagi. Padahal dari jam dua belas atau satu malam sudah beranjak ke tempat tidur. Pikiran ini sibuk ke sana ke mari. Yang sering saya pikirkan adalah masalah masa depan (mau jadi apa? membayangkan akan jadi apa kelak?), masalah jodoh (ehm), masalah masa lalu (meminjam istilah Raisa, "Terjebak Nostalgia"), atau imajinasi-imajinasi yang kurang penting (saya ini calon penulis, terkadang suka memikirkan skenario yang aneh-aneh). Masalah insomnia  susah tidur saya pun sampai menginspirasi saya membuat cerita pendek berjudul Jakarta Insomnia (nanti perlu posting-an tersendiri kali ya).

Saya pernah mendengar nasihat bijak mengatakan, "Jangan membawa masalah Anda ke tempat tidur, kecuali Anda bisa menyelesaikannya di tempat tidur." Itu benar juga sih. Tidur adalah saatnya tidur. Pemulihan raga dan jiwa. Tetapi dasar manusia dewasa. Waktu tidur malah dipakai untuk memikirkan masalah. Yang lebih aneh lagi adalah memikirkan bagaimana nantinya bisa tidur, padahal bukankah dulu sewaktu kecil kita sudah sering kali tidur nyenyak?

Jadi merindukan betapa indahnya masa kecil, saat masalah tidak serumit masa dewasa sekarang, yang mana tidur menjadi aktivitas yang menyenangkan. Sebenarnya setiap masalah selalu ada pemecahannya. Hanya saja, jangan terlalu serius memikirkan semuanya sekaligus. Selesaikan satu per satu. Lagipula, tidak semua kenyataan yang kita hadapi sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Jadi, terkadang bersikap santai tiada salahnya.

Khusus untuk masalah yang sudah selesai (masa lalu), biarkan saja. Let it go. Dipikirkan sekeras apa pun, sudah tidak bisa direvisi lagi.

Nah sekarang saya mau share sebuah video tentang insomnia, yang kalau lagunya Anda suka, bisa jadi semakin insomnia, hehehe.


Feels like insomnia, aaahhh

17 Agustus 2013

Kenangan HUT Kemerdekaan RI

Dirgahayu HUT RI ke-68!

sumber gambar: stupidmonkey.web.id

sumber gambar: kaskus.co.id

Setelah membaca blog baru teman saya ini, saya jadi ikutan pengen cerita seputar perayaan kemerdekaan RI di masa kecil saya. Hehe. Namanya perayaan kemerdekaan selalu dimeriahkan dengan namanya perlombaan. Balap karung, tarik tambang, makan kerupuk, lari membawa kelereng, lari dengan sepatu bakiak dan macam-macam lomba lainnya yang kayaknya cuman ada di Indonesia. Sekolah-sekolah dan lingkungan sekitar rumah tidak akan melewatkan berbagai macam perlombaan selain tentunya diawali dengan upacara bendera. Lagu bertemakan kemerdekaan pun sering dikumandangkan, seperti lagu Bendera, lagu Kebyar-Kebyar, Hari Merdeka, dan sebagainya.

Seingat saya semasa saya sekolah, saya jarang ikut lomba. Soalnya lombanya kan tidak banyak. Jadi tidak semua anak bisa berpartisipasi ikutan lomba. Saya jarang sekali terpilih mewakili lomba. Haha. Tetapi wajar sih, saya sendiri anaknya tidak tangkas. Percayalah saya bukan langganan menang lomba.

Namun, tidak berarti saya tidak pernah ikutan lomba. Setidaknya ada satu perlombaan kemerdekaan RI yang saya ikuti dan saya ingat pasti. Itu adalah waktu kelas 3 SMP. Saya bisa ingat karena ada foto-fotonya di buku kenangan SMP. Haha. Saya ikut tiga lomba sekaligus.

Pertama lomba balap karung. Saya bisa terpilih mewakili lomba balap karung karena disuruh guru saya. Karena katanya kaki saya yang panjang sehingga loncatnya bisa jauh. Sayang sekali beliau salah. Yang menang justru yang kakinya pendek. Kenapa saya kalah? Karena di tengah jalan saya terjatuh, terpleset. Beneran lho, gak gampang lompat dengan karung. Kedua kaki harus lompat berbarengan. Kalau enggak ya itu, jadinya jatuh. Waktu kelas 2 SMP saya juga pernah ikutan lomba balap karung. Jadinya dua kali saya ikut lomba balap karung. Saya kembali kalah karena lagi-lagi terjatuh. Teman-teman saya sepertinya tidak ambil pusing dengan kekalahan saya, karena mereka sepertinya menikmati saat saya terjatuh. Maka sejak saat itu, saya memilih untuk tidak pernah lagi ikut lomba balap karung. Alasannya, pertama: saya ogah jatuh dan ditertawakan. Kedua: Lebih baik serahkan kepada ahlinya (yang lebih ahli melompat dengan karung).

Kedua lomba make up. Pesertanya berpasangan dan saling merias wajah satu sama lain. Jadilah muka saya diberi lipstik dan bedak. Yang menang bukan yang tercantik, tetapi yang terjelek. Haha. Saya tidak menang. Berarti saya tidak jelek. Haha.

Ketiga adalah lomba futsal komedi. Ya saya mesti tambahkan kata komedi, karena ini futsal gak serius. Bolanya bukan pakai bola kaki, tetapi pakai bola pingpong atau bola apa, saya gak ingat pasti. Pokoknya bolanya kecil sekali. Lalu, penampilan kita harus kacau. Tim kelas saya pakai sarung. Tetapi masih mendinglah, tim lawan kami lebih berani. Pakai rok. Bahkan ada yang memakai dua buah balon di dada (errr.. dimaksudkan membuat dada seperti wanita). Lalu di tengah pertandingan, muncullah lagu dangdut dan kedua tim harus bergoyang. Kacau habis kan?

Tim futsal komedi bukan untuk laki-laki saja. Perempuan juga ada. Yang perempuan ada yang berdandan memakai jilbab, ada yang memakai kaca mata hitam. Aneh-aneh lah pokoknya.

Di lomba ketiga, saya sudah menargetkan untuk kalah. Teman-teman saya juga tampaknya berpikiran hal yang sama. Lah, temen-teman saya juga gak antusias mainnya. Sementara lawan kami, sangat pede dalam bergoyang, berdandan, dan mengejar bola. Jadinya tidak ada satu pun dari ketiga lomba tersebut yang saya menangi.

Naik kelas SMA, saya pernah ikut lomba makan kerupuk. Tetapi ya itu tidak menang juga. Hahaha.

Selain lomba-lomba, ada upacara bendera. Zaman saya TK sampai SMP, upacara bendera setiap Senin pagi. Selain berdiri menghadap bendera, saya sudah pernah ikut dalam tim paduan suara dan menjadi petugas upacara. Anak-anak paling tidak suka jadi paduan suara karena harus bernyanyi selain mendapat latihan khusus bernyanyi di lapangan. Kalau nyanyiannya kurang keras, pasti kena omel. Udah dijemur, bernyanyi, lalu kena omel. Gak enaknya berkali-kali lipat.

Jadi petugas upacara paling enak lah. Saya sering terpilih jadi pemegang protokol. Tugas saya adalah memberitakan jalannya upacara. Posisi saya terbilang enak karena berdiri di tempat yang tidak kena panas (teduh). Selain itu, bubarnya lebih dulu dari barisan yang lain. Dan jarang kena omel. Benaran lho, waktu di zaman saya SD dan SMP (sekolah yang sama), barisan yang kurang tertib suka diomeli dan mendapat nada-nada kurang mengenakkan.

Beranjak ke SMA. Sekolah baru. Upacaranya tidak selalu setiap minggu. Kalau di sini, saya cuman jadi peserta upacara yang baik saja.

Memasuki kuliah, tidak ada lagi yang namanya upacara bendera dan lomba kemerdekaan RI. Hari kemerdekaan RI sewaktu di masa sekolah adalah kenangan masa kecil tersendiri ya. Apalagi pas menang lomba, ada kebanggaan tersendiri biarpun hadiahnya kadang cuman biskuit. Kebanggaannya gak hanya masalah individual (yang menang lomba), tetapi membawa nama kelas juga kan. Jadi, kelas yang banyak menang lomba biasanya menjadi sombong.

Nah, kalian pernah ikut lomba atau mungkin menang lomba apa saja?